20 Des 2020

Jika membaca buku berjudul Siapa yang Datang ke Pemakamanku Saat Aku Mati Nanti?, buku ini terkesan menyeramkan bukan? Tapi buat saya, isi buku ini tidak semenyeramkan judul bukunya. Buku ini merupakan buku self-improvement karya penulis asal Korea bernama Kim Sang-Hyun. Selain penulis, ia juga seorang pemilik kedai kopi bernama Gongmyeong Cafe dan penerbit buku independen bernama Feelm.

Kim Sang-Hyun sendiri telah menerbitkan lima buah buku, namun buku dengan judul asli If I Die Who Will Comes To My Funeral ini adalah buku pertama yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh Penerbit Haru. 

Jika kamu penasaran dengan isi buku ini, simak review buku Siapa yang Datang ke Pemakamanku Saat Aku Mati Nanti? di bawah ini, ya!

Buku Siapa yang Datang ke Pemakamanku Saat Aku Mati Nanti? tentang apa, sih?

Buku bersampul minimalis yang dominan putih ini berisi tentang potongan kisah hidup penulis dan perenungannya akan berbagai aspek kehidupan. Buku Siapa yang Datang ke Pemakamanku Saat Aku Mati Nanti? karya Kim Sang-Hyun ini memiliki empat bab sebagai berikut:

  • Bab 1: Kesalahan
  • Bab 2: Hati yang Hilang
  • Bab 3: Sejarah
  • Bab 4: Semoga itu Kebahagiaan

Dari masing-masing bab tersebut, setiap babnya memiliki sub-bab lagi. Hal tersebut memudahkan pembaca untuk bisa menentukan topik mana saja yang ingin dibaca lebih dulu. Kalau saya pribadi membaca buku ini secara urut dari halaman awal ke belakang.

Baca Juga: Review Buku: Tak Mungkin Membuat Semua Orang Senang

Menurut penulis dalam bagian kesan penulis, buku ini sendiri memiliki tiga pesan yang ingin disampaikan kepada pembaca. Pesan pertama adalah harapan agar kita bahagia. Pesan kedua, harapan untuk menjadi orang baik agar dapat dikelilingi oleh orang-orang baik. Kemudian pesan terakhir adalah bahwa pada akhirnya kita semua hanyalah manusia biasa.

Dari tiga pesan tersebut, saya bisa merasakan pesan-pesan tersebut ada dalam setiap bab di buku ini. Terutama pesan terakhir tentang "kita hanyalah manusia biasa", membuat saya merasa apa yang saya rasakan selama ini tentang aspek tertentu adalah sesuatu yang normal sebagai seorang manusia biasa. Hal tersebut membuat buku ini seperti memanusiakan pembacanya untuk merasakan perasaan-perasaan tertentu.

Apa yang saya suka dari buku ini?

Untuk ukuran buku terjemahan, buat saya terjemahan di buku ini cukup bagus dan mudah dibaca. Saya sendiri tidak merasa kesulitan atau terganggu saat membacanya. Tulisan dalam buku ini juga sangat mengalir hingga membuat saya merasa tenang dan hangat selama proses membacanya. 

Buku setebal 164 halaman ini mampu saya baca dalam waktu singkat. Jika kamu terbiasa membaca cepat sebuah buku, mungkin kamu bisa menyelesaikan buku ini dalam sekali duduk atau beberapa jam saja.

Tapi saran saya, sebaiknya baca buku ini pelan-pelan. Mengapa demikian? Supaya kamu bisa ikut merenungkan setiap kalimat yang ada. Meski buku ini tidak begitu spesial buat saya, tapi buku ini cukup bagus untuk dibaca dan dijadikan bahan perenungan saat malam sebelum tidur atau bacaan di pagi hari sebelum mulai beraktivitas. 

Saya sangat menyukai gaya bahasa penulis yang cukup mengalir. Ketika membaca buku ini, saya seperti sedang mendengar seorang teman bercerita di hadapan saya tentang masalah hidup yang dia rasakan. Kemudian dari cerita-cerita tersebut, saya ikut menyimak dan merenungkannya juga. Walau tidak semua cerita di buku ini relate dengan saya. Namun, saya cukup menikmati cerita-cerita di buku ini.

Apalagi jika ada bagian yang sesuai dengan yang sedang atau pernah saya rasakan, saya seolah bisa mengiyakan pernyataan penulis tanpa merasa sedang digurui atau diceramahi. 

Apa bagian favorit di buku ini?

Di antara empat bab dan sub-bab yang ada di buku ini, tidak semua bagian relate dengan saya sebagai pembaca. Hanya beberapa bagian dalam buku ini yang pas dan mengena di hati saya. Bagian-bagian tersebutlah yang kemudian menjadi bab favorit saya dalam buku ini. 

Berikut ini kutipan-kutipan yang ngena di hati saya dan menjadi bagian favorit saya di buku ini:

"Aku harap kamu mengingat ini baik-baik: bahwa ada orang yang mencintaimu. Kamu adalah kebanggaan dan pelipur lara bagi seseorang. Percayalah bahwa semuanya akan baik-baik saja, dan aku harap kamu tidak lagi terluka karena ucapan sembarangan orang lain. Aku ingin kamu bisa terus bertemu hal baru, menemukan warna hidupmu sendiri, tanpa membandingkan diri dengan orang lain. Aku harap, kamu tidak menyesal membuka hati untuk orang-orang baru." (Kadang, Kita Butuh Kata-kata Ini)

"Aku hanya ingin menjadi orang baik. Aku ingin menjadi diriku." (Kebaikan yang Disepelekan)

"Lakukanlah apa yang ingin kau lakukan: mengejar mimpimu, merasakan cinta, juga melakukan hobi yang membuat kita bertahan melalui hari-hari yang sulit." (Kecemasan)

"Memberi dan menerima perasaan pada akhirnya adalah tentang memikirkan, berempati, dan memahami orang lain." (Memberi dan Menerima)

"Aku ingin hidup tanpa menyesali pilihanku yang salah. Aku percaya ada alasan untuk itu. Sesederhana itu. Karena memang tidak semuanya bisa berjalan sesuai rencana. Semuanya terjadi begitu saja. Sampai kapan pun, kehidupan ini tidak akan pernah sejalan dengan apa yang kita pikirkan, juga tidak sesuai dengan rencana yang sudah kita persiapkan." (Alasan untuk Itu)

 "Semua fakta dan kebohongan yang ada di sekelilingmu itu tidaklah penting, karena pada dasarnya, manusia hanya bisa melihat apa yang ingin mereka lihat. Jadi, kuharap kamu tidak menyerah pada pandangan miring orang lain. Jika kamu tidak bisa menunjukkan sosok terbaik dirimu kepada semua orang, jangan jadikan itu beban pikiran." (Apa pun Kata Orang, Aku Harus Hidup sebagai Diriku Sendiri)

"Aku tidak ingin melukai orang-orang yang selalu mendukungku. Aku ingin jadi lebih kuat, agar bisa membantu mereka bertahan hidup. Aku juga tidak akan meragukan diriku sendiri sampai akhir hidupku. Aku ingin percaya pada apa yang kulakukan dan yang akan kulakukan. Aku ingin terus yakin bahwa pada akhirnya yang akan selalu berpihak padaku adalah diriku sendiri. Aku ingin hidup seperti itu." (Kehidupan yang Kuinginkan)

Bagaimana kutipan-kutipan di atas menurutmu? 

Membaca buku ini membuat perasaan saya tenang karena ada kalanya saya merasa tidak cukup baik untuk orang lain, tidak pantas dicintai, dan pikiran-pikiran buruk lainnya tentang diri sendiri. Namun, buku ini mampu menyadarkan kembali bahwa pikiran-pikiran itu keliru. Apa yang saya cemaskan, takutkan, atau khawatirkan tidaklah benar-benar. 

Saya masih tetap bisa menjadi diri saya sendiri tanpa harus memikirkan omongan orang yang belum tentu benar tentang saya. Buku ini juga mengingatkan saya bahwa masih ada orang-orang yang peduli dan mencintai saya dengan tulus, meski saya pernah melakukan kesalahan terhadap mereka. 

Apakah kamu tertarik untuk membaca buku ini? Kalau kamu sudah membaca buku ini juga, apa sih hal yang kamu suka atau bagaimana pendapatmu? Tulis di kolom komentar di bawah ini, ya!

Senja and Books . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates