Ini Alasan Saya Memilih Gaya Hidup Minimalis


Semakin banyak barang, semakin banyak kebahagiaan yang bisa kita rasakan. Tapi, apakah benar seperti itu?

Selama ini mungkin kita selalu beranggapan bahwa dengan memiliki banyak barang bisa bikin hidup kita jadi lebih bahagia. Padahal enggak juga, setidaknya itu yang saya rasakan setelah mengenal konsep hidup minimalis. 

Sebelumnya, apa itu konsep hidup minimalis?

Saya mengenal konsep hidup minimalis sendiri bermula dari buku berjudul Seni Hidup Minimalis karya Francine Jay dan buku Goodbye, Things karya Fumio Sasaki yang saya baca di tahun 2018 lalu. Dua buku itu mengubah banyak hal dalam hidup saya, termasuk cara pandang saya dalam menilai barang. 

Jadi, konsep hidup miniamlis ini sendiri menawarkan kita untuk memiliki sedikit barang dan hanya menyimpan barang-barang yang dianggap berharga dan penting sehingga bisa memenuhi kebutuhan hidup kita.

Dari situ lah, akhirnya saya tertarik untuk menerapkan konsep hidup minimalis ini. Selain itu juga, saya melihat banyaknya manfaat yang bisa didapat dari hidup minimalis dan manfaat itu juga bisa langsung kita rasakan sendiri. Lalu, saya pun akhirnya mulai mencoba, meski di awal sempat merasa berat karena tentu saja berpisah dari barang-barang yang saya punya saat itu tidak lah mudah, apalagi buku. 

Akhirnya, saya coba pelan-pelan belajar untuk minimalis dengan mengurangi beberapa barang yang saya punya, dimulai dari buku. Sebelum memutuskan untuk menerapkan hidup minimalis, dulunya saya pernah punya sekitar 500 buku. Saya juga sempat nggak menyangka, bisa mengumpulkan buku sebanyak itu. Meski di luar sana, tentu ada yang punya banyak buku lebih dari yang saya miliki. Tapi, buat saya 500 buku itu merupakan jumlah yang besar. 

Kenapa dulu saya senang membeli dan menimbun buku?

Awalnya saya membeli buku karena saya suka baca dan belum lengkap rasanya kalau saya nggak bisa mempunyai buku yang saya baca, dan ingin suatu saat bisa punya perpustakaan pribadi di rumah. Selain itu, saya selalu merasa bahagia setiap punya buku-buku baru, tapi kebahagiaan itu hanya saya rasakan di awal, sehingga saya selalu menginginkan buku baru agar bisa merasakan kebahagiaan itu lagi, meski saya sudah punya banyak buku. 

Bahkan, sebagian besar dari buku-buku itu pun belum saya baca. Tapi, perasaan bahagia memiliki buku baru yang saya rasakan di awal itu justru bikin saya kecanduan dan membuat saya kadang melupakan kenyataan bahwa saya masih punya banyak buku yang belum saya baca. 

Saya sadar sekarang, kebahagiaan itu hanya mampu bertahan sesaat dan jika hal itu terus saya lakukan, yang ada malah membuat saya semakin merasa bersalah. Kok bisa?

Jadi, setelah merasakan bahagia bisa punya buku baru, yang di awal saya rasakan itu perlahan-lahan mulai meredup dan digantikan dengan perasaan bersalah karena saya kemudian sadar dengan tumpukan buku yang semakin meninggi. Saya seperti punya tanggung jawab dan beban moral terhadap buku-buku itu. Kalau saya tidak membacanya atau tidak menjaga dengan baik, saya punya perasaan bersalah dan cemas yang berlebih. 

Kenapa hal itu bisa terjadi?

Saat itu, saya menganggap buku-buku itu bukan sekadar buku, tapi sudah saya anggap seperti teman saya sendiri. Makanya, saya sangat hati-hati dalam menjaga buku-buku yang saya punya. Saya nggak mau mereka (baca: buku-buku) itu rusak atau menguning. Makanya, dulu saya sangat rajin menyampul setiap buku saya dengan sampul plastik bening untuk memperkecil risiko kerusakannya. Saya juga rajin membersihkan buku-buku saya dari debu.

Di awal saya memang merasa senang melakukan semua itu, tapi semakin saya memiliki banyak buku karena seringnya membeli buku baru, beban saya pun semakin bertambah juga karena saya perlu menjaganya. Selain itu, banyak waktu, biaya, dan energi yang saya gunakan untuk merawat buku-buku itu. 

Waktu dan energi yang seharusnya saya bisa gunakan untuk melakukan aktivitas lain yang lebih penting, malah saya pakai untuk memikirkan berbagai cara supaya bisa menjaga dan merawat buku itu agar tetap baik-baik saja atau tidak cepat menguning. Saat itu, saya juga nggak suka melihat kalau ada buku saya yang pinggirannya menguning. 

Sampai suatu ketika, saya akhirnya menemukan cara agar bisa menghilangkan noda-noda kuning yang ada di buku yaitu, dengan mengamplas buku itu. Cara ini sendiri sebetulnya saya dapatkan dari penjual buku bekas di Blok M. 

Kebetulan dulu saya senang main ke sana, saking seringnya saya jadi punya beberapa kenalan penjual buku dan dari mereka saya belajar merawat buku. Beberapa penjual buku di sana suka mengamplas buku-buku mereka sehingga hal ini bisa membuat buku terlihat seperti baru. Selain itu, cara ini dilakukan agar bisa mempengaruhi harga jual buku jadi lebih tinggi. 

Setelah mereka menyulap buku itu dengan mengamplasnya, kemudian buku-buku itu disampul dengan plastik bening agar tidak kembali menguning. Dari penjual buku itu, saya mendapatkan ilmu untuk bisa mengatasi permasalahan penggiran buku yang menguning. Kemudian, saya melakukan ini pada buku-buku saya yang pinggirnya mulai menguning. Tapi, untuk melakukan ini tentu saja perlu hati-hati karena kalau terlalu kasar malah membuat buku kita sobek dan rusak. 

Saya membayangkan, jika saja saya masih melakukan semua hal itu sekarang. Tentu sangat melelahkan dan akan sangat menghabiskan banyak waktu dan energi saya, yang seharusnya bisa dipakai untuk melakukan hal lain. Belum lagi biaya untuk membeli rak buku, sampul plastik, dan lainnya juga perlu dipikirkan.

Jadi, banyak barang nggak selamanya bisa bikin kita bahagia dan malah membuat kita terikat dengan barang-barang itu. Saya nggak mau hal itu terjadi. Untuk itu, akhirnya saya memutuskan untuk menerapkan gaya hidup minimalis ini. 

Sejauh ini, sudah banyak barang yang saya kurangi. Contohnya saja buku, yang di awal jumlahnya bisa mencapai 500 buku. Sekarang sudah berkurang setengahnya. Mungkin, jumlahnya memang masih banyak. Tapi, saya mau mengurangi dan menerapkan gaya hidup minimalis ini pelan-pelan dan bertahap. Semua itu butuh proses dan tidak bisa dilakukan dalam sekejap mata.

Itu sedikit cerita pengalaman saya kenapa memilih hidup minimalis. Kalau kamu sendiri, kira-kira tertarik untuk mencoba memulai gaya hidup minimalis ini?

Komentar

  1. Halo Septi. Saya salah satu orang yang kena pengaruh kamu buat cari tau tentang minimalis. Dan saat ini udah banyak bareng yang saya pilah dan donasikan, karena memang ga banyak lagi pengaruhnya buat saya.

    Saya juga termasuk kolektor buku dan komik, sampai butuh 3 lemari sendiri buat nyimpan semuanya. Dari dulu saya punya pemikiran begini, "Gimana kalau Bengkulu (amit-amit) kena Tsunami. Apa yang harus kulakukan untuk nyelamatin koleksiku yang bejibun ini." Makin lama dipikir makin ga ketemu jawabannya, karena impossible juga sih nyelamatin dalam keadaan begitu. Aku sayang sama buku, tapi kekhawatiran tersebut bikin aku nggak nyaman. Tau tentang minimalis membantu banget, setidaknya sekarang aku sudah mempersedikit koleksi buku, hanya menyimpan yang mana aku betul2 suka.

    Semoga kedepannya aku bisa menerapkan minimalisme lebih jauh lagi, hehe

    BalasHapus
  2. Terimakasih info dan artikelnya, sangat bermanfaat sekali. Ditunggu artikel menarik selanjutnya, kunjungi juga website kami http://mapraport-ijazah-agenda.com/ sukses selalu :)

    BalasHapus
  3. Bagusan mana ya buku nya?

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Novel Si Bungsu “Amelia” karya Tere Liye

Tentang Kamu, Novel Biografi Sri Ningsih karya Tere Liye

7 Hal yang Bisa Kamu Renungkan dari Buku "Jika Kita Tak Pernah Jatuh Cinta"