7 Hal yang Bisa Kamu Renungkan dari Buku "Jika Kita Tak Pernah Jatuh Cinta"


Apa yang terjadi, jika kita tak pernah jatuh cinta?

Akankah kita bahagia hanya karena kita masih memilih sendiri?

Padahal banyak orang di sekitar kita sudah berpasangan. Apalagi melihat foto-foto di media sosial atau pergi ke suatu tempat, kita bisa melihat mereka tampak bahagia bersama pasangannya. Sementara kita masih berteman dengan kesendirian.

Tapi, apakah salah jika kita masih memilih sendiri?

Lagi pula, apakah cinta hanya sebatas memiliki pasangan. Lalu, menghabiskan malam minggu bersama, ke mana-mana selalu berdua, dan hari-hari kita selalu dipenuhi cerita bersama orang yang dicinta?

Apa itu yang namanya cinta?

Membaca buku terbaru karya Alvi Syahrin membuatku banyak merenung dan memikirkan kembali tentang makna cinta. Selama ini, mungkin kita sering mengira bahwa cinta hanyalah tentang kebahagiaan kita bersama orang yang juga mencintai kita atau tentang orang yang kita cintai saja. Padahal cinta tidak sebatas pada itu semua.

Sebelum masuk ke pembahasan di buku ini, aku mau ucapkan, "Terimakasih telah menuliskan ini!"

Nah, berikut tujuh hal yang bisa kamu renungkan tentang makna cinta dari buku Jika Kita Tak Pernah Jatuh Cinta karya Alvi Syahrin ini.

1. Mencintai diri sendiri


Saat jatuh cinta, dalam pikiran dan hati kita biasanya selalu dipenuhi segala hal tentang dirinya. Sampai-sampai kita suka lupa dan mengabaikan diri kita sendiri. Padahal cinta tak terbatas hanya tentang orang yang kita cinta saja, tapi juga tentang diri kita.

Di buku ini, penulis banyak menyampaikan pesan melalui cerita-cerita tentang kehidupan cinta yang mungkin pernah dirasakan hampir setiap orang ketika mereka jatuh cinta. Lewat buku ini, secara tidak langsung, kita seolah bisa belajar bahwa mencintai diri sendiri itu perlu, bahkan sebelum kita mencintai orang lain. Mengapa mencintai diri sendiri itu penting? Karena, jika kita tidak mampu mencintai diri kita sendiri, bagaimana kita bisa mencintai orang lain?

"Jika kamu saja tidak bisa mencintai diri sendiri, bagaimana orang lain bisa jatuh cinta kepada dirimu? Hidup terlalu singkat untuk meratapi kekurangan. Fokuslah pada kelebihan dan rangkul dirimu secara utuh." (Hlm. 34)

2. Cinta bukan tujuan


Orang yang jatuh cinta atau terjebak pada hal yang dianggap "cinta" sering menjadikan cinta sebagai tujuan hidupnya. Hal ini bisa terlihat ketika seseorang jatuh cinta, mereka rela melakukan segala hal demi mempertahankan sesuatu yang dianggap cinta, meski hal itu membuatnya jatuh dan terluka atau membawanya pada jurang musibah.

"Kita tidak hidup karena cinta. Kita tidak hidup untuk mencari pasangan. 

Ada misi yang lebih besar dari itu. 

Sebab jika cinta adalah tujuan hidup kita, bagaimana dengan pasangan-pasangan yang berakhir cerai, pasangan-pasangan yang ditinggal mati, lalu memutuskan hidup sendiri seumur hidupnya? Bukankah itu tanda besar bahwa cinta bukanlah tujuan hidup ini?" (Hlm. 116)

3. Jangan pernah berharap pada manusia


Sebagai manusia, kita kadang suka menggantungkan kebahagiaan kita, hidup kita, atau masa depan kepada manusia atau orang yang kita cintai. Padahal hal itu hanya bisa membuat kita patah hati, apalagi jika sosok yang kita harapkan itu pergi. Entah karena perpisahan atau pergi selama-lamanya dan tak pernah kembali. 

"Kehidupanmu; kebahagiaanmu; masa depanmu; semua tentangnya

Sampai-sampai kau kehilangan dirimu sendiri.

Mungkin ini teguran paling indah bagimu. 

Agar kau tak lagi menggantungkan harapanmu kepada manusia.

Agar kau menemukan sumber kebahagiaan yang lebih tepat. 

Sebab lihatlah, saat perasaannya berubah, hidupmu berguncang hebat. 

Dan bayangkan, jika kehidupanmu, kebahagiaanmu, dan masa depanmu hanya ada padanya...

... bagaimana bila maut menjemputnya?" (Hlm. 144)

4. Jangan memaksakan diri soal jodoh



Kita mungkin sering berpikir dan mengira-ngira, orang yang dekat dengan kita saat ini atau pacar kita adalah jodoh kita. Berbagai cara dilakukan agar orang itu menjadi jodoh kita. Padahal jodoh itu sudah diatur oleh Tuhan Yang Maha Tahu. Tuhan tentu sudah tahu, orang yang terbaik untuk kita.

Maka dari itu, tak perlu kita memaksakan diri agar dia menjadi jodoh kita karena jika Tuhan tidak mengizinkan kita bersamanya, sekeras apa pun usaha kita, maka dia tidak akan pernah menjadi jodoh kita.

"Jika dia bukan jodohmu , meskipun jutaan liter air mata kau curahkan untuknya, dia tetap tidak akan menjadi jodohmu. 

Jika dia bukan jodohmu, meskipun kau berharap sekuat apa pun, dia tetap tidak akan menjadi jodohmu.

Jika dia bukan jodohmu, meskipun kau mengusahakan berbagai cara untuk bersamanya, dia tetap tidak akan menjadi jodohmu.

Jika dia bukan jodohmu, meskipun kau mempertahankannya bertahun-tahun, dia tetap tidak akan menjadi jodohmu.

Dan, tak perlulah kau berpikir mencari orang baru untuk mengisi kekosongan hatimu. 

Kaulah yang harus mengisi hatimu.

Bukan orang lain." (Hlm. 154-155)

5. Jangan jadikan cinta sebagai agama


"Jangan sampai cinta menjadi agamamu. Jangan sampai dia menjadi tempatmu bertumpu. Jangan sampai hidupmu hanya untuk cinta dan dirinya. Sedetik setelah kematianmu, dia sudah tidak bisa membantumu." (Hlm.175)

Selain jangan menjadikan cinta sebagai tujuan, kita juga jangan pernah menjadikan cinta sebagai agama kita yang membuat kita tunduk dan patuh pada cinta. Lagipula, hidup ini bukan tentang cinta dan orang yang kita cintai saja. Masih banyak hal yang perlu kita pikirkan selain cinta.

6. Mencintai sewajarnya


Mencintai secukupnya, jangan terlalu berlebihan. Apalagi hidup hanya sementara. Keberadaan kita sebagai manusia di dunia itu sesaat. Untuk itu, tak perlu kita berlebihan dalam segala hal, termasuk urusan cinta dan mencintai orang lain karena ketika orang itu pergi, yang tersisa hanya rasa kecewa dan penyesalan.

"Jangan tergila-gila dalam mencintai. Jangan tergila-gila dalam membenci. Jangan tergila-gila dalam mengagumi. Jangan tergila-gila pada apa pun di dunia ini. Dunia fana." (Hlm. 210)

7. Kesendirian bukan sesuatu yang buruk


Melihat banyak teman sesusia kita sudah memiliki kekasih, sementara melihat diri sendiri masih saja sendiri. Belum ada sosok yang bisa membuat hati luluh, bukan berarti kita tak berhak bahagia dan terlihat buruk. Lagi pula, nggak ada yang salah dengan kesendirian karena dengan kesendirian yang kita miliki saat ini, banyak yang bisa kita lakukan. Salah satunya adalah mengenal diri kita lebih jauh. Kita juga perlu ingat, bahwa ketika kita lahir sampai nanti ajal menjemput kita, kita akan sendirian. Tidak ada yang akan menemani kita, bahkan saat kita terbujur kaku di liang lahat.

"Kesendirian membuatku merenung lebih dalam, lebih jauh. Kesendirian membuatku mengenal diriku. Kesendirian menyadarkanku bahwa segala sesuatu di dunia ini memiliki kelebihan dan kekurangan, termasuk kesendirian dan kebersamaan. Kesendirian menolongku dalam menemukan diriku sendiri. Kesendirian membangunkanku agar tak lagi bergantung kepada manusia karena manusia tak pernah bertahan lama. Kesendirian membuka mataku bahwa, pada dasarnya kita akan selalu sendiri; lahir sendiri, berjuang menyelesaikan masalah sendiri, mati sendiri, dibangkitkan sendiri dengan amalan masing-masing." (Hlm. 219)

Kira-kira itu tujuh hal yang bisa kita renungkan kembali, yang bisa kita dapat ketika membaca buku "Jika Kita Tak Pernah Jatuh Cinta" ini. Apakah kamu tertarik membacanya juga? Dan, menurut kamu apa itu cinta?


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Novel Si Bungsu “Amelia” karya Tere Liye

Tentang Kamu, Novel Biografi Sri Ningsih karya Tere Liye