Menjadi Minimalis: Peran Barang Terhadap Kualitas Diri


Pada dasarnya manusia adalah makhluk minimalis. Saat kita terlahir ke dunia. Kita tidak membawa apa-apa. Tapi, mengapa saat kita tumbuh dan beranjak dewasa, kita malah semakin sering membeli dan mengumpulkan begitu banyak barang, yang bahkan sebetulnya bukan barang yang kita butuhkan?

Karena manusia itu sebenarnya ingin memperlihatkan seberapa berharga diri mereka kepada orang lain, melalui benda. Kita ingin menyampaikan kepada orang lain bahwa kita itu punya nilai. Hal itu, tentu merupakan sesuatu yang wajar sebenarnya. Tapi, permasalahannya yaitu, terletak pada cara kita memperlihatkan nilai itu.

Setiap orang tentu memiliki kualitas diri yang berbeda-beda. Sebagian langsung terlihat dari penampilan fisiknya. Ada yang cantik, tampan, punya bentuk tubuh yang bagus, dan lainnya yang bisa dinilai oleh orang lain karena semua orang bisa mengerti "pesan" yang disampaikan dari penampilan fisik hanya dengan sekali melihatnya. Tapi, seberapa pun kerasanya usaha kita untuk mengubah tampilan fisik, tetap saja ada batasannya.

Selain ciri fisik, kita juga memiliki kualitas dalam diri kita. Ada orang yang baik, cerdas, pemberani, dan lainnya. Tapi, sayangnya kualitas diri itu sulit untuk diperlihatkan kepada orang lain. Orang yang kelihatannya baik mungkin ternyata tidak terlalu bisa diandalkan di situasi darurat. Ia yang kesannya cerdas dan menarik ternyata perhatiannya hanya terpusat pada diri sendiri. Dengan kata lain, nilai diri seseorang itu sebenarnya sulit untuk dilihat, kecuali kita memang benar-benar sering menghabiskan waktu dengan orang tersebut.

Karena kita tidak bisa menilai kualitas diri sesorang. Maka, di situlah barang-barang mulai memainkan perannya. Seseorang bisa menggunakan barang untuk memperlihatkan keperibadian dan nilai-nilai yang dianut. Misalnya orang yang berpenampilan kalem memperlihatkan karakter yang tenang dan lembut. Atau, orang yang senang membawa buku seperti aku, ingin memperlihatkan diri sebagai orang yang cerdas dan terpelajar. Hal seperti itu merupakan sesuatu yang wajar. Tapi, masalahnya timbul pada saat seseorang membeli barang hanya untuk memperlihatkan siapa kita.

Dari situlah, mulai muncul keinginan untuk membeli banyak barang karena barang dianggap sebagai hal yang dapat mengangkat citra diri seseorang. Tapi sayang, barang yang seharusnya merepresentasikan kualitas diri berubah menjadi diri kita sendiri. Yang kemudian, membuat kita mulai berpikir untuk mengumpulkan lebih banyak barang.

Setelah mengumpulkan banyak barang. Barang-barang tersebut justru malah membuat kita menghabiskan lebih banyak waktu dan energi untuk merawat dan mengelola semua barang yang sudah dibeli tersebut.

Padahal barang-barang ini sebetulnya tidak punya kekuatan apa-apa. Barang tak lebih dari benda mati. Barang bukan simbol diri. Barang hanyalah alat yang dapat kita pakai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Lalu, bagaimana agar bisa terlepas dari semua itu?

Untuk bisa terlepas dari barang-barang atau gaya hidup berlebihan, kita bisa memulainya dengan menjalani hidup minimalis. Apa itu minimalis?

Menurut Fumio Sasaki dalam bukunya yang berjudul Goodbye, Things. Minimalis adalah orang yang tahu persis hal-hal apa saja yang bersifat pokok bagi dirinya, dan mengurangi jumlah kepemilikan barang demi memberi ruang-ruang bagi hal-hal utama. 

Minimalis berarti orang yang bisa membedakan kebutuhan dan keinginan-keinginannya. Tidak takut mengurangi benda-bedan yang termasuk keinginan. 

Minimalis adalah upaya memangkas hal-hal yang tidak esensial agar kita bisa sepenuhnya menghargai hal-hal yang memang berharga bagi kita. 

Menjalani hidup sebagai minimalis tentu bukanlah hal yang mudah. Kita harus bisa melepaskan barang-barang yang kita punya dan hanya menyimpan barang yang kita butuhkan. Hal ini tentu saja, tidak bisa dilakukan dalam sehari semalam. Tapi, perlu melalui proses yang lama. 

Namun, di buku Goodbye, things ini, Fumio membagikan 55 cara agar kita bisa berpisah dari barang-barang kepemilikan. Kemudian, ada 15 tambahan lagi cara untuk masuk ke tahap selanjutnya dalam perjalanan menuju minimalisme.

Menurut aku, buku ini memberikan cara-cara yang ekstrim dibandingkan buku minimalis lainnya yang pernah aku baca seperti Seni Hidup Minimalis karya Francine Jay. Fumio Sasaki seolah tidak memberikan kesempatan kepada kita untuk menyimpan barang-barang yang ada. Hal ini sebenarnya tidak mengherankan karena di bagian awal Fumio bercerita mengenai barang-barang yang dia singkirkan. Dia tidak segan-segan membuang barang-barang tersebut, termasuk rak buku dan koleksi bukunya yang ditaksir harganya bisa mencapi 130 juta atau satu juta yen. Tapi, ia menjualnya seharga 20.000 yen atau sekitar 2,5 juta rupiah. Apa kalian berani melakukan hal seperti itu?

Selama membaca buku ini, aku juga terus memikirkan untuk menyingkirkan barang-barang yang aku miliki, salah satunya adalah buku. Sebetulnya, sebelum membaca buku ini pun, aku sudah banyak menyingkirkan koleksi buku-buku pribadiku. Yang awalnya ada sekitar 500 buku, kemudian menyisakan sekitar 200-an buku. Tapi, saat ini aku masih mau menyingkarkannya lagi dan hanya menyimpan beberapa buku yang dalam waktu dekat akan aku baca.

Mungkin dulu aku sempat berpikir bahwa memiliki banyak barang bisa membuat aku bahagia. Dalam hal ini, yang aku maksud adalah buku. Makanya, pada saat itu aku terus berpikiran untuk memiliki banyak buku seolah tidak pernah merasa cukup dan selalu saja tidak ada buku yang bisa dibaca karena terus menginginkan buku lain untuk dibaca. Tapi, setelah membelinya aku tidak lantas membacanya begitu saja dan pada akhirnya buku-buku itu kembali menjadi tumpukan buku yang menanti dibaca.

Jujur saja, hal ini makin lama membuat aku lelah dan terus merasa bersalah terhadap buku-buku tersebut. Seharusnya aku bisa membacanya, bukan malah menyimpan begitu saja hingga buku itu berdebu. Mungkin awalnya, memiliki buku-buku itu mampu membuatku merasa senang. Tapi, kesenangan mendapatkan buku itu hanya sesaat dan membuat aku ingin mendapatkan kesenangan lain dengan cara membeli buku lainnya.

Hal itu terus berlanjut. Tapi, semakin buku itu bertambah banyak, perasaan senang itu tergantikan dengan perasaan bersalah terhadap buku-buku itu. Aku merasa punya tanggung jawab lebih karena telah membelinya. Aku harus membaca buku-buku itu. Semua itu malah membuatku cemas dan stres. Apalagi ketika aku tidak bisa menjaga dan merawat buku itu dengan baik.

Sampai akhirnya, aku memutuskan untuk melepaskan buku-buku yang tidak dibaca itu. Entah itu disumbangkan, dijual, atau diberikan kepada teman. Ketika beberapa buku mulai berkurang, ada perasaan melegakan. Meski awalnya memang terasa sangat berat harus melepaskan buku-buku itu. Karena buku sangat berarti dan aku merasakan bagaimana proses untuk mendapatkan dan mengumpulkan buku-buku itu tidaklah mudah. Perlu menabung, tidak jajan ini-itu, mengurangi pembelian pakaian hanya untuk mendapatkan buku baru.

Tapi dibalik itu semua, ada banyak manfaat yang bisa didapatkan ketika kita bisa terlepas dari barang-barang tersebut.  Manfaat yang bisa kita dapat diantaranya yaitu, kita bisa lebih menikmati hidup, merdeka dari citra diri tertentu yang selama ini kita bangun, punya lebih banyak waktu, hemat dalam mengerjakan pekerjaan rumah, berhenti membandingkan diri kita dengan orang lain karena kita merasa cukup dengan apa yang kita miliki saat ini, lebih banyak bersyukur dengan apa yang kita punya, memiliki lebih banyak waktu dengan keluarga dan teman, bisa berkonsentrasi terhadap diri sendiri, dan masih banyak lagi manfaat yang bisa kita peroleh.

Hal ini juga diceritakan Fumio ketika memutuskan menjadi minimalis. Meski, aku baru memasuki tahap awal pada proses menjadi minimalis. Tapi, aku sudah bisa merasakan manfaat dari menyingkirkan beberapa barang yang aku punya. 

Komentar

  1. Wah,aku juga mau dong menyingkirkan buku yang sudah tidak kubaca tapi aku bingung mau diapakan bukunya, dijual tapi nggak laku-laku, mau disumbangkan bingung disumbangkan kemana dan akhirnya malah tetap numpuk gitu aja...

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Novel Si Bungsu “Amelia” karya Tere Liye

Tentang Kamu, Novel Biografi Sri Ningsih karya Tere Liye

7 Hal yang Bisa Kamu Renungkan dari Buku "Jika Kita Tak Pernah Jatuh Cinta"