Hidup Tanpa Target, Apa Nggak Masalah?



Hidup itu penuh dengan kejutan. Belakangan aku merasakan hal itu. Banyak hal tak terduga datang dalam kehidupanku yang biasa-biasa ini.

Kadang-kadang aku berpikir, "Kenapa ya, aku bisa ada di sini? Padahal aku nggak pernah membayangkan sedikit pun akan ada di sini sebelumnya."

Berkaca pada diri sendiri, jika melihat sosok Septi yang dulu, bisa dikatakan Septi yang dulu termasuk orang yang ambisius, terutama dalam mendapatkan sesuatu yang dia inginkan. Sebenarnya, sekarang pun masih tetap ambisius, tapi kadarnya lebih rendah saja. Tidak seambisius dulu lagi.
 
Aku ingat, saat masih duduk di bangku SMK, aku sering membuat target "hal-hal apa saja yang harus aku dapat". Contohnya dalam nilai ujian. Aku pernah memasang target nilai bahasa Indonesia-ku harus 100 saat Ujian Nasional. 

Aku pasang target itu di dinding kamarku. Setiap bangun atau sebelum tidur, aku bisa selalu melihatnya, dan aku selalu mengingat target itu di kepalaku. Jadi, kalau aku malas belajar, aku akan kembali bersemangat karena target itu. 

Saat itu, target buatku adalah acuanku, tolak ukurku untuk mencapai sesuatu yang aku inginkan, meski tidak selalu berhasil aku capai. Ada kalanya, aku mendapatkan hal melebihi targetku. Kalau untuk yang satu itu, tentu saja aku senang bisa mendapatkan sesuatu yang lebih dari yang sudah aku targetkan sebelumnya. 

Tapi sayangnya, ketika target itu tidak sesuai dengan yang kuinginkan. Di saat itulah, aku mulai merasa kecewa. 

Aku mulai kelelahan dengan target-target yang ada. Seolah keberhasilanku hanya ditentukan dari target yang sudah dicapai saja, sementara kalau aku tidak bisa memenuhi semua targetku. Aku malah merasa menjadi manusia yang gagal. 

Aku jadi takut memasang target yang terlalu muluk-muluk. Dari situ juga, aku jadi takut untuk bermimpi. Aku takut kalau aku bermimpi terlalu tinggi, aku hanya akan merasa kecewa lagi. Kemudian, rasa kecewa itu malah berujung pada menyalahkan diri sendiri. 

"Harusnya kamu melakukan ini."

"Kamu seharusnya bisa melakukannya lebih dari ini."

Dan, masih banyak kata-kata yang bermunculan di kepalaku yang sifatnya bukan membangkitkan semangat, malah justru menyalahkan diriku sendiri dan menuntut pertanggungjawaban akan target yang sudah aku buat. 

Aku sadar ini nggak baik dan nggak sehat banget buat kesehatan jiwaku. Tapi, rasanya sulit untuk menghentikan pikiran-pikiran itu di kepalaku. Sampai aku pernah minta ke diriku sendiri buat berhenti memikirkan itu. Tapi, semakin aku memintanya, yang ada aku malah semakin kepikiran.

Jika hal itu terjadi, cara yang bisa aku lakukan untuk mengatasi pikiran-pikiran berlebihan di kepalaku adalah bercerita atau menuliskannya di selembar kertas. Bisa juga dengan menuliskannya seperti ini. 

Dari situ perlahan-lahan aku juga mencoba untuk tidak terlalu memaksakan diriku sendiri, dengan mengabaikan target-targetku. Lebih senang melakukan segalanya mengikuti alur yang ada saat ini, karena hal itu membuatku nggak perlu memaksakan diriku sendiri secara berlebihan hanya untuk mencapai target-target yang ada.

Aku hanya tinggal menjalani kehidupanku sesuai alur yang sudah kupilih tanpa harus berpacu pada target itu. Perlahan aku mulai menikmati alurnya sampai aku merasa, hidupku mulai menemukan kejutan-kejutan kecil yang kadang menyenangkan, tapi kadang membuatku terheran-heran juga.

"Kok, aku bisa melakukan ini?" 

"Ternyata, aku bisa sampai di sini. Aku nggak pernah membayangkan bisa mencapai ini."

Pikiran-pikiran seperti itu kerap terlintas di kepalaku, baik sadar atau nggak disadari oleh diriku sendiri. Aku mencapai sesuatu yang sebelumnya nggak ada dalam target-target yang harus aku penuhi.

Aku hanya mengikuti dan memilih alurnya. Memilih alur mana yang mau aku tempuh dengan harapan aku tidak salah memilih jalan. Tapi dibalik itu semua, aku sadar Tuhan sudah memiliki rencananya sendiri untuk kehidupanku. 

Jadi, apa pun yang terjadi, baik aku sudah memasang target atau pun belum. Di situ ada tangan-tangan Tuhan yang bekerja untuk mengatur kehidupan umatnya.

Pada akhirnya, manusia hanya diminta menjalani dan melakukan yang terbaik dalam hidupnya. Kemudian pertanyaan baru muncul.

"Apakah kita sudah melakukan yang terbaik?"

"Apakah yang terbaik buat kita, sudah baik bagi-Nya?"

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Novel Si Bungsu “Amelia” karya Tere Liye

Tentang Kamu, Novel Biografi Sri Ningsih karya Tere Liye

7 Hal yang Bisa Kamu Renungkan dari Buku "Jika Kita Tak Pernah Jatuh Cinta"