Belajar Mandiri Secara Finansial



Akhir-akhir ini aku sering kepikiran untuk belajar mengatur keuangan. Meski semuanya, harus mulai kulakukan secara perlahan dan bertahap. Dimulai dari menahan diri untuk tidak boros, dengan tidak membelanjakan uang untuk sesuatu yang sebenarnya tidak perlu banget atau mendesak.

Kenapa aku baru kepikiran untuk belajar mengatur keuangan sekarang?

Pertama, saat ini usiaku sudah 21 tahun. Di saat teman-teman seusiaku sudah memiliki pekerjaan, bisa bebas secara finansial, bisa mengurangi beban orangtua mereka.

Sementara aku?

Aku masih kuliah dan berstatus mahasiswa. Belum punya pengasilan sendiri.

Walau di bulan Oktober akhir, secara tiba-tiba aku mendapatkan tawaran pekerjaan lewat DM Instagram. Tapi statusku ini masih pekerja paruh waktu alias part time. Aku part time di sebuah startup yang baru tiga tahun ini berdiri. Namanya Storial.

Ada diantara kalian yang mungkin pernah mendengar soal Storial?

Storial itu sebuah platform yang menyediakan bacaan secara gartis atau berbayar khusus cerita premiun menggunakan storial coin. Selain itu, di Storial nggak hanya bisa baca saja. Siapa pun bisa menuliskan ceritanya dan mendapatkan royalti dari cerita yang ditulis. Kalau mau tahu info selengkapnya soal Storial. Kunjungi saja blognya blog.storial.co atau akun media sosialnya seperti Instagram @storialco.

Karena di sana aku kerja part time. Jadi aku belum tahu akan sampai kapan berada di sana. Tapi, dengan adanya part time ini, setidaknya aku bisa punya penghasilan tambahan dan nggak perlu minta orangtua untuk membiayai kebutuhanku setiap harinya.

Sebenarnya, sejak aku mendapat beasiswa. Orangtuaku, tidak sepenuhnya lagi memberiku uang jajan tambahan. Apalagi, sejak mamaku berhenti dari pekerjaannya. Sejak saat itu, aku tidak lagi mendapat tambahan uang darinya.

Di keluargaku, mama adalah sosok yang memegang dan mengatur keuangan. Setiap bulannya, uang yang dihasilkan bapakku diberikan ke mama. Kemudian, mamalah yang mengatur dan membagi-baginya agar bisa memenuhi kebutuhan kami sekeluarga. 

Jika dulu mama masih bekerja, keadaan keuangan keluargaku masih bisa terbantu. Semenjak dia tidak bekerja lagi. Mau tidak mau, aku harus bisa membiayai kebutuhanku sendiri berbekal dari uang beasiswa kuliah yang aku dapat.

Sejak awal kuliah di kampusku ini, aku memang sudah mendapatkan beasiswa dari kampus. Berkat prestasiku yang tidak seberapa itu, yang aku dapat saat masih SMK dulu. Tapi setidaknya, dengan prestasi yang tidak terlalu kubanggakan itu, aku bisa kuliah sekarang ini dan tidak perlu lagi memikirkan soal biaya kuliah setiap semesternya seperti teman-temanku yang lain.

Kemudian di semester tiga, aku ikut daftar beasiswa lagi yang diadakan dari KEMENDIKBUD. Namanya beasiswa unggulan, dari sekian banyak orang yang mendaftar dari kampusku, hanya 11 orang yang berhasil menerimanya. Sebelas orang itu termasuk aku di dalamnya.

Aku nggak pernah mengira, bisa berhasil mendapatkan beasiswa ini. Karena sejujurnya, aku merasa diriku ini bukan orang yang pintar sehingga berhak mendapatkan beasiswa itu. Karena aku menganggap diriku ini biasa-biasa saja, beasiswa yang kudapatkan mungkin karena aku orang yang beruntung saat itu.

Ketika aku berhasil mendapat beasiswa unggulan ini, otomatis statusku sebagai penerima beasiswa dari kampus berhenti. Salah satu syarat beasiswa unggulan adalah nggak boleh menerima beasiswa lain. Aku tentu lebih memilih beasiswa unggulan dari KEMENDIKBUD karena selain mendapat uang untuk membayar biaya kuliah per semester. Aku dan penerima beasiswa lainnya mendaptakan uang tambahan yang bisa kami gunakan untuk membeli buku dan keperluan kuliah.

Sejak semester tiga sampai semester tujuh ini, aku harus membayar uang kuliahku sendiri dari uang beasiswa yang kudapat setiap tahunnya. Kalau dulu setiap semesteran, aku hanya perlu datang ke bagian keuangan untuk minta dibukakan KRS. Semenjak mendapat beasiswa unggulan, aku mesti membayarkan uang semesteranku sendiri ke kampus, baru bisa minta dibukakan KRS agar bisa mengisi jadwal perkuliahan.

Selain mendapat uang untuk membayar biaya semester, dari uang beasiswa itu aku juga mendapat uang untuk membeli buku dan uang tambahan yang bisa kugunakan untuk membayar keperluan sehari-hari, kuliah, dan lainnya. Tapi, tentu jumlahnya tidak terlalu besar. Jadi, aku juga nggak bisa sembarangan memakai uang itu untuk dihambur-hamburkan begitu saja.

Mungkin awalnya aku melakukan itu. Tapi, aku lakukan itu pun karena untuk membeli kebutuhan lain seperti laptop yang sekarang aku pakai untuk menulis blog. Ya, aku beli laptop ini dari uang beasiswaku karena aku memang membutuhkannya untuk mengerjakan tugas-tugas perkuliahan. Aku nggak mungkin lagi pakai laptop Toshiba-ku yang hampir empat tahun menemaniku sejak aku masuk SMK. 

Kalau laptop itu nggak bermasalah, sih, mungkin aku masih mau-mau saja memakainya. Tapi, hal itu nggak memungkinkan. Laptop itu sudah terlalu tua, walau banyak kenangan dan perjuangan yang aku lalui bersama laptop itu. Kalau ingat lapotop itu, aku jadi sedih lagi. Mengingat dataku banyak di laptop itu. Tapi sayang nggak bisa aku selamatkan lagi karena laptopnya benar-benar rusak parah.

Dulu saat aku mendapat beasiswa unggulan, aku pernah berpikir bahwa aku bisa punya uang tambahan selain dari uang pemberian orangtuaku. Tapi pada saat itu, orangtuaku juga tahu aku mendapatkan beasiswa ini, jadi dia juga mulai mengurangi jumlah uang jajanku. Tapi, setidaknya aku masih cukup terbantu dan tidak mengalami masalah keuangan.

Namun, semenjak Agustus 2018, mamaku berhenti bekerja. Di saat itulah, aku tidak lagi mendapatkan uang tambahan lagi. Aku hanya bisa mengandalkan uang beasiswa yang aku dapat. Padahal saat itu, uang beasiswaku dan teman-teman yang lain belum cair. Sementara di bulan Agustus banyak pengeluaran yang harus aku bayar, terutama untuk mengikuti SKPI dan persiapan dari menyusun seminar proposal sampai akhirnya aku bisa sidang proposal.

Lalu, bagaimana aku bisa mengatasi semua itu?

Aku menyiasatinya dengan berjualan buku atau membuka usaha jastip buku alias jasa titip beli buku, di mana orang-orang yang kesulitan mencari buku yang mereka mau atau nggak bisa ke toko buku karena jarak yang tidak memungkinkan, maka mereka bisa menggunakan jasaku untuk membeli buku.

Memang tarif jastip tidaklah terlalu besar. Biasanya aku patok harga 5 ribu sampai 15 ribu per buku. Tapi, kalau yang nitip buku banyak tentu pendapatan yang aku terima juga lumayan bisa membantu memenuhi biayaku sehari-hari.

Di bulan Agustus itu, aku sempat daftar voulnteer untuk acara buku. Namanya Indonesian International Book Fair yang setiap tahun diadakan di JCC, Senayan. Pada saat itu, aku hanya sekadar mencoba-coba saja dengan temanku Lilis. Meski, persaiangan saat itu cukup ketat. Dari ratusan pelamar sekitar 20-an orang dipanggil untuk wawancara. Dan, aku termasuk salah satu orang yang lagi-lagi beruntung lolos tahap seleksi awal.

Bisa lolos sampai ke tahap wawancara saja bagiku sudah sesuatu yang membahagiakan. Bayangkan saja, yang mendaftar untuk jadi volunteer nggak cuma satu dua orang. Tapi, ratusan. 

Singkat cerita, aku dan Lilis sama-sama lolos. Padahal sejak pulang dari wawancara aku sudah membesarkan hatiku untuk sabar kalau nanti ternyata aku nggak terpilih. Saat itu, aku sempat merasa rendah diri. Nggak ada apa-apanya dibandingkan yang lain. Tapi, ternyata pengumumannya menyatakan aku lolos. Di saat itu, aku merasa bahagia sekaligus tak percaya. 

Dari situ, aku mulai mengikuti volunteer selama lima hari dan tentu saja selama lima hari itu aku mendapat uang tambahan, yang aku gunakan untuk membayar SKPI. Selama acara itu, aku sempat mencari kesempatan mendapatkan uang tambahan lain dari jastip. Uang dari hasil jastip itulah, yang kemudian aku pakai untuk membeli buku di IIBF dan membiayai kebutuhan harianku.

Kalau dipikir-pikir, jastip itu sangat membantu menambah pemasukan keuanganku. Apalagi saat itu, aku sudah tidak lagi mendapatkan uang dari orangtuaku. Sebisa mungkin, aku harus bisa membiayai kebutuhanku sendiri. 

Mungkin sebelumnya, aku ini bisa dibilang cukup boros dalam membelanjakan uangku, terutama untuk buku. Entah mengapa, aku punya kebiasaan senang membeli buku. Apalagi kalau aku lagi stres, intensitasku membeli buku bisa lebih sering dari biasanya. Meski, buku-buku yang aku beli tentu harganya masih dibilang "murah", tapi kalau hal itu dilakukan terus-menerus tentu saja tidak sehat untuk keuangan pribadiku.

Kemudian, sejak beberapa hari yang lalu aku mulai sadar secara penuh unuk belajar mengatur keuanganku lebih bijak dan baik lagi. Meski, semuanya tidak bisa langsung begitu saja membaik. Semuanya perlu persiapan, terutama persiapan kepada diri sendiri agar tahan godaan karena sejujurnya, aku paling lemah melihat diskonan buku.

Sebagai seorang wanita dan anak pertama di keluarga, aku sadar punya tanggungjawab lebih besar kepada orangtua dan adikku. Jika dulu setelah lulus SMK aku langsung bekerja dan tidak memilih kuiah, tentu saat ini aku sudah punya pekerjaan dan  aku bisa membantu orangtuaku, mengurangi beban yang harus mereka tanggung. 

Oleh karena itu, aku ingin bisa lebih mandiri lagi. Terutama mandiri secara finansial. Meski, hal itu perlu aku lakukan bertahap dan secara perlahan. Aku ingin belajar mengatur keuangan pribadiku sejak saat ini secara lebih bijak dan baik.

Komentar

  1. Semangat,Septi...aku aja udh 26 masih belum bisa ngatur keuangan dan terlalu keborosan banget

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih Kak Yanti. Nggak ada kata terlambat kalau memang mau belajar mengatur keuangan kok Kak. Semangat Kak Yanti. Kita sama-sama belajar juga! Makasih yah udah mau baca tulisanku :)

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Novel Si Bungsu “Amelia” karya Tere Liye

Tentang Kamu, Novel Biografi Sri Ningsih karya Tere Liye

7 Hal yang Bisa Kamu Renungkan dari Buku "Jika Kita Tak Pernah Jatuh Cinta"