Perihal Kehilangan

Hal yang aku takuti selain berada dalam kegelapan seorang diri adalah kehilangan. Meski, aku memang orang yang mudah menghilangkan sesuatu, mulai dari KTM (Kartu Tanda Mahasiswa) milik aku pribadi yang sudah dua kali hilang, kartu Transjakarta, KTM milik temanku Lilis, dan semalam aku baru saja menghilangkan kunci rumah yang biasa aku bawa karena sering pulang malam. 

Aku memang suka menghilangkan barang, entah karena lupa menyimpannya atau karena kecerobohanku sendiri. Tapi, bukan berarti aku nggak sayang dan nggak peduli akan barang itu. 

Aku takut kehilangan dan merasa kehilangan. 

Dalam hal ini kehilangan orang-orang yang aku sayangi seperti orangtua dan teman baik. Aku takut dan nggak kuat jika harus membayangkan mereka pergi dariku. Satu persatu mereka menghilang dalam hidupku. Dan pada suatu saat, aku menemukan mereka sudah tidak ada lagi. Menghilang.

Aku takut dan nggak bisa membayangkan jika suatu saat itu terjadi padaku. Meski, tak bisa kupungkiri hal itu tentu akan terjadi. Entah kapan waktunya.

Jika aku ada di masa-masa itu, hal yang aku takuti adalah aku nggak bisa menemukan sosok seperti mereka. Aku nggak tahu harus ke mana mencari sosok seperti mereka. 

Kadang, aku berpikir, kalau bicara soal kehilangan. Apalagai disebabkan karena kematian. Kalau aku boleh memilih, aku lebih baik pergi dulu daripada ditinggal pergi selamanya oleh orang-orang yang aku sayangi.

Aku nggak bisa membayangkan hidup tanpa ada kehadiran mereka. Aku yang ada mereka saja, masih seperti ini. Bagaimana jika mereka nggak ada buatku?

Tapi, aku sadar. Hidup bukan tentang diri sendiri. Hidup bukan tentang aku, aku, dan aku. Hidup juga tentang orang lain. Aku nggak bisa meminta mereka untuk selalu ada untuk aku, karena aku sendiri pun nggak bisa selalu ada untuk mereka. 

Jadi wajar saja sebenarnya jika seseorang itu ada, kemudian pergi. Kita juga nggak bisa memaksa semua orang untuk tetap tinggal. Setiap dari mereka tentu punya tujuan dan mimpi yang ingin dicapai. Semua punya jalannya masing-masing. Dan, aku nggak bisa memaksakan mereka harus jalan di jalanku. 

Aku juga nggak mau hidupku ketergantungan dengan satu orang. Tapi bukan berarti aku nggak membutuhkan kehadiran mereka dalam hidupku. Aku takut, kalau aku ketergantungan dengan satu orang saja, kemudian dia menghilang, entah karena pergi selamanya atau karena kesalahanku sendiri. Aku takut merasa kehilangan karena biasanya selalu ada mereka dan selalu sama mereka.

Aku tahu, cepat atau lambat. Kehilangan itu akan terjadi. Meski, aku selalu berusaha mempertahankan orang-orang yang aku sayangi. Tapi, jika memang sudah waktunya pergi dan menghilang. Apa yang sudah aku pertahankan tidak akan ada gunanya lagi. Mungkin, hanya sisa-sisa kenangan yang bisa kusimpan. Kenangan bersama mereka.

Karena itu, aku ingin mengucapkan terima kasih, untuk mereka yang sampai saat ini masih bertahan dan mau ada bersamaku, meski kadang jarak menghalangi kita. Tapi, kehadiran kalian selalu ada buatku. Membuatku merasa tidak benar-benar sendirian. 

Ada kalanya, aku suka kesendirian. Tapi, bukan berarti aku bisa hidup sendiri dan senang merasa sendirian. Aku suka sepi, tapi bukan berarti aku menyukai saat-saat aku merasa kesepian karena kehilangan seseorang dalam hidupku.

Karena setiap waktu dan hal-hal yang dilakukan bersama mereka adalah hal yang nggak akan pernah kulupa dan akan selalu kukenang. Jika suatu saat, aku kehilangan sosok mereka dari hidupku.  Entah karena masing-masing punya kehidupan baru, pergi untuk selama-lamanya, dan memilih untuk tidak bersama lagi karena alasan-alasan lainnya.

Soal kehilangan, sampai saat ini buatku memang bukanlah hal yang mudah. Aku masih terus belajar dan akan terus belajar, serta berusaha menyiapkan diri, jika suatu waktu orang-orang yang aku sayangi pergi dalam hidupku. Mereka hilang. 

Mungkin, kita  memang nggak akan pernah tahu kapan waktu itu akan terjadi. Tapi, jika suatu saat aku berada di posisi itu. Aku harap bisa melaluinya dan menghadapinya, meski kehadiran mereka sudah tidak ada lagi untukku.

Jika mungkin aku menemukan pengganti mereka. Posisi mereka tidak akan pernah tergantikan dalam diriku. Masing-masing orang punya peran dan andil yang penting dalam kehidupanku saat ini. Aku bisa seperti sekarang pun, berkat orang-orang yang selalu tulus ada dan menyayangiku.

Kemudian, untuk mereka yang masih ada, yang masih bertahan dengan segala hal-hal baik atau burukku, yang masih mau memahami tanpa menghakimi, yang mau mendengar dengan tulus, yang mau ada di masa-masa sulitku. Aku sangat berterima kasih. 

Aku mungkin nggak akan pernah bisa membalas kebaikan-kebaikan mereka. Tapi, kuharap mereka akan mendapatkan balasan setimpal karena kebaikan yang mereka lakukan telah memberi arti ke dalam senyumanku dan menghapus luka dalam hidupku. 

Siapa pun itu, orangtua atau teman baik, bahkan mereka yang kehadirannya selalu ada untukku, tanpa kuminta. Aku ucapkan terima kasih. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Novel Si Bungsu “Amelia” karya Tere Liye

Tentang Kamu, Novel Biografi Sri Ningsih karya Tere Liye

7 Hal yang Bisa Kamu Renungkan dari Buku "Jika Kita Tak Pernah Jatuh Cinta"