Penyesalan dan Hal-hal yang Sulit Dijelaskan

Ada banyak hal dalam hidup yang kadang sulit dipahami dan dimengerti. Termasuk memahami dan mengerti diri sendiri saat kejadian semalam terjadi. 

Kemarin malam, tidak seperti malam biasanya. Aku sangat ketakutan sehingga tidak bisa berpikir dengan baik. Baru menyadari semua itu, setelah semua terjadi. Selama di jalan pulang, aku terus memikirkan tindakan dan kesalahan yang telah kuperbuat, yang membuat orang lain mungkin marah atau bahkan kecewa padaku.

Jika dia bersikap seperti itu padaku, aku bisa menerimanya. Meski, aku belum sepenuhnya bisa menjelaskan semua hal yang terjadi dan mengapa aku bersikap menyebalkan tadi malam. 

Aku nggak tahu, dia akan baca atau enggak tulisan ini. Kalau memang dia mengunjungi blog-ku dan menemukan tulisan ini. Aku ingin mencoba menjelaskan dan menceritakannya di sini.

Kemarin malam rasanya aku ingin segera tiba di rumah dan memeluk mamaku sesampainya di rumah. Setelah seharian mengerjakan revisian sempro dengan teman-temanku di perpustakaan kampus lain, karena perpustakaan di kampusku libur selama sebulan. Padahal kami sangat membutuhkan buku untuk menambah referensi sempro kami. Tapi, apa boleh buat, kami mesti mencari tempat lain yang jaraknya cukup jauh dari kampus kami.

Seharian itu, aku fokus mengerjakan semproku karena aku mau selesai di semester ini. Aku mau bisa ikut sidang seperti teman-teman yang lain di semester enam ini. Sebagian dari mereka, banyak yang sudah mendapat persetujuan dari para dosen pembimbingnya masing-masing. Tidak seperti aku dan temanku, serta anak bimbingan lain yang dosen pembimbingnya sama dengan kami. Semua perlu revisi dan belum ada satu diantara kami yang sempro atau skripsinya disetujui tanpa perlu revisi lagi. 

Hampir setiap hari selama libur kuliah ini, aku tak pernah bisa lepas memikirkan semproku. Meski kadang aku berusaha tampak semua baik-baik saja dan tidak begitu memikirkannya, tapi tetap saja aku masih terus memikirkannya. 

Selama liburan yang terasa tidak seperti liburan ini, aku mesti bolak-balik ke kampus, mengerjakan semproku salah satunya dan persoalan lain di kampus yang membuatku kadang merasa jenuh hingga pada akhirnya, titik puncaknya terjadi semalam.

Mugkin itu bukan saja karena aku jenuh, mungkin lelah. 

Bukan mungkin lagi, tapi memang aku merasa lelah. Harus kuakui itu, sehingga membuatku kemarin agak malas berbicara kepada orang lain. Aku ingin segera pulang dan langsung memeluk mama, tanpa perlu cerita. Aku nggak mau ia khawatir, meski mamaku bisa dengan mudahnya mengetahui aku sedang tidak baik.

Aku ingin tampak baik-baik saja di hadapannya. Aku nggak mau, masalahku jadi permasalahannya. Karena itu juga, aku selalu terbiasa memendam semuanya sendiri. Meski, ada beberapa hal yang kadang aku ceritakan juga pada teman dekatku, yang aku anggap aku bisa percaya padanya. Tapi, itu tidak semua hal kuceritakan. Ada hal-hal yang kadang kusimpan sendiri. 

Entah ini karena bawaanku sebagai orang introver atau apa, aku juga nggak tahu. Hanya saja, aku sulit menceritakan sesuatu kepada orang yang belum benar-benar aku kenal baik. Mungkin, orang lain biasa cerita kepadaku karena aku sering menjadi tempat cerita teman-temanku atas permasalahan-permasalahan hidupnya. Tapi, aku sendiri nggak bisa dengan mudahnya cerita begitu saja.

Mungkin, harus dengan cara seperti ini: menulis. Aku merasa lebih mudah mengatakannya. 

Aku memang kadang rumit, sampai aku sendiri sulit mengerti jalan pikiranku sendiri. Kadang, aku berharap bisa ada orang yang bisa mengerti dan memahami tanpa perlu aku menjelaskan hal-hal yang kadang aku sendiri sulit menjelaskannya. Tapi, itu nggak mungkin ada atau mungkin belum ada. Kalaupun ada, rasanya mustahil ada karena setiap orang tentu membutuhkan alasan dan kejelasan akan hal-hal yang terjadi. Sekalipun, itu sulit dijelaskan.

Semalam itu, saat aku pulang naik Transjakarta arah Harmoni, tiba-tiba saja perjalanan kami mengalami masalah. Bis berhenti cukup lama sekitar tiga puluh menit. Jalanan macet tidak seperti biasanya. Entah ada kejadi apa di depan kami, sehingga petugas Transjakarta menawarkan pintu keluar dibuka di tengah jalan bagi mereka yang ingin lepas dari kemacetan.

Seperti penumpang lainnya, aku ikut turun malam itu. Aku tidak mau lama-lama di jalan karena macet disaat aku ingin segera pulang ke rumah. Aku berhenti dan turun, tanpa menyadari keberadaanku. Aku turun setelah melewati halte Kedoya Green Garden dan bis menuju halte Indosiar.

Setelah aku turun, yang tampak hanyalah deretan mobil yang tak bisa berjalan, sementara motor tak sabaran menerbobos jalan-jalanan bahkan hingga trotoar tempatku berjalan. Sebenarnya itu bukan hal yang asing, apa lagi di ibu kota macam Jakarta. Macet sudah identik dengan kota ini.

Tapi malam itu, aku benar-benar kesal bercampur dengan rasa takut dan jenuh yang memuncak. Aku turun di tengah kemacetan dan berjalan melewati macef dengan arah yang berlawanan. Di saat bersamaan, aku melihat ponselku baterainya sudah beberapa persen lagi. Ketika aku mau memesan ojek online, entah kenapa sambungan gagal dan tidak terkoneksi. Padahal saat aku cek, kuota internertku masih ada satu GB lagi. 

Aku ingin chat mamaku lewat Whatsapp, tapi pesanku lama terkirimnya. Saat itu, aku mulai cemas dan panik. Akhirnya, aku menelepon mereka dengan sisa pulsaku yang tinggal seribu lagi sambil aku terus berjalan melewati macet. Karena saat itu, pikiranku hanya ingin segera pulang.

Malam itu, aku terus berjalan dengan perasaan takut hingga membuatku tak bisa berhenti menangis. Aku saat itu, nggak tahu harus berbuat apa. Berjalan dan terjebak di tengah kemacetan. Cemas ponselku mati. Tidak bisa memesan Gojek untuk pulang. Menghubungi orang di rumah, mereka bilang aku mesti pulang ke arah sebaliknya menuju Lebak Bulus karena tidak ada yang bisa menjemputku. Sementara jarak rumahku masih sangat jauh dari tempat aku turun. 

Dengan semua hal yang terjadi itu, sekaligus perasaan takut dan cemas, aku meluapkan emosiku dengan menangis malam itu. Aku rasanya ingin marah, tapi aku hanya bisa menangis sambil terus berjalan pasrah. Aku bingung harus berbuat apa karena aku tak bisa berhenti menangis malam itu. Berjalan sendiri, merasa takut, dan kebingungan. 

Sehingga, pilihan terakhirku, aku mencoba menghubungi teman kuliahku sambil tak henti-hentinya menangis ketakutan. Sampai rasanya aku sulit menjelaskan semua hal yang terjadi dalam keadaan seperti itu. Aku nggak tahu harus bagaimana menjelaskan semuanya. 

Sementara mereka mencoba menanyakan keberadaanku di saat aku sendiri nggak begitu tahu aku ada di mana dan hanya bisa mengira-ngira. Aku hanya bisa berjalan dan terus berjalan, sambil berusaha meredakan tangisan dan rasa takut. Tapi, rasanya sulit.

Sampai akhirnya, mereka datang menemuiku dan di situ aku melakukan kesalahan. Aku mengabaikan mereka yang sudah rela datang membantuku. Kalau mengingat kejadian itu, aku tahu aku salah bertindak seperti itu sama mereka. Tidak seharusnya aku mengabaikan bantuan mereka. 

Sejujurnya, aku juga nggak tahu kenapa aku melakukan itu. Saat mereka datang, aku sebenarnya malu sama diriku sendiri. Hanya karena masalah ini, aku harus menyusahkan dan melibatkan orang lain.

Aku terus berjalan, tanpa mau melihat mereka. Saat itu, aku merasa kacau dan terlihat buruk. Aku malu dan nggak mau mereka melihatku seperti itu. Meskipun, pada akhirnya aku menyesali perbuatanku.

Singkat cerita, aku udah nggak sanggup berjalan. Aku berjalan cukup jauh sampai tiba di halte Duri Kepa. Di saat itu, tiba-tiba mamaku mengabari aku kalau bapakku sedang diperjalanan menjemputku pulang. Di situ aku sedikit merasa lega, meski tidak sepenuhnya. 

Aku ingin segera pulang malam itu dan segera menghubungi mereka. Mereka yang kebaikannya kuabaikan. Tapi, mereka sama sekali tidak menanggapi panggilanku dan pesanku hanya terkirim tanpa dibaca. Mungkin sengaja. Lagipula, aku pantas mendapatkan hal itu.

Aku bukan teman yang baik untuk mereka. Aku begitu menyebalkan dan sulit dimengerti. Tapi, aku nggak mau kehilangan mereka. Aku nggak tahu, apakah aku pantas mendapatkan maaf sementara aku sudah melakukan kesalahan besar kepada mereka. 

Aku nggak tahu harus kaya gimana, aku terus memikirkan hal ini. Hingga aku terbangun pagi ini dan melihat pesanku masih sama seperti terakhir kali aku mengirim pesan kepada mereka. Tidak ada balasan. 

Dan, aku langsung membuka laptopku dan mencoba menjelaskan semua ini di sini. Entah mereka akan baca atau enggak. Tapi, setidaknya aku berusaha untuk menjelaskan sesuatu yang aku sendiri sebenarnya sulit menjelaskannya. Aku nggak tahu mereka akan mengerti dan memahami ini atau enggak. 

Aku hanya mau meminta maaf atas segala sikapku sama kalian. Aku menyesal dan merasa sangat bersalah. Aku nggak tahu harus ngapain supaya kalian mau menerima maafku. Aku sayang kalian. Kalian teman-teman dekatku. Aku nggak mau kehilangan kalian karena sikap bodohku sendiri. Maaf atas tindakan bodoh yang kulakukan semalam. 

Kalau aku bisa memutar waktu, aku ingin menengok dan mentap kalian, sambil mengatakan, ¨Aku nggak baik-baik saja. Aku nggak mau kalian pergi.¨

Aku sungguh menyesal.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Novel Si Bungsu “Amelia” karya Tere Liye

Tentang Kamu, Novel Biografi Sri Ningsih karya Tere Liye

7 Hal yang Bisa Kamu Renungkan dari Buku "Jika Kita Tak Pernah Jatuh Cinta"