Tantangan #7HariBercerita: Sehari Satu Tulisan, Sanggupkah?


Sumber: Vebma

Aku suka menulis saat aku sendirian, seperti ketika aku menulis tulisan ini di kampus. Hanya ada aku sendiri, menatap layar laptop sambil menekan tuts di keyboard-ku. 

Sebenarnya, hari ini nggak ada jadwal kuliah karena memang selama dua minggu, di kampusku sedang berlangsung Ujian Akhir Semester. Niatnya ke kampus karena kupikir hari ini aku mau pergi nonton teater Imitating The Dog yang berjudul Nocturnes di Taman Ismail Marzuki (TIM). 

Aku nggak tahu-menahu mengenai teater tersebut. Aku tahu itu karena ajakan seorang teman yang kukenal karena kami sama-sama suka buku. 

Seminggu yang lalu, dia mengajakku menonton teater tersebut. Karena aku belum kesampaian ke TIM. Setiap mau ke sana, selalu ada saja halangannya. Jadi, aku sambut baik ajakan dia saat itu. Sekalian aku juga penasaran dengan teater tersebut karena sepertinya menarik.

Untuk kalian yang mau nonton teaternya juga. Kalian bisa cek saja instagram @jakartacouncil. Di sana ada informasi mengenai teater ini. Mumpung masih ada waktu seminggu lagi sebelum acaranya dimulai.

Aku tahu ini ternyata masih satu minggu lagi saat aku berada di Transjakarta setelah aku DM dia lewat Instagramku.

"Hai," sapaku. Aku khawatir dia lupa kalau kami ada janjian nonton teater. 

"Hari ini jadi?" tanyaku mengingatkan.

Tak lama setelah itu, dia pun membalas.

"Acaranya tanggal 20 Senja. Hehehehe.

Bukan jumat ini," tulisnya disertai gambar acaranya.

Temanku satu ini, sering memanggilku Senja. Tapi, sebenarnya nama asliku, yang tertera di KTP adalah Septiani Rahayu, kok. Mungkin karena nama Instagramku sama seperti nama blog-ku ini. Makanya, dia lebih suka memanggilku Senja dibandingkan Septi.

Tapi, yasudahlah. Biarkan saja. Aku tak mempermasalahkan hal itu. Memang, kadang orang di Instagram yang mengikuti akunku mengira namaku itu Senja. 

Setelah membaca pesannya, aku baru tahu, kalau ternyata bukan Jumat ini acaranya. Tapi, Jumat depan. Bodohnya aku nggak memerhatikan tanggalnya. Mungkin saking kepingin ke sana atau mungkin karena kebiasaanku yang nggak begitu memerhatikan tanggalan di kalender, sampai nggak tahu kalau ternyata acaranya tanggal 20 Juli 2018.

Kalau tahu seperti itu kan. Aku nggak akan ke kampus. Apalagi dari rumah dan kampusku nggak ditempuh hanya sepuluh menit, lalu sampai. Tapi, bisa memakan waktu hingga sejam lebih.

Rajin banget ke kampus di saat nggak ada kuliah atau ujian, bukan? 

Karena sudah terlanjur di perjalanan, daripada aku pulang lagi setelah menyaksikan Kak Novika, seniorku di jurusan Jurnalistik sidang seminar proposalnya. Aku memutuskan untuk ngeblog saja di kampus.

Untungnya, aku selalu membawa si Merahku kemana pun pergi. Meski, tidak selalu juga, sih. Tapi, keseringan aku suka bawa laptopku ini. Ia teman setiaku dalam menulis yang tak pernah mengeluh, meski pemiliknya sering memakainya hampir setiap hari. 

Karena hari ini aku batal pergi lantaran acara teaternya minggu depan. Aku pun minta ketemuan sama temanku, Lilis untuk meminjam buku Riset Kehumasan miliknya. Karena di buku itu, ada satu bab yang membahas mengenai analisis isi yang ditulis oleh dosen pembimbingku sendiri.

Namanya Jamiluddin Ritonga, biasa dipanggil Pak Jamil. Aku belum pernah diajar atau ikut kelasnya. Meski, nama dia di kampus sudah tidak asing. Karena pernah mendengar kabar kurang baik mengenainya. Kalau dia dosen yang menyeramkan.

Padahal setelah hampir enam kali dibimbingnya. Aku merasa bahwa dosenku satu ini sangat baik dan enak dalam membimbingku dan apa yang dikatakan orang-orang mengenai dirinya tidaklah benar menurutku. Walau bab satuku baru mendapat persetujuannya seminggu lalu, setelah empat kali mengalami revisi. Tapi, itu juga demi kebaikanku sendiri.

Aku banyak belajar darinya. Apalagi, dia suka mengingatkan kami untuk selalu "Iqra" dan aku tak pernah mempermasalahkan hal itu. Memang tugas kami sebagai mahasiswa untuk membaca bukan? Apalagi dalam menyusun seminar proposal atau skripsi, banyak membaca itu penting banget. 

Masih mending, aku dan bimbingannya yang lain diperhatikan seperti itu. Daripada temanku yang mendapat dosen pembimbing yang agak cuek, mahasiswanya dibiarkan begitu saja. Setiap mau bimbingan kadang dipersulit.

Ya, namanya dosen. Setiap dosen memiliki pribadi yang beda-beda dan sebagai mahasiswa kita harus bisa mengenali dan memahami sikap dan perilaku mereka. Meski, kadang  dosen-dosen seperti itu menyebalkan juga.

Untuk kalian, yang pertama kali membaca tulisanku. Aku ini bukan siapa-siapa. Hanya mahasiswa yang sedang berjuang untuk bisa lulus secepat mungkin dari kampusku ini. Makanya, di semester ini aku sudah mulai menyusun seminar proposal, yaitu bab 1 sampai bab 3. Sebelum bisa ambil skripsi di semester tujuh (kalau memang bisa) dan delapan kalau memang di semester tujuh nggak bisa ambil.

Kegiatan yang kulakukan saat ini hanya kuliah, tapi kalau sekarang lagi UAS, sambil tetap menyusun seminar proposal, lalu mulai menulis blog lagi, dan memulai menjalani usaha kecilku dengan dua orang teman baikku, Anang dan Rocky di bidang perbukuan yaitu, menjual buku bekas. 

Jadi, kalau kalian berminat beli buku dengan harga yang lebih ramah dan bersahabat di dompetmu. Karena memang, ini bukan buku baru juga. Kalian bisa pesan melalui kami. Selain jualan buku bekas, kami juga mebuka jasa titip beli buku bekas. 

Sebenarnya, ini adalah kegiatan sampinganku sejak semester lima sekitar bulan September 2017 lalu. Ketika pertama kali aku buka jastip (jasa titip) di IIBF 2017. Dan, setelah itu berlanjut buka jastip beli buku bekas sampai jastip BBW Jakarta 2018 lalu.

Maaf, kalau jadi promosi gini. Ya, sekadar mengingatkan saja. Kalau kalian mau cari buku bekas, terutama buku-buku lama yang sulit dicari dan mau nitip buku bisa hubungi aku melalui Instagramku @senjaandbooks. Semoga aku bisa mencari dan menemukan buku yang kalian inginkan.

Oya, karena sempat magang sambil kuliah, aku pernah meninggalkan kegiatan sampinganku ini. Karena waktunya nggak memungkinkan untuk menjalani ketiganya secara bersamaan. Jadi, selama tiga bulan sebelumnya aku cuma bisa fokus sama urusan magangku di Republika.co.id sebagai reporter di rubrik Leisure dan kuliahku di semester enam ini.

Setelah selesai magang, aku baru punya waktu lagi untuk melakukan hal-hal yang sempat terabaikan, salah satunya menulis blog ini. Aku mulai menulis blog lagi setelah kemarin berkomitmen menulis blog lagi, seminggu minimal satu tulisan atau dua tulisan. Lebih sering, maka lebih baik lagi.

Semua ini berkat temanku, Anang yang menyebalkan itu, meski sebenarnya niatnya itu baik. Dia ingin aku rutin menulis lagi seperti dirinya. Aku mungkin nggak akan memulai membuat tulisan di blog semalam dan berkomitmen untuk menulis di blog secara rutin kalau bukan karena pengaruhnya.

Nah, sebagai bentuk komitmenku yang satu itu, aku bersama temanku Reny, yang kukenal dari Instagram dan berasal dari Jambi ini akan berkolaborasi menulis blog selama tujuh hari berturut-turut. 

Aku terpikirkan melakukan ini setelah sebelumnya, Reny pernah mengajakku untuk menulis blog bersama saat bulan puasa.

Karena hal itu, sekaligus ingin menantang diriku sendiri. Aku pun mengajaknya menulis cerita selama tujuh hari dengan tema berbeda, yang sudah kami tentukan sebelumnya.

Kami akan bercerita di blog masing-masing. Hari pertama kami akan menulis tentang diri sendiri, di mana kami bebas menceritakan semua hal tentang diri kami masing-masing. 

Kenapa menulis tentang diri sendiri?

Tujuannya sih, sederhana saja. Agar lebih mengenal diri sendiri. Sebenarnya diri kita itu seperti apa, sih?

Lalu, hari kedua tentang cinta. Hal yang dapat membuat orang dimabuk asmara dan gila karenanya. Buat kalian yang pernah merasakan seperti ini, pasti tahu gimana rasanya bukan?

Setiap orang, kurasa pernah merasakan hal yang satu ini. Tapi cinta di sini bisa tentang cerita cinta apa aja, tidak harus dengan kekasih.

Karena kami sama-sama masih sendiri. Eh, kalau aku sih, iya. Tapi, sepertinya Reny juga sama. Di tulisan tentang cinta kami bisa bebas menulis cerita atau membahas soal cinta dari sudut pandang kami. Tentu saja, pandangan mengenai cinta setiap orang tentunya berbeda. Apalagi, semakin bertambahnya usia pemahaman akan cinta juga berbeda-beda. 

Apalagi aku yang dulu menilai cinta dengan aku yang sekarang, tentu memiliki pandangan yang jauh berbeda. Bedanya di mana? Lihat saja nanti hehe.

Hari ketiga temanya tentang keluarga atau orang lain yang dianggap sebagai keluarga sendiri. Hari keempat tentang impian yang ingin dicapai atau sudah dicapai. Hari kelima tentang ketakutan dalam hidup. Hari keenam tentang hal yang disukai dan tidak disukai. Kemudian di hari terakhir tentang fenomena milenial. Kalau yang terakhir ini, usul dari Reny sendiri.

Tantangan bercerita tujuh hari ini akan kami mulai Sabtu depan, setelah aku selesai UAS. 

Terima kasih, Reny sudah bersedia mengikuti tantangan ini bersamaku. Untuk kalian yang tertarik mengikuti tantangan ini dan bercerita selama tujuh hari. Kalian bisa melakukannya di blog masing-masing, silakan saja. Tentu ini akan sangat menyenangkan. Aku sendiri udah nggak sabar ingin menulis ketujuh tema tersebut.

Untuk kalian yang ingin mengikutinya, kita bisa mulai sama-sama pada Sabtu 21 juli 2018 mendatang. Kalau kalian ikutan, jangan lupa untuk kasih tahu hasil tulisan kalian di kolom komentar atau DM aku di Instagram @senjaandbooks atau Reny di @Renyfatmarfl, ya!

Kalian sanggup menulis sehari satu tulisan? Kalau iya, aku tantang kalian semua yang membaca tulisan ini! Mari bersenang-senang bersama dengan menulis!


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Novel Si Bungsu “Amelia” karya Tere Liye

Tentang Kamu, Novel Biografi Sri Ningsih karya Tere Liye