Menulis Calon Novel Sendiri, Gimana Mulainya?

Aku gagal memenuhi tantangan menulis #7HariBeceritaSenjaXReny yang sudah kami tentukan sejak awal. Sebelumnya aku mohon maaf kepada Reny dan diriku sendiri yang tidak berhasil memenuhi tantangan itu. 

Sebenarnya aku nggak mau kasih alasan untuk hal ini. Tapi, kalau ditanya penyebabnya kenapa, aku mau sedikit kasih tahu, alasan aku nggak berhasil memenuhi tantangan itu.

Aku sempat kehilangan gairah menulis setelah hari kedua. Di awal terasa menggebu-gebu, tapi makin ke sana aku jadi kehilangan semangat nggak seperti di awal aku nulis. Aku rasa, aku perlu cari cara untuk bisa mempertahankan semangat menulisku. Apalagi, saat ini aku sedang memasuki tahap menulis karya panjang berupa novel. 

Nulis novel lagi?

Keinginan menulis novel sudah lama ada sejak aku SMK sekitar kelas tiga. Aku mulai menulis di saat semua orang kala itu sibuk dengan ujian nasional, ujian sekolah, praktikum, dan ujian-ujian lainnya, termasuk ujian kehidupan yang nggak ada abisnya.

Aku sempat menyelesaikan naskah novelku yang pertama, yang aku lupa judulnya apa karena naskah itu ada di laptop Toshiba-ku, yang kini sudah tiada alias nggak bisa nyala lagi. Sedih banget. Maklum laptop itu udah menemaniku hampir lima tahun sejak awal aku SMK sampai kuliah di semester awal. Sebelum akhirnya pindah ke laptopku, si Merah Asus ini.

Kalau ingat laptop itu bikin sedih. Masalahnya, tulisan-tulisanku dulu ada di laptop itu semua dan aku belum kepikiran menyimpan tulisa di google drive atau nulis blog seperti ini.  

Soal naskah novel yang berhasil aku tulis saat itu, ceritanya tentang kehidupan percintaan masa sekolah. Kalau dimasukkan kategori, mungkin masuk ke genre teenlit karena ceritanya khas remaja SMA yang nggak terlalu berat konfliknya. Umumnya menceritakan persoalan pribadi seputar masalah remaja, termasuk cinta di dalamnya. 

Aku masih ingat sih, ide cerita di novel itu. Kalau aku mau, bisa saja aku buat ulang lagi tulisan itu. Tapi, sekarang ini aku lagi nggak kepingin nulis genre teenlit. Mengingat sekarang aku udah lama banget nggak baca genre itu lagi. 

Ya, mulai bertambahnya usia dan selera bacaan semakin berkembang, sehingga nggak memulu itu-itu saja yang dibaca. Hal ini jadi mempengaruhiku dalam menulis. Aku nggak mau nulis sesuatu yang aku sendiri udah lama nggak baca lagi. Makanya, aku mau nyoba nulis ide lain. 

Ide yang sebenarnya udah lama menghantui isi kepalaku dan minta aku segera menuliskannya. Hanya saat itu aku belum tahu cara mulai menulisnya karena ide ceritanya belum begitu kuat. Aku masih perlu melakukan riset kecil-kecilan untuk modal dan bahanku menulis saat ini. Meski, apa yang ingin aku tulis sebenarnya nggak jauh dari hal yang masih berkaitan denganku. 

Tentu, menulis hal-hal yang dekat dengan kita merupakan cara yang lebih mudah dalam menulis.  Kuncinya pernah merasakan atau mengalaminya sendiri. Meski, tidak semua yang ditulis dalam novel berdasarkan pengalaman pribadi. Ada hal-hal yang berupa karangan semata. 

Ya wajar saja, namanya juga novel. Karya fiksi yang berangkat dari karangan si penulisnya. Jadi, nggak semua hal yang ditulis itu bermuara dari pengalaman penulisnya. Bisa juga dari pengalaman orang lain yang ditulis kembali sama si penulisnya atau karena penulisnya mencari tahu hal yang ia tulis lewat buku yang dibaca, artikel, dan sumber lainnya. 

Kenapa aku ingin menulis novel lagi?

Setelah hampir tiga tahun aku berhenti menulis naskah novelku, keinginan menulis novel itu masih tetap ada dan akan tetap ada selama aku belum berhasil menuliskannya. Meski di semester awal kuliah aku sempat menulis cerita lagi. 

Cuma sampai sekarang belum bisa selesai tulisan itu karena naskahnya ada di laptop lamaku. Mau lanjutin lagi udah nggak bergairah dan aku agak kesulitan untuk mulai menulisnya karena ada ide lain yang lebih menarik, yang saat ini sedang aku kerjakan. 

Aku sempat menulis tentang kehidupan suami-istri yang baru menikah bukan karena cinta tapi atas dasar persahabatan. Aku kepikiran ide itu sejak aku baca novel tentang kehidupan rumah tangga yang idenya udah terlalu umum banget sampai akhirnya ceritanya juga udah bisa ketebak sesuai dugaanku bakal seperti apa. 

Kemudian, abis aku baca itu, aku ngerasa nggak puas sama ceritanya. Kadang, ya, kalau lagi baca terus nggak sesuai sama harapanku, misalnya kepingin ceritanya A, tapi malah B. Aku suka kepikiran kenapa nggak buat cerita yang jalan ceritanya aku suka. Nah, dari situlah awal aku muncul ide nulis cerita tentang cerita itu. Karena rasa nggak puas usai membaca novel.

Kali ini, masih berangkat dari rasa tidak puasku akan novel-novel yang sudah kubaca. Aku memutuskan membuat cerita yang aku ingin dan kurasa belum ada yang menulis ide yang aku pikirkan ini. Meski idenya berbeda dari ide sebelumnya, bukan tentang kehidupan pernikahan lagi. Tapi lebih banyak mengenai hal-hal yang sering aku pikirkan setahun terakhir ini. 

Selama proses mencari ide dan merenung, aku juga terus mencari gaya penulisan untuk ceritaku. Kaya ceritanya mau dibawakan dari sudut pandang orang ke berapa. Karena itu ngaruh banget dalam pembawaan sebuah cerita. Makanya, aku sering baca novel dari sudut pandang yang berbeda-beda dan mungkin bisa sesuai sama yang mau aku tulis. Selain itu, bisa bikin aku nyaman selama menulisnya.

Keinginan menulisku semakin kuat setelah aku baca novel Jodoh karya Pahd Pahdepie dan Lelaki Terakhir yang Menangis di Bumi karya Aan Mansyur. Dari dua novel itu, yang aku suka adalah cara pengemasan cerita dan sudut pandang dalam berceritanya, selain cerita yang bisa dibilang cukup menarik. Selama membaca novel itu, aku kepikiran ingin membuat cerita yang dikemas dengan cara yang nggak jauh beda, tapi tetap ada ciri khasku sendiri. 

Namanya masih belajar, tentu awalnya perlu banyak meniru dan mengamati. Dan, dua novel itu jadi acuanku dalam menulis novel yang sedang kutulis saat ini. Untuk kalian yang belum baca, aku sarankan untuk membaca dua novel tersebut. 

Itu adalah novel yang bagus menurutku, meski aku paling suka novelnya Aan sih. Sampai aku mikir, ini mirip kisahnya Aan sendiri. Tapi, ada hal-hal yang diubah dan ditambahkan dari cerita tersebut. Saking segitu bagusnya pengemasan dan sudut pandang ceritanya menurutku.


Bagimana cara aku mulai menulis novel?

Aku sering banget datang ke acara bedah buku setiap ada peluncuran buku baru yang menarik perhatianku atau karena karya si penulis itu sudah kutunggu sejak lama. Setiap acara bedah buku seperti itu, tentu ada sesi tanya jawab sama penulis. Berdasarkan pengamatanku sejauh ini, sering banget muncul pertanyaan soal menulis. Misalnya, inspirasi menulis datangnya dari mana sehingga bisa menghasilkan buku. 

Dan tentu jawabannya udah bisa ketebak bakal seperti apa. Kira-kira seperti ini: inspirasi setiap orang beda-beda. Tentu dia bisa datang dari mana saja dan dari hal-hal sederhana yang dekat dengan kehidupan kita. Kalau mau nulis, mulailah dari hal-hal yang dekat dengan kehidupan kita dulu.

Apa yang dikatakan sebagian besar penulis soal inspirasi menulis atau dari buku tentang menulis yang pernah kubaca, jawabannya nggak jauh beda dari itu.

Bicara soal ide atau inspirasi menulis, pertanyaan yang ingin aku tanyakan bukan sekadar ide nulis datang dari mana. Tapi, lebih ke bagaimana cara mengenali ide cerita dan mengolahnya menjadi cerita yang menarik. Itu salah satu hal yang kadang masih sulit dilakukan kalau kita sendiri nggak peka sama hal-hal yang ada di lingkungan kita atau kalau kita punya banyak banget ide, kadang suka kesulitan memilih dan menentukan ide yang sebaiknya perlu digarap terlebih dulu.

Dalam mengenali ide dan mengolahnya menjadi cerita, kalau aku pribadi dengan menuliskan ide-ide yang mau aku tulis. Di antara ide-ide yang ada, aku coba cari ide yang paling bikin aku tertarik dan penasaran untuk mencaritahu lebih ide tersebut. 

Kadang, ada ide yang sebenarnya nggak terlaku kuat. Tapi, aku coba tulis dulu ide tersebut dan mencari ide lain sampai ide-ide yang ada itu terkumpul dan cukup kuat untuk bisa disatukan menjadi bahan ceritaku.

Hal itu juga yang aku coba lakukan dalam menulis novelku kali ini. Aku punya ide nulis tentang A, B, C, dst. Tapi, ide A sampai C itu belum cukup kuat. Makanya, aku suka coba cari tahu satu-satu mengani ide yang bakal aku tulis, entah itu nanya teman atau baca-baca artikel, serta mulai melakukan pengamatan. Kadang nanya ke diri sendiri juga. Meski, belum sepenuhnya pasti bakal menemukan jawaban. Malah yang ada, mengundang pertanyaan baru muncul.

Setelah melalui proses yang agak lama dalam memilih dan mengolah ide, mana yang harus aku ambil dan mana yang sebaiknya aku hilangkan, baru di situ aku mulai menulis ceritaku. Kemarin siang, seharusnya aku mengerjakan revisi sempro-ku. Tapi, malah aku gunakan waktu itu untuk menulis nakash novelku. 

Hasilnya lumayan, selama beberapa jam menulis aku berhasil menulis sebanyak 17 halaman.  Dari prolog sampai bab 3. Setelah sampai di bab 3, aku memutuskan untuk mengakhirinya. Aku khawatir terlalu menggebu-gebu di awal. Malah bikin aku kehilangan staminaku di awal. 

Sebelum itu terjadi, aku memilih berhenti menulis agar besok-besok semangat menulisku tetap stabil atau masih sama. Karena semangat menulis itu perlu dipacu dan dijaga. Jangan sampai terlalu bersemangat dan jangan sampai hilang. Meski, sampai saat ini, aku sendiri masih berusaha mencari dan melakukan berbagai cara agar mempertahankan semangat menulisku ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Novel Si Bungsu “Amelia” karya Tere Liye

Tentang Kamu, Novel Biografi Sri Ningsih karya Tere Liye

7 Hal yang Bisa Kamu Renungkan dari Buku "Jika Kita Tak Pernah Jatuh Cinta"