Sebuah Percobaan, 14 Hari #PuasaMediaSosial

Foto: JeanneMenjoulet

Di era teknologi yang semakin berkembang saat ini, membuat sebagian besar orang semakin mudah memiliki ponsel pintarnya sendiri. Kemudian hal ini juga membuat aktivitas di media sosial semakin meningkat. 

Sehingga, kalau kita perhatikan kondisi sekitar kita, tentu kita akan lebih mudah menemukan banyak orang yang terlihat sibuk dan tak bisa lepas dari ponsel pintarnya, ke mana pun mereka pergi. Termasuk ke kamar mandi sekali pun, seperti yang pernah diceritakan teman kuliahku.

Mereka bercerita bahwa terkadang, mereka suka membawa ponsel mereka ke kamar mandi atau toilet untuk sekadar bermain media sosial, karena tak mau melewatkan informasi atau sekadar ingin mengusir rasa bosan saat berada di kamar mandi. Terlepas dari bagaimana mereka melakukannya saat di kamar mandi.

Sebelum masuk kepembahasan terkait judul di atas soal aksi #PuasaMediaSosial ini, ada pertanyaan yang terlebih dulu perlu kalian jawab. 

Seberapa sering kalian menggunakan media sosial?

Mari coba kita jawab secara jujur dengan menanyakannya pada diri kita masing-masing.

Oke, kalau sudah. Simpan jawaban itu baik-baik.

Berdasarkan sebuah penelitian yang diterbitkan tahun 2015 di junal Cyberpsychology, Behavior, and Social Networking menemukan bahwa frekuensi penggunaan media sosial yang terlalu sering pada remaja dikaitkan dengan peningkatan risiko kesehatan mental yang buruk.

Selain itu, penelitian lain yang dipresentasikan pada pertemuan American Psychological Association di tahun 2011 juga menemukan kaitan antara remaja pengguna aktif media sosial dengan skizofernia dan depresi seperti dikutip di laman Hello Sehat, Sabtu (9/6).

Berdasarkan hasil penelitian tersebut, menunjukan bahwa intensitas yang terlalu lama di media sosial membawa dampak buruk terhadap kesehatan mental seseorang yang dapat menyebabkan gangguan mental seperti skizofernia dan depresi. 

Biasanya gejala yang muncul akibat penggunaan media sosial terlalu lama ini juga ditandai dengan munculnya perasaan cemas, mudah marah, sensitif, dan kesulitan tidur atau mengalami insomnia. Untuk infromasi lebih lengkapnya bisa kalian baca di sini dan di sini

Kalian pernah nggak sih, mengalami gejala-gejala tersebut?

Kalau mungkin pernah merasakan atau sedang mengalami, kalian patut mewaspadai dan menyadari hal itu sedini mungkin. 

Sebenarnya, udah nggak heran lagi kalau hal itu mungkin pernah kita rasakan. Tentu ini karena kebiasaan kita yang berlebihan dalam menggunakan media sosial. Coba kalian perhatikan baik itu pada lingkungan sekitar atau diri sendiri. 

Terkadang setiap ngobrol sama teman, kita kadang suka sibuk sama media sosial kita. Ketika makan bukannya berdoa dulu, tapi malah siap-siap mengabadikan makanan yang mau kita makan sebelum mengunggahnya ke media sosial. Lalu saat di kendaraan umum,  kadang kita jadi asyik sendiri berselancar di media sosial dan melupakan sekitar kita. 

Sehingga di mana-mana kebanyakan orang itu seolah tak bisa lepas dari media sosial dan tak heran kalau akhirnya mengalami gejala-gejala tersebut. Oke, daripada bicara orang lain. Lebih baik kita berkaca pada diri kita sendiri. Coba jawab jujur lagi sama diri kalian sendiri, pertanyaan-pertanyaan berikut ini:

Apa yang kalian lakukan saat pertama kali bangun di pagi hari?

Apa yang kalian lakukan saat pergi memesan makanan?

Apa yang lebih banyak dilakukan di saat waktu luang kalian? 

Dan, apa yang kalian lakukan sebelum pergi tidur di malam hari?

Biar kutebak, apakah kalian menjawab: mengecek smartphone untuk kemudian melihat media sosial?

Jika itu jawaban kalian, mungkin kalian mengalami hal serupa denganku atun mungkin para pengguna media sosial lainnya yang kecanduan akan media sosial. Harus kuakui, aku sempat mengalami hal itu, sebelum akhirnya menyadari bahwa kebiasaan itu sudah membawa pengaruh buruk terhadap kualitas hidup yang kujalani saat ini. 

Memang, hal ini kadang sulit untuk disadari, apalagi bagi mereka yang sudah kecanduan kategori berat yang hidupnya seolah tidak bisa lepas dari media sosial. Jadi selalu merasa ada yang kurang setiap nggak bisa membuka media sosial dalam satu hari itu. Sehingga, hal ini yang membuat setiap orang ke mana pun pergi, media sosial harus terus update!

Kalian pernah nggak, sih, merasa lelah akibat ketergantungan dengan media sosial? 

Belakangan ini, setelah mulai menyadari sikap dan kebiasaan akibat ketergantungan media sosial, lama-lama aku merasa lelah dan jenuh sendiri karena aktivitas di media sosial yang secara berlebihan itu. Kadang juga suka mengalami gejala-gejala seperti di atas, seperti merasa cemas sendiri dan yang lebih parahnya kesulitan tidur. 

Aku memang tipe orang malam. Maksudnya di sini adalah aktivitasku sering dilakukan di malam hari. Setiap hari, aku kerap pulang malam, entah itu karena baru pulang kuliah atau pulang liputan kalau ada jadwal liputan sampai larut malam. 

Karena aktivitas itu juga, aku jadi terbiasa setiap hari pulang malam. Bahkan, pernah sempat merasa aneh ketika suatu hari aku pulang cepat dan kondisi langit masih terang. Mungkin, karena sudah kebiasaan pulang malam tadi.

Lalu, apa yang dilakukan setiba di rumah?

Ya, bukannya istirahat dan bergegas tidur. Justru aku malah melakukan kegiatan lain seperti mengerjakan tugas kuliah atau menulis berita untuk hari itu atau keesokan harinya selama magang ini. 

Lalu, ketika semua pekerjaan beres itu beres atau aku sudah terlalu lelah mengerjakan. Justru tak lantas membuatku langsung tidur, biasanya aku malah asyik tidur di kasur sambil berselancar di media sosial sebelum benar-benar tidur, bahkan sampai lupa waktu dan sulit untuk tidur. 

Baru menyadari setelah melihat jam sudah belalu begitu saja dan tanpa terasa hari sudah masuk hari berikutnya saja, Padahal, kukira aku hanya sebentar saja bermain media sosial. Tapi, nyatanya malah bisa sejam atau dua jam sendirian. Karena keasyikan sendiri main media sosial. Jadi, memang benar kalau media sosial itu bikin candu. Buktinya aku merasakan sendiri setelah terlalu sering bermain media sosial.

Sebagai pengguna aktif di media sosial, sebenarnya sempat ada keinginan untuk berhenti menggunakan media sosial karena mulai menyadari efek negatif yang aku rasakan. Meski di sisi lain ada manfaat yang bisa kudapat juga. 

Kalau bicara soal media sosial itu seperti dua sisi mata uang, nggak selamanya buruk dan nggak selalu berdampak positif. Pasti ada sisi negatif dan positifnya yang tentu akan mempengaruhi kehidupan kita saat ini. Memang keinginan untuk berhenti itu sudah ada sejak lama. Tapi, entah mengapa aku masih maju mundur alias ragu sehingga keinginan itu tak kunjung terpenuhi. 

Hal yang membuat kecanduan main media sosial

Awalnya, aku cuma aktif di satu media sosial saja yaitu Instagram. Sebelum akhirnya kembali memutuskan bergabung dengan pengguna Twitter lainnya karena terbujuk rayu temanku, Anang. Dia mengatakan bahwa bermain Twitter itu seru. 

Meski saat itu, aku memang nggak begitu menanggapi ajakan dia untuk aktif di Twitter lagi. Selain karena lebih nyaman di Instagram @senjaandbooks yang sudah tiga kali ganti nama itu. 

Masih ingat sekali, pertama gabung ke Instagram itu sejak Desember tahun 2015. Padahal jauh sebelum itu, orang-orang sudah mulai beralih menggunakan Instagram. Tapi saat itu, aku baru memutuskan membuat akun sendiri karena memang ingin ikut kuis berhadiah buku di Instagram. 

Sebelum hijrah ke sana, awalnya aku lebih sering aktif di Twitter dan Facebook. Setelah pindah ke Instagram dan terus menggunakannya hingga saat ini, aku merasa Instagram media sosial yang paling mebuatku nyaman dan betah bertahan lama, hingga bikin lupa waktu. 

Karena di Instagramku, akun-akun yang aku ikuti adalah sebagian besar dari kalangan pecinta buku atau kini sebutannya bookstagram, orang-orang yang senang mambagikan kegiatan membaca mereka dengan menampilkan buku yang mereka baca, akan dibaca, atau selesai dibaca. Pokoknya, segala hal yang berkaitan dengan buku mereka unggah. Hal itu juga yang aku lakukan di media sosialku sendiri.  

Karena dari situlah, aku juga jadi punya banyak teman baru yang memiliki kesukaan dan hobi yang sama terkait buku. Lebih akrab bahkan berteman baik dengan mereka untuk sekadar bererita dan ngobrolin soal buku, entah itu di kolom comment foto atau DM Instagram. 

Hal-hal seperti itu, bagiku sangatlah menyenangkan dan bikin kecanduan, terutama untuk orang-orang yang jarang atau bahkan sulit memiliki teman sesama pecinta buku. Yang bisa sama-sama mengerti dan memahami soal buku dan aktivitasnya, bukan sekadar aktivitas membaca saja.

Dampak buruk akibat kecanduan media sosial

Kalau dulu buku bisa dijadikan objek untuk mencari pengetahuan baru, pengalaman baru, bahkan menginspirasi. Kini di era perkembangan teknologi, aktivitas membaca tidak lagi terlihat semembosankan itu. Karena dengan buku yang kita miliki kita bisa bebas berekspresi dengan beragam foto-foto ala bookstagram sehingga tampilan buku lebih menarik dan tak jarang, karena melihat foto itu muncul dan berkeliaran di Instagram, keinginan membaca dan membeli buku itu jadi semakin tinggi. 

Melalui ulasan yang diberikan, kita jadi punya pertimbangan sebelum membeli buku. Di satu sisi, media sosial, terutama Instagram memang memiliki manfaat yang baik, selain menyenangkan dipakai. Tapi di sisi lain, kebiasaan konsumtif membeli buku, kemudian menimbunnya menjadi tumpukan buku yang entah kapan akan berakhirnya itu menjadi hal yang menurutku jadi tidak sehat, entah itu untuk sisi psikologis atau dari sisi keuangan. 

Apalagi untuk mahasiswa seperti aku yang belum memiliki pekerjaan tetap. Sehingga tak jarang, aku juga suka buka jastip beli buku bekas karena dari situ keuntungan yang didapat bisa untuk beli buku atau dari penjualan buku-buku yang sudah tak aku baca lagi.

Alasan dibalik #PuasaMediaSosial

Tulisan ini kutulis satu hari sebelum keberangkatanku ke kampung halamanku di Tasikmalaya. Kampung halaman yang hanya tiap setahun sekali kudatangi menjelang Idul Fitri. Karena memang, orangtuaku dua-duanya asli orang Tasik. Mau nggak mau, tiap tahun baliknya, ya, ke sana.

Kembali ke kampung, menurutku menjadi kesempatan yang baik untuk menenangkan diri dari hiruk-pikuk kota Jakarta yang padat, sesak, dan semerawaut. Meski, sebenarnya Jakarta juga tidak seburuk yang aku katakan tadi. Karena di kota ini, aku juga banyak belajar tentang kehidupan. Duh bahasanya udah kaya apa aja hehe.

Setiap kembali ke Tasik aku seperti pulang ke rumahku sepenuhnya, bukan hanya ragaku tapi juga jiwaku. Karena itulah, aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang hanya kudapat setahun sekali ini dengan terlalu sibuk di media sosial. Aku ingin lebih mendekatkan diriku dengan keluarga yang selama ini jarang kutemui selama aku kuliah di Jakarta.

Selain itu, aku ingin menikmati waktuku sepenuhnya bersama mereka karena selama ini aku jarang sekali punya waktu untuk berkumpul bersama. Mengingat, aktivitasku di semester ini cukup menyita waktu, bukan hanya diriku, tapi juga keluargaku. Beruntungnya aku, mereka masih bisa memahamiku, tapi sebagai anak, aku tidak bisa terus-terusan meminta mereka untuk paham selamanya. 

Ada satu artikel yang aku baca di Kompas.com, kalian bisa baca di sini. Tulisan itu yang kemudian menginspirasiku untuk melakukan percobaan ini. 

Hal-hal yang ingin dilakukan saat #PuasaMediaSosial

Aku ingin berhenti sejenak dari aktivitasku di dunia maya dan menikmati waktu yang kupunya sepenuhnya untuk orang-orang terdekatku dan diriku sendiri. Dan, ada banyak hal yang sebenarnya ingin kulakukan, tapi tak kunjung kulakukan. 

Mungkin di saat puasa media sosial nanti, waktu itu akan kugunakan untuk melakukan beberapa kegiatan yang sudah lama ingin kulakukan, tapi jarang dan sulit dilakukan. Mulai dari membaca buku-buku yang sudah lama ingin kubaca, tapi belum juga dibaca. Lalu menulis blog secara rutin yang dimulai dari hari ini. Dan, lebih banyak berkumpul dengan keluargaku di Tasik. 

Walau nanti aku berhenti menggunakan media sosial selama 14 hari. Aku akan tetap coba membagikan perkembanganku melakukan percobaan ini lewat tulisan di blog sekaligus membiasakan diriku untuk rutin menulis blog lagi. 

Mungkin aku akan cerita soal bagaimana rasanya pertama kali tidak menggunakan media sosial, kesulitan apa yang aku rasakan dan alami saat berhenti menggunakan media sosial selama 14 hari itu, kegiatan apa yang aku lakukan selama puasa dari media sosial, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan puasa dari media sosial ini. 

Oya, di sini aku hanya berhenti dari media sosialku seperti Facebook, Twitter, terutama Instagram. Tapi bukan berarti aku nggak  bakal menghilang selamanya. Kalau kalian mau menghubungiku, kalian bisa menghubungiku melalui WhatsApp, sms, telepon, atau email di septianirahayu20@gmail.com. Semoga aku bisa melakukan percobaan ini.

Kalian tertarik melakukannya juga? 

Yuk, coba lakukan juga dan ceritakan pengalaman kalian dalam aksi #PuasaMediaSosial bersamaku. Kalian bisa bebas menentapkan waktunya. Kalau untuk saat ini, aku akan mencoba melakukannya selama 14 hari dulu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Novel Si Bungsu “Amelia” karya Tere Liye

Tentang Kamu, Novel Biografi Sri Ningsih karya Tere Liye

7 Hal yang Bisa Kamu Renungkan dari Buku "Jika Kita Tak Pernah Jatuh Cinta"