Kamis, 14 Juni 2018


Sumber: Techinasia

Awal-awal berhenti main media sosial itu rasanya susah banget. Mungkin memang udah kebiasaan tiap hari nggak pernah lepas dari media sosial. Selain itu juga karena ada perasaan takut ketinggalan informasi dan nggak tahu apa-apa mengenai isu yang sedang berkembang saat itu.

Selain melalui aplikasi berita di ponsel, salah satu caraku mendapatkan informasi juga bisa lewat media sosial karena memang mengikuti beberapa akun berita seperti Tempo, Kompas, Republika, Mojok.co, Tirto.id dan lainnya.

Apalagi aku juga mengikuti beberapa akun penerbit buku yang ada sehingga aku bisa lebih tahu buku-buku yang akan rilis atau buku yang banyak dibicarakan orang di Instagram melalui akun @senjaandbooks yang memang aku khususkan untuk akun buku. 

Namun, sejak melakukan percobaan #PuasaMediaSosial aku berusaha untuk menjalankan ini secara sungguh-sungguh dengan mulai menghapus Twitter, yang belum lama ini aku install lagi setelah memutuskan kembali ke dunia per-Twitteran. 

Untuk menghapus Twitter sebenarnya nggak terlalu susah, toh, aku juga belum lama kembali ke Twitter. Sementara Facebook aku memang sudah lama nggak main Facebook, paling buka Facebook dari laptop. Itu pun jarang banget. Jadi, untuk puasa dari Facebook sebenarnya nggak terlalu sulit banget. 

Nah, kalau yang terakhir ini beda lagi ceritanya. Puasa dari Instagram merupakan hal yang sulit. Apa lagi diantara ketiga media sosial yang ada, bisa dikatakan aku paling aktif di Instagram dibanding Twitter atau Facebook.

Sampai hari kelima, aplikasi Instagram ini masih belum bisa aku uninstall rasanya masih berat banget. Meski begitu, aku tetap bertahan nggak main Instagram kok. Pernah sih, ada keinginan untuk curi-curi kesempatan buka Instagram meski cuma sekali karena tergoda setiap buka ponsel selalu ngeliat Instagram. Tapi, akhirnya nggak jadi. Syukurlah.

Pernah juga secara nggak sadar hampir mau buka Instagram karena udah otomatis buka Instagram setiap buka ponsel. Untungnya sadar duluan. Jadi buka Instagramnya batal deh. Kalau untuk puasa dari Instagam memang diperlukan niat dan keteguhan hati yang kuat. Karena tanpa itu, bakalan sulit dan mudah tergoda untuk buka dan main Instagram.

Membiasakan diri untuk terbiasa hidup tanpa media sosial memang tidaklah mudah. Apalagi kalau sehari-hari, kita terbiasa aktif bermain media sosial bahkan hingga lupa waktu. Tapi dibalik kesulitan itu, tentu ada banyak manfaat yang bisa kita rasakan, terutama buatku pribadi. 

Semenjak tanggal 10 Juni 2018 berhenti dari kegiatan di media sosial, hingga hari ini aku menulis di blog, itu artinya sudah terhitung lima hari aku hidup bebas tanpa media sosial.
Di tulisan kali ini aku ingin bercerita manfaat apa saja yang bisa didapatkan selama puasa media sosial dalam waktu lima hari ini

1. Kualitas tidur lebih baik

Sumber: Kompas.com

Punya masalah tidur atau mengidap insomnia?

Berhenti dari media sosial dapat menjadi salah satu cara mengatasi masalah tidur yang selama ini mungkin kita rasakan. Aku pribadi termasuk orang yang punya masalah tidur. Hal ini karena kebiasaan tidur hingga larut malam atau begadang yang justru malah membuat kualitas dan jam tidurku berkurang.

Waktu tidur yang baik seharusnya sekitar tujuh jam untuk orang dewasa seperti yang aku baca dari beberapa artikel terkait masalah ini. Tapi, aku jarang bisa memenuhi waktu tidur sampai tujuh jam sehari. Karena memang kebiasaan pulang larut malam lantaran jarak antara rumah dan kampusku cukup jauh. Selain itu, diperparah dengan penggunaan media sosial sebelum tidur di malam hari. 

Karena setelah seharian beraktivitas, waktu yang paling menyenangkan main media sosial itu di malam hari dan itu sebelum tidur. Kebiasaan buruk satu ini awalnya hanya sebentar, tapi yang ada malah bikin nggak bisa tidur karena kecanduan dan hilangnya perasaan kantuk. 

Mungkin ini juga disebabkan karena paparan cahaya yang kita peroleh dari layar ponsel kita.  Berdasarkan penelitian dari seorang profesor asal Univeritas Monash, Shantha Rajaratnam, cahaya layar yang menyala dari ponsel dan tablet dapat menggangu siklus tidur. Semakin dekat cahaya layar ke muka, maka penggunanya akan semakin sulit untuk tidur. 

Hasil ini juga didukung dengan penelitian yang dilakukan oleh Rensselaer Polytechnic Institute di New York, AS. Para ahli ini mengatakan bahwa paparan cahaya dari tablet dapat menurnkan kadar hormon melatonin dalam tubuh hingga 23 persen seperti dikutip dari Kompas.com, Kamis, (14/6).

Hormon melatonin ini sendiri merupakan hormon yang dapat membantu seseorang untuk tidur dengan cara memberitahu tubuh bahwa situasi di sekitarnya sudah gelap, yang menandakan tubuh harus segera tidur.  

Tapi, karena main media sosial, hormon melatonin ini justru tidak bisa memberikan pengaruh tersebut karena tubuh memperoleh paparan cahaya dari ponsel saat kita bermain media sosial, apalagi jika terlalu lama. 

Untuk artikel lebih lengakapnya bisa kalian baca juga di Tekno Kompas.com dengan judul "Susah Tidur Karena Ponsel, Ini Penjelasannya" atau baca di sini

Dengan puasa media sosial, aku mlah justru bisa tidur lebih cepat. Yang tadinya baru bisa tidur jam 1 atau 2 malam, sekarang jam 9 atau jam 10 saja sudah bisa tidur dan merasa ngantuk sekali. 

Apalagi saat ini aku lagi berlibur di Tasik dan jam segitu di sini dianggap sudah malam. Sehingga kebanyakan orang sudah tidur di jam-jam segitu. Mau nggak mau, aku juga ikut-ikutan tidur lebih awal. Meski, sesekali pernah nggak bisa tidur juga karena menganggap jam 9 atau jam 10 malam masih terlalu dini untuk tidur. Mungkin ini karena kebiasaan tidurku yang selalu malam tadi. 

Karena bisa tidur malam lebih cepat, maka waktu tidur pun jadi lebih lama. Dan, hal ini mempengaruhi kualitas tidur yang kita miliki. Setiap bangun tidur, perasaan jauh lebih enak dan badan tidak terasa pegal. Aku merasa kualitas tidur jauh lebih baik dari sebelumnya, saat masih bermain media sosial.

Kalau kamu mau merasakan kualitas tidur yang baik, bisa salah satunya dengan cara mengurangi aktivitas di media sosial menjelang tidur ini.

2. Lebih bahagia

Sumber: Thinkstock.com

Bagi generansi millenial saat ini kebahagiaan bisa diperoleh dengan mudahnya hanya dari jumlah pengikut. Sehingga tak heran, banyak orang yang berlomba-lomba mendapatkan banyak followers bahkan rela membeli followers saking terobsesi punya banyak pengikut dan nggak heran juga sampai ada yang menjual followers segala. ckck. 

Selain banyaknya jumlah pengikut, jumlah penyuka status juga dapat menjadi tolak ukur kebahagiaan seseorang dalam menggunakan media sosial. Hal-hal seperti itu mungkin memberikan kebahagiaan tersendiri, tapi apakah hal itu mampu menjadikan kebahagiaan ini bertahan lama?

Ketika berhenti dari media sosial, bukan lantas kebahagiaan justru menghilang dan hidup menjadi tidak bahagia. Menurutku, dengan  berhenti dari media sosial beberapa hari ini. Kebahagiaan semu yang kita dapat dari media sosial seperti itu bisa tergantikan dengan kebahagiaan lain yang jauh lebih utuh dan tahan lama.

Saat kita berhenti dari media sosial, tentu kita tidak perlu memikirkan perkara jumlah pengikut atau penyuka status yang kita buat lagi. Karena kebahagiaan yang sebatas pada jumlah pengikut dan jumlah like yang kita dapat akan tergantikan dengan kebahagian lain yang efeknya lebih tahan lama dibandingkan itu.

Selain itu, kita tidak akan dibuat pusing lantaran harus berpikir soal apa yang mau kita tulis atau kita unggah di media sosial. 

Pernah nggak sih, kalian bingung ketika hendak memilih foto apa yang mau kalian unggah di media sosial. Karena apa yang kita unggah ini nantinya juga akan berpengaruh pada jumlah love yang kita dapat atau pengikut akun kita. 

Dengan berhenti dari media sosial, kita tidak perlu lagi memikirkan hal seperti itu dan hal ini justru lebih membawa kebahagiaan tersendiri dalam kehidupan.

3. Lebih dekat dengan keluarga


Sumber: Shutterstock

Media sosial memang mampu membuat kita terhubung dengan orang-orang yang berada jauh dari kita. Di sisi lain, media sosial juga mampu menjauhkan orang-orang yang dekat dengan kita karena fokus kita lebih banyak dicurahkan pada orang-orang yang jauh itu.

Padahal di dekat kita, ada orang yang seharusnya bisa kita lebih perhatikan dari sekadar mereka yang jauh dan tidak punya kedekatan lebih seperti keluarga sendiri. 

Berhenti dari media sosial, buatku pribadi memberi kesempatan untuk lebih mengenal dekat orang-orang terdekatku. Apalagi saat ini, aku sedang mudik di kampung halamanku. Sehingga aku kembali dipertemukan dengan keluarga di Tasik, misalnya saja nenekku atau aku biasa memanggilnya emak. 

Cuma di saat momen mudik yang setahun sekali ini saja aku punya kesempatan untuk dekat dan ngobrol sama emak. Aku suka bercerita sama emak atau mendengar cerita-cerita emak di masa mudanya.

Seperti cerita tadi malam soal pertemuan emak dan mamaku saat masih muda dulu. Bagaimana mamaku bisa bersama dengan bapakku sekarang ini pun karena hubungan baik antara mama dan emak, kemudian emak meminta bapakku untuk menikah dengan mama karena ia mengenal baik mamaku orangnya seperti apa.

Meski sederhana, aku sangat senang bisa mendengar cerita-cerita seperti itu. Kemudian cerita lain soal kakek yang sejak aku lahir aku sama sekali belum pernah melihatnya, yang kutahu hanya cerita soal kakek yang pernah ikut berperang melawan Belanda saat itu. 

Menurut cerita mama, kakekku juga orang yang baik, tutur bahasanya juga sopan dan lembut. Membayangkan kakek dari cerita-cerita emak dan mama tadi malam membuatku rindu akan kehadiran kakek yang tak pernah kulihat itu. 

Tapi lewat cerita mereka, aku merasa lebih dekat dengan kakekku ini. Setidaknya, aku bisa tahu kakekku itu orang yang seperti apa. Walau secara fisik, aku belum pernah sekalipun melihat parasnya.

Dengan berpuasa media sosial, aku punya waktu untuk bertukar cerita dengan keluargaku dan mengenal mereka lebih dekat dan hal seperti ini malah membawa kebahagiaan tersendiri, sekaligus mengobati kerinduan terdalam pada mereka yang selama ini jauh dariku.

4. Melakukan kegiatan menyenangkan 

Sumber: Telegrafi.com

Banyak hal yang bisa dilakukan saat berhenti dari media sosial, salah satunya adalah membaca buku. Selama mudik ini ada dua buku yang aku bawa yaitu Anak Rantau karay A. Fuadi dan Mindset karya Carol S. Dweck, Ph.D. Dua buku itu yang kupilih sebagai teman mudikku kali ini.

Membaca dua buku itu, meski belum selesai kubaca ternyata mampu mempengaruhi kondisiku saat ini. Misalnya saja membaca Anak Rantau-nya Bang Fuadi membuka pandangan arti rantau itu sendiri. 

Meski selama hampir 15 tahun ini aku tinggal di Jakarta bersama orangtuaku dan sudah diakui sebagai warga DKI Jakarta berdasarkan kartu kependudukan. Tapi, tetap saja kampung halamanku sekaligus rumahku adalah Tasikmalaya.

Membaca Anak Rantau juga membuat aku ingin kembali dan tinggal di kampung halamanku di masa mendatang nantinya. Aku ingin hidup dan tinggal bersama keluargaku di kampung halaman sendiri, apalagi merawat orangtuaku jika mereka sudah tua nanti.

Tapi kalau misalnya sudah menikah dan harus ikut suami dan tidak bisa tinggal di Tasik. Setidaknya, aku ingin di hari tua tinggal bersama keluarga kecilku di desa atau kampung yang tenang dan sejuk seperti di Tasik.

Siapa pun calon suamiku nanti, kalau mungkin kamu baca ini, aku akan ikut ke mana kamu pergi asal kita bisa hidup bersama dan menghabiskan hari tua kita di desa atau kampung yang tenang dan sejuk, soal tempatnya nanti bisa kita diskusikan bersama.

Duh, kenapa jadi bahas soal itu sih. Iya, soalnya kan nggak mungkin selamanya tinggal sama orangtua. Pastinya ada keinginan bisa hidup dan membangun keluarga sendiri. Tapi, nanti kalau sudah siap segalanya. Ini kan hanya recana. 

Intinya membaca Anak Rantau membuatku rindu akan kampung halamanku. Selama ini banyak hal yang tidak aku kenal dengan baik mengenai kampung halamanku sendiri. Padahal kedua orangtuaku sama-sama asli Tasik, begitu juga aku. Tapi, banyak yang tidak aku tahu soal Tasik.

Jangankan soal daerah, bahasa daerahku sendiri. Harus kuakui aku sangat payah dalam berbahasa Sunda. Sampai kadang, mamaku sendiri memintaku sebaiknya menggunakan bahasa Indonesia saja. Saking bahasa Sundaku nggak enak didengar, katanya.

Selain itu, kadang aku juga tidak sepenuhnya paham dan tahu arti dari bahasa Sunda yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari di sini. Kadang, aku perlu bertanya sama orangtuaku untuk mengetahui artinya. Mungkin karena terbiasa mengunakan bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari, membuatku tidak terbiasa menggunakan bahasa daerahku sendiri. Miris banget, sih. 

Tapi, selama liburan di sini aku kerap berusaha mencoba berbicara menggunakan bahasa Sunda sebisaku. Itu pun bahasa yang kugunakan masih suka dikoreksi sama bapakku jika ketahuan berbicara bahasa Sunda dengan menggunakan kata-kata yang kurang sopan kepada yang lebih tua.

Terlepas dari itu, selama berpuasa media sosial. Aku berusaha untuk lebih banyak berinterkasi dengan orang lain terutama keluargaku menggunakan bahasa Sunda.

Ya, kira-kira itulah keempat manfaat yang aku rasakan selama lima hari ini berhenti atau #PuasaMediaSosial.

Setelah merasakan manfaatnya, sepertinya memang tidak ada salahnya atau sesekali kita memang perlu untuk berhenti sejenak dari aktivitas kita di dunia maya terutama media sosial. Kalian, berani mencoba?

Senja and Books . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates