Sumber: Freepik

Setiap orang memiliki alasan yang berbeda setiap ditanya ¨Kamu menulis untuk apa?¨

Jawabannya pun tentu beragam. Mungkin ada yang menulis karena hobinya memang menulis, terlepas dari apa yang dia tulis. Mungkin ada juga orang yang menulis karena pekerjaan yang mengharuskan ia menulis, misalnya penulis buku, blogger, penulis naskah sinetron, bahkan sampai profesi jurnalis. 

Mereka dituntut menulis karena itu sumber penghidupan mereka, di luar tujuan mereka yang mungkin juga menulis untuk bisa menghibur orang lain lewat tulisannya, berharap tulisannya dapat bermanfaat bagi orang yang membacanya, atau tujuan-tujuan lain di luar itu. Apapun itu, setiap orang punya alasan tersendiri mengapa mereka menulis.

Tapi, ketika pertanyaan itu coba kuajukan ke diri sendiri. Seketika aku memikirkan kembali alasan untuk apa aku menulis? Kenapa harus menulis? Apa yang sebenarnya aku cari dari menulis? 

Setiap hari, selama hampir tiga bulan magang di Republika Online sampai saat ini. Pertanyaan yang selalu aku tanyakan pada diri sendiri adalah ¨Hari ini menulis apa?¨

Yang kemudian membuatku tergerak untuk mencari tahu lebih dan membaca berita-berita dari berbagai sumber yang ada seperti Independent, Health Line, Standard, New York Post, dan media lainnya yang kerap menjadi bahan untuk menulis berita lansiran, ketika aku nggak bisa liputan mencari bahan beritaku sendiri. 

Selalu ada keresahan setiap kali aku belum menyelesaikan tugasku di sana. Karena ini sudah menjadi tanggung jawabku tidak hanya kepada Republika, yang telah memberikku kesempatan hingga akhirnya aku bisa lebih banyak belajar soal menulis, terutama menulis karya jurnalistik. Selain itu, aku punya tanggung jawab kepada diriku sendiri yang telah memutuskan untuk mendalami secara penuh keahlian satu ini. 

Menurutku menulis bukan bakat. Setiap orang bisa menulis dan berkesempatan menjadi penulis. Entah apa pun jenis bidang yang ditekuninya. Sejauh ini, prinsip itu yang aku pegang. Karena itulah, aku masih akan terus berusaha untuk belajar menulis. Kalau ditanya, sampai kapan? Maka jawabanku adalah sampai aku menyerah untuk belajar menulis. Jika aku terus berusaha, maka selama itu pula aku akan terus belajar menulis.

Karena aku menyadari kemampuan menulisku ini belum seberapa. Tapi, setidaknya perlahan aku mulai bisa merasakan perubahan dari tulisan-tulisanku yang sekarang dengan sebelumnya. Sungguh jauh berbeda. Tapi, itu bagian dari proses. Menulis itu soal latihan, semakin sering menulis maka kemampuan itu akan semakin terasah. Jika jarang, yang ada akan sulit berkembang. Dan hal itu memang benar adanya karena aku merasakannya sendiri.

Kenapa aku melakukan itu? 

Dulu, saat masih zaman SMK dan harus memilih ekstrakurikuler apa yang harus kuikuti. Aku sempat merasa bingung. Aku nggak tahu harus ikut apa saat itu karena merasa aku nggak punya bakat atau ketertarikan terhadap satu hal. 

Sebagai seorang remaja yang saat itu merasa tidak punya bakat apa pun, aku akhirnya mencoba mencari tahu dengan mengikuti beberapa kegiatan. Meski, pada akhirnya aku hanya bisa bertahan di satu tempat yang kemudian mempertemukan aku dengan orang-orang, yang membuatku belajar untuk menulis dan sekarang saat aku kuliah, aku berani mengambil jurusan jurnalistik hanya untuk mendalami dan menekuni keahlian satu ini.

Kalau ditanya, apa bakatku sekarang. Jawabanku masih sama seperti dulu. Aku merasa tidak ada bakat yang istimewa dariku. Kalau disuruh nyanyi, aku merasa menyanyi bukan suatu keahlianku karena menyadari tidak ada bakat atau keturunan menyanyi dalam keluargaku.

Meski, menyanyi juga sebenarnya bisa saja dilatih selama mau belajar dan berusaha. Tapi, aku merasa suaraku itu pas-pasan kalau dalam hal menyanyi. Sehingga hanya bisa dinikmati diri sendiri. Itu pun kalau aku nggak malas mendengar suaraku menyanyi. 

Ya, jangankan menyanyi untuk orang lain, menyanyi atau mendengarkan suaraku menyanyi untuk diriku sendiri saja kadang aku suka malas. Aku lebih baik menyanyi dengan suara pelan bahkan kalau bisa dalam hati saja. Karena itu tidak akan mengganggu telinga-telinga yang mendengarnya atau yang sering mendapat polusi suara dari beragam bunyi yang mengganggu. Aku tidak akan menambah gangguan di telinga mereka dengan suaraku yang menyanyi.

Memang separah itu kah? Yang jelas, aku tidak akan melakukan itu demi kesejahteraan kita bersama. Tapi, sesekali aku menyanyi untuk diriku sendiri, jika aku ingin dan tak peduli dengan suara yang kuhasilkan. Kalau itu terjadi, biasanya aku sedang ingin melepas kepenatanku sesaat lewat menyanyi sesekali. 

Tapi di luar itu, aku kerap menolak setiap diminta menyanyi. Kecuali menyanyi bersama-sama seperti saat upacara bendera setiap hari Senin saat masih sekolah dulu. Atau menyanyi karena untuk memperoleh nilai seni kebudayaan yang mau nggak mau aku harus lakukan itu, meski bukan atas dasar keinginaku sendiri.

Sama halnya dengan menyanyi. Bakat di bidang olahraga atau bela diri pun juga aku merasa nggak punya. Dulu saat aku SD, masih ingat sekali olahraga yang aku sukai adalah lari. Aku sempat bercita-cita menjadi pelari maraton. Lari membutaku merasa bebas, meski aku punya keterbatasan saat berlari. Masalah ini ada di kakiku. Setelah berlari, aku suka merasa kakiku gampang pegal-pegal dan suka keram. Entah karena kurang pemasanan di awal sebelum lari atau apa, tapi itu yang kualami hingga akhirnya aku berhenti dan mengubur cita-citaku itu.

Sementara bakat bela diri, aku juga penah sok-sokan ikut salah satu seni bela diri yaitu, karate. Tapi, aku hanya semangat belajar di awal-awal  pertemuan, ketika baru mempelajari beberapa jenis jurus atau gerakan. Di minggu berikutnya, ketika harus mulai bertanding satu lawan satu, aku malah mundur karena takut dipukul dan memukul. 

Akhirnya, aku berhenti dan tidak datang lagi sejak saat itu. Sampai sekarang, aku belum ada ketertarikan dalam hal bela diri. Meski sebenarnya ini diperlukan, setidaknya untuk menjaga diri sendiri dari segala bahaya yang mungkin mengancam nyawa dan keselamatan diri.

Dan terakhir, mengenai bakat menari. Sungguh, harus kuakui aku sama sekali tidak bisa menari. Tubuhku terlalu kaku untuk menari. Makanya, aku selalu takjub setiap melihat penari yang begitu lemah gemulai menari, melenggak-lenggok seakan tulangnya itu lentur berbahan karet. Bisa dengan mudah bergerak dan menari semudah dan seindah itu. Sedangkan aku yang pernah belajar menari piring di zaman SD selalu merasa tak bisa menari seperti itu. Gerakkanku kaku dan selalu ketinggalan dari yang lain. 

Kemudian, aku mencoba ikut tari Saman zaman SMK dulu. Berharap aku bisa menemukan bakatku dalam hal menari. Namun sayangnya, gerakanku sering salah sampai pernah ditegur oleh kakak kelasku sampai aku merasa takut karena membuatnya kesal gara-gara sulit mengajariku menari, sampai aku memutuskan hanya ikut satu kali itu saja. Minggu selanjutnya, aku nggak pernah ikutan lagi. 

Sampai akhirnya aku memilih mengikuti Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) bernama REACH 20. Di situlah aku mulai belajar menulis dan tetap bertahan di sana meski banyak tantangan yang harus kuhadapi selama mengikuti kegiatan di sana.

Semua itu berawal dari menulis karya ilmiah. Saat itu aku nggak tahu apa-apa soal karya ilmiah. Apalagi mesti buat penelitian supaya bisa ikut lomba LKIR di KIRJAS. Dengan berbekal buku panduan membuat penelitian ilmiah dan nanya sama kakak pembimbingku yang saat itu masih ada Kak Uswah dan Kak Elvi atau bertanya pada guru pembinaku Pak Arif, sekaligus guru matematika di SMK.

Aku akhirnya belajar membuat penelitian kecil-kecilanku saat itu. Kalau aku bisa bilang sekarang, tulisan penelitian nekat namanya. Nggak punya pemahaman atau ilmu yang cukup dan hanya modal nekat supaya bisa ikut lomba. Tapi dari situlah aku belajar semua itu. Meski tak jarang aku selalu merasa kesulitan dan bingung, tapi tetap saja kulakukan.

Anehnya, meskipun aku tahu itu sulit dan bahkan sesuatu yang aku nggak tahu sama sekali. Tapi, bisa membuatku mau melakukannya dan belajar tanpa harus takut seperti beberapa kegiatan yang kulakukan sebelumnya.

Dari semua kejadian itu, aku menyadari bahwa tidak ada bakat atau keahlian yang benar-benar mampu membuatku mau belajar dan mendalaminya selain menulis. Namun, sekarang pertanyaannya adalah selain karena itu, di luar bakat atau keahlian yang ingin aku tekuni. Sebenarnya, pertanyaan terbesarku masih tetap sama, ¨Kamu menulis untuk apa?¨

Ketika pertanyaan seperti itu ditanyakan kepada diri sendiri, tentu jawaban itu tidak bisa aku cari dari berbagai sumber yang ada. Melainkan aku harus menemukan jawaban itu dari diriku sendiri. 

Melalui tulisan ini, aku ingin memberi jawaban atas pertanyaan itu. Pertanyaan sederhana, namun membuatku kembali mengingatkanku pada cerita awal kenapa akhirnya aku memilih untuk mendalami keahlian menulis. Terutama semenjak aku memfokuskan diri untuk menulis atau lebih tepatnya belajar menulis yang baik. Tentu aku harus punya alasan yang kuat dengan bisa menjawab pertanyaan itu.

Menulis untuk apa?

Setiap menulis aku merasa bebas sama halnya seperti saat aku merasa bebas saat berlari zaman SD dulu. Ketika aku masih punya mimpi menjadi pelari maraton. Kalau sekarang, biarlah hati dan pikiranku yang bebas karena aku menuliskannya.

Lewat menulis juga, aku bisa bersuara, tanpa perlu bernyayi dan mengeluarkan suaraku yang pas-pasan ini, sehingga tak perlu menggangu ketenangan orang lain. Aku bisa bersuara, menyuarakan apa pun itu, baik yang membuatku cemas, takut, sedih, bahkan saat bahagia dan jatuh cinta. Biarkan perasaan-perasaan itu bersuara karena aku menuliskannya.

Dengan menulis, aku seolah merasa bisa menari. Meski hanya jari-jariku yang menari di atas papan tuts laptop atau secarik kertas kosong. Mungkin, tempatku menari bukan di lantai dan berpijak pada bumi, melainkan halaman kosong yang selalu membawaku masuk agar aku bisa menggoreskan hasil pikiran dan perasanku di dalamnya. Biarkan aku menari dengan sepuasanya, tanpa harus merasa takut karena aku menuliskannya.

Entah nantinya menulis ini akan menjadi hobi atau pekerjaanku. Di luar itu atau dari sisi internalku, aku menulis sepenuhnya untuk diriku sendiri. Agar aku bisa merasa lebih hidup, bahkan ketika aku kelak mati dan ragaku menyatu dengan bumi. Maka, tulisan-tulisan inilah yang akan menjadi pengganti kehadiranku di dunia.

Menulis juga membuatku, lebih jujur pada diriku sendiri. Ketika apa yang aku tulis bisa membuatku menjadi diriku sepenuhnya. Mengenali sebenarnya apa yang diinginkan diriku lewat tulisan-tulisan ini.

Kadang, aku sulit untuk mengungkapkan hal yang aku pikirkan dan aku rasakan secara lisan. Tapi, ketika aku menulis seolah semua itu tersampaikan lebih jelas dan sesuai dengan apa yang hati dan pikiranku sampaikan.

Mungkin, aku pernah merasa jenuh saat menulis. Harus kuakui itu, tapi aku tidak bisa melepaskan hal ini sekalipun aku sedang jenuh. Pada akhirnya, jenuh itu bisa diatasi dengan menulis juga. Bagiku, menulis sudah menjadi bagian dari hidupku. Dengan menulis aku merasa lebih bernyawa. Sehingga, aku tak mungkin bisa melepaskannya begitu saja. Sama seperti kehidupan, menulis juga harus hidup.

Kalau kamu, menulis untuk apa?