#Renungan : Mengendalikan Hasrat Membeli Buku

Berburu buku di BBW 2017 di ICE BSD, Tanggerang
Dok. Pribadi

Sejak membuka usaha jasa titip beli buku di IIBF 2017 dan sampai sekarang ini usaha itu terus berlanjut. Awalnya, aku membuka usaha itu karena memang setiap tahun selalu datang ke IIBF untuk memuaskan hasrat membeli buku secara gila-gilaan dalam satu waktu atau sekadar mengikuti berbagai acara di sana, seperti talkshow atau bedah buku bersama penulis.

Aku menyukai hal-hal semacam itu. Bagiku, pergi ke tempat-tempat seperti itu memberikan kepuasan tersendiri. Aku suka atmosfer saat berada di sana, dikelilingi banyak buku yang bisa membuat dompet kita menangis. Tapi, perasaan kita bahagia.

Jika sebagain besar orang menyukai diskon baju, tas, dan barang-barang lainnya. Bagi para kutu buku atau aku lebih senang menyebutnya, pecinta buku, diskon buku memberikan kebahagiaan tersendiri. Setiap orang punya hal-hal yang membuat diri mereka bahagia, nah, bagi kami yang menyukai buku, mendapat diskon untuk buku idaman adalah kebahagiaan.

Apa lagi, untuk mahasiswa semester lima sepertiku. Membeli buku masih suka cari yang diskonan atau pas lagi ada promo, tapi nggak semua buku, hanya untuk buku-buku seperti novel saja. Kalau buku kuliah, ya, paling beli di Gramedia atau cari di toko bukunya langsung. 

Setiap ada diskon buku murah, pasti deh, aku atau mungkin kalian pasti selalu beranggapan "Beli buku sebanyak-banyaknya, mumpung lagi ada diskon. Kapan lagi coba ada diskon seperti ini?"

Pernah kaya gitu, nggak? Ngaku aja, deh. Pasti pernah, kan? Gapapa, kalian nggak sendirian kok.

Tapi, belakangan ini aku kembali merenung perbuatanku itu. Kalau setiap ada promo atau diskonan seperti ini, yang ada jumlah timbunan buku semakin banyak, padahal buku-buku yang kubeli, tidak langsung dibaca segera. 

Entah kenapa, aku selalu merasa punya perasaan bersalah terhadap buku-buku yang belum kubaca, tapi sudah beli buku baru lagi. Kalau hal itu terus dibiasakan aku takut nantinya jadi kebiasaan buruk. Ini hanya pendapatku pribadi, jika kalian merasa menumpuk buku bacaan dan membeli buku setiap bulannya itu sih, tidak masalah kalau memang kalian merasa wajar atau biasa-biasa saja.

Sebenarnya, aku juga masih suka beli buku setiap bulannya, meski tumpukan buku TBR (to be read) masih banyak. Cuma akhir-akhir ini, aku berusaha mengontrol kebiasaan itu dengan cara memikirkan kembali manfaat dari beli buku itu. Maksud manfaat di sini, lebih ke pada alasan kenapa aku perlu membeli buku itu.

Kalau sekadar menuruti nafsu semata, maka kebiasaan itu akan terus berlanjut dan nggak ada habisnya. Setiap buku pasti memiliki manfaat tersendiri, tergantung dari jenis bukunya, sekali pun manfaatnya sekadar untuk hiburan semata.

Tidak ada buku yang tidak bermanfaat. Tapi, manfaat setiap buku bagi setiap orang berbeda-beda. Jika aku ingin membeli buku A maka aku akan melihat apakah saat itu aku perlu membeli buku itu atau tidak dan kira-kira mengapa aku harus membeli buku itu atau seberapa pentingnya buku itu harus kubeli. 

Jika dari jawaban yang kudapat menunjukan jawaban tidak perlu membeli, maka aku akan menunda atau tidak membeli buku itu sama sekali sampai aku memang membutuhkan buku itu. Tapi kalau penasaran dan kepingin banget itu pengecualian, sih. Apa lagi, kalau bukunya ditulis oleh penulis kesayanganku atau memang sudah tidak diragukan lagi tulisan-tulisannya karena selalu memberi kepuasaan kepada pembacanya. Maka, aku akan membelinya.

Hal-hal seperti itu, sebenarnya tergantung dari cara kita mengatur hasrat untuk membeli buku. Hasrat manusia itu pada dasarnya tidak pernah puas. Pasti selalu saja menginginkan hal lebih. Kalau sudah begitu, pasti sulit untuk menghentikan kebiasaan membeli buku. 

Lalu, bagaimana agar kita tidak terus-terusan mengikuti hasrat semata?

Caranya mudah, sih, kita cuma perlu bersyukur atas buku yang kita punya saat ini. Bayangkan, di luar sana, masih banyak orang yang mungkin kesulitan untuk membeli buku seperti kita. Jangankan untuk membeli buku, mungkin untuk memenuhi kebutuahan sehari-hari masih sulit atau pas-pasan.

Kalau aku selalu berusaha berpikir seperti itu untuk mengendalikan kebiasaan membeli buku terus menerus atau karena keinginan semata demi memuaskan hasrta.

Aku pernah berpuasa untuk tidak membeli buku, namun sayang usaha seperti itu tidak cukup untuk bisa membuatku tidak membeli buku. Apa lagi ketika ada diskon besar-besaran, sudah dipastikan aku bakal lupa sama puasaku itu. 

Padahal, puasa itu sudah berjalan baik. Tapi, saat ada diskonan yang ada kita malah melampiaskan hasrat kita secara gila-gilaan karena beranggapan kemarin-kemarin sudah berusaha untuk berpuasa tidak membeli buku atau karena ada anggapan "mumpung murah".

Ya, memang sih, nggak ada salahnya. Cuma kalau masih kaya gitu, rasanya puasa yang kita lakukan percuma saja. 

Tulisan ini, sepenuhnya hanya renungan untuk diriku pribadi yang merasa bahwa kebiasaan membeli buku secara tidak terkendali merupakan hal yang buruk, apa lagi jika membeli buku hanya untuk ditumpuk, padahal kita belum siap membacanya.

Mungkin dulu aku merasa hal ini wajar-wajar saja, tapi sekarang ini, kebiasaan seperti itu perlu dikendalikan dengan baik. Jadi, kita lebih bijak dan bertanggung jawab pada buku-buku yang sudah kita beli.

Kalau dari kalian ada yang punya saran atau masukan untuk mengendalikan hasrat membeli buku, kalian bisa kasih tahu aku di kolom komentar hehe


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Novel Si Bungsu “Amelia” karya Tere Liye

Tentang Kamu, Novel Biografi Sri Ningsih karya Tere Liye

7 Hal yang Bisa Kamu Renungkan dari Buku "Jika Kita Tak Pernah Jatuh Cinta"