Kompasiana Blogshop : Tips Menulis dan Menerbitkan Buku oleh Ahmad Fuadi


Ahmad Fuadi mengisi acara Kompasiana Blogshop di depan para peserta, Jumat (25/8), di Kompas Gramedia. Ia berbagi soal pengalaman menulis dan menerbitkan buku.

Ingin jadi penulis? Punya buku karya sendiri? Bukunya diterbitkan dan dibaca banyak orang? atau bahkan, bukunya diangkat ke layar lebar?

Sebagian besar peserta yang menghadiri acara Kompasian Blogshop pada Jumat kemarin, (25/8) mungkin memiliki mimpi yang sama menjadi penulis atau setidaknya memiliki buku sendiri. Kalau tidak, mereka tidak akan hadir dan duduk bersama-sama di lantai berkarpet yang ada di lantai 6 Gedung Kompas Gramedia sore itu.

Bukan hanya mereka, aku yang sore itu datang agak terlambat pun memiliki mimpi itu. Mimpi menjadi penulis dan punya buku sendiri. Aku tidak pernah bermimpi menjadi penulis buku sebelumnya. Jangankan bermimpi, memikirkannya saja tidak pernah. Dalam sejarah keluargaku, tak ada namanya keturunan penulis. Tapi, bukan berarti aku tidak bisa menjadi penulis, kan? Aku yakin suatu saat aku dapat mewujudkan mimpi itu.

Sejak usai membaca buku Negeri 5 Menara tahun 2014, bisa dikatakan itulah awal mula aku bermimpi menjadi penulis. Selain itu, aku merasa memang perlu memiliki buku, setidaknya satu selama hidupku. Buku yang bisa diwariskan kepada keturunanku kelak agar saat ragaku hilang ditelan bumi, kehadiranku masih tetap ada lewat tulisan-tulisan yang kutulis.

Sebenarnya menulis blog pun sama dengan menulis buku, sama-sama meninggalkan jejak kehadiranku di dunia. Tapi, bedanya jejakku yang ada di blog hanya ada di dunia maya. Tidak seperti buku yang bentuk fisiknya dapat dilihat dan dirasakan langsung. 

Aku menyadari mimpi ini masih terus hidup sampai aku menulis tulisan ini. Meski kadang, ada masa-masa di mana aku mengalami pasang surut, mempertahankan mimpi ini. Kadang, aku perlu penyemangat untuk mempertahankan mimpiku. Aku nggak ingin ini hanya jadi mimpi, tanpa pernah bisa aku wujudkan. Ini bukan mimpi yang ada saat aku tidur. Aku bermimpi di saat aku terjaga dan menyadari mimpi itu selalu hadir dalam hari-hariku.

Terima kasih untuk Bang Fuadi, yang telah membuatku berani bermimpi dan tentunya ingin mewujudkannya. Ia salah satu penulis yang menginspirasiku dalam banyak hal, tak hanya mimpi menjadi penulis. Tapi mimpiku yang lain untuk  mendapat beasiswa kuliah dan menjadi jurnalis. Saat ini, mimpi itu mulai dapat kuwujudkan, meski masih perlahan-lahan.

Aku bersyukur saat ini kuliah dengan modal beasiswa yang kudapat lewat prestasi yang tak seberapa dan tidak terlalu membanggakan saat SMK dulu. Tapi, setidaknya cukup menjadi modal mendapatkan beasiswa. Sehingga aku bisa membantu orangtuaku mengurangi beban mereka dengan tidak perlu repot memikirkan biaya kuliahku selama empat tahun ini.

Tak hanya itu, aku saat ini kuliah di jurusan jurnalistik karena ingin menjadi jurnalis yang bisa pergi dan bertemu banyak orang yang berbeda setiap harinya. Pekerjaan seperti itu sangat menyenangkan, aku tertarik pada bidang ini saat membaca cerita Alif yang bekerja sebagai wartawan dan berhasil melakukan perjalanan keliling dunia. Meski di tengah keterbatasannya, ia mampu mewujudkannya karena ia bersungguh-sungguh ingin mendapatkannya.

Dan, hal itu yang aku terapkan dalam kehidupanku. Aku berusaha untuk selalu sungguh-sungguh mencapai apa yang memang aku inginkan, meski orang lain, termasuk orangtuaku mengharapkan anaknya menjadi apa yang mereka inginkan.

Tapi, alhamdulillah. Sejak aku menceritakan apa yang aku inginkan, mereka mulai mendengarkanku dan memberiku ruang kebebasan melakukan dan mengejar apa yang memang ingin kuraih. Kata Mamaku, "Selama itu yang terbaik untukmu maka lakukanlah." 

Aku bersyukur memiliki orangtua, terutama Mama seperti Mamaku ini, yang selalu mendukung aku dan mendoakanku meski tak pernah kuminta sekali pun.

Maaf kalau tulisan ini malah membahas soal mimpiku. Tapi, ini karena memang ada kaitannya dengan kehadiranku sore itu. Duduk dan mendengarkan Bang Fuadi bercerita soal pengalamannya di dunia kepenulisan, membagi kiat-kiat menulis sampai akhirnya menerbitkan buku sendiri, bahkan bukunya bisa difilmkan. Bukankah itu sebuah pencapaian yang baik?

Rasanya beruntung bisa berkesempatan datang ke acara itu. Meski aku sudah beberapa kali datang ke acara Bang Fuadi sejak tahun 2014 di IBF sampai yang terakhir di acara Kompasian ini. Semoga pertemuan itu, bukan acara yang terakhirku bertemu dengan Bang Fuadi. Kuharap masih ada pertemuan-pertemuan selanjutnya.

Efek dan Kekuatan Tulisan




Kali ini, aku akan berbagi pengalaman yang kudapat selama mengikuti acara tersebut. Di sesi awal, seperti biasa Bang Fuadi menampilkan video yang memperlihatkan perjalanannya ke berbagai negara karena diundang sebagai pembicara, Selain itu ia juga mengawalinya dengan bercerita tentang efek yang ia dapat dari hasil menulis buku. Setiap lihat video itu diputar, meski bukan yang pertama kali aku menyaksikannya, tetap saja aku selalu takjub dan bergumam pada diri sendiri, "Suatu hari nanti, aku bisa seperti itu."

Tak hanya menyuguhkan cerita tentang efek menulis yang ia rasakan sebagai penulis, tapi ia juga memberi tahu efek lain yang bisa didapatkan lewat penulis-penulis yang karyanya sudah tak asing lagi di toko buku atau namanya sering disebut-sebut sebagai penulis yang sukses dalam dunia kepenulisan.

Seperti Tere Liye yang karyanya hampir selalu masuk deretan buku Bestseller di toko buku, berkat menulis ia bisa mempengaruhi lebih banyak pikiran pembacanya. Kalau diibaratkan, tulisan itu seperti peluru yang dapat menembus pikiran pembaca, meski tak terlihat tapi dapat terasa dampaknya. Bisa kalian bayangkan, berapa banyak orang yang terpengaruh membaca karyanya?

Dan, hal itu juga yang aku rasakan sebagai pembaca buku-buku Tere Liye sampai saat ini. Entah sudah berapa kali Tere Liye berhasil membuatku berlinangan air mata saat membaca bukunya, menggugah hatiku, dan tentu membuka pikiran dan padangan baru terhadap sesuatu dalam menyikapi permasalahan hidup.

Selain Tere Liye, ada penulis lain yang dicontohkan Bang Fuadi memiliki efek yang berpengaruh lewat tulisannya yaitu, Andrea Hirata, novelis Laskar Pelangi. Berkat karyanya yang satu itu, ia bisa membuat kampung halamannya menjadi lebih terkenal, bahkan dibuat juga Kampung Laskar Pelangi. Semua itu karena lewat tulisan, dampaknya sampai membawa perubahan yang lebih baik terhadap Belitung.

Dan, yang terakhir ada Pramoedya Ananta Toer yang sampai saat ini namanya masih terus hidup, sekalipun raganya terlah tiada. Buku-bukunya masih dicari dan dibaca banyak orang sebagai sebuah karya menakjubkan dari seorang sastrawan Indonesia. Aku memang belum pernah membaca karyanya, tapi aku sudah punya satu bukunya, yang sampai saat ini masih belum kubaca juga. Tapi, tetap bakal aku baca meski tidak saat ini.

Lewat ketiga penulis tersebut, kita dapat melihat kekuatan tulisan dan efek yang dihasilkan. Bukankah sungguh menakjubkan?

Dan, semua itu juga yang menjadi alasanku untuk menulis. Selain memang suka menulis. Karena kalau hanya suka saja itu belum cukup, apa lagi kalau menulis hanya sekadar iseng-iseng. Mungkin, awalnya aku menulis karena itu. Tapi, setelah dirasakan manfaatnya, ternyata menulis membawa manfaat lain buat diriku.
Aku dan penulis favoritku, Ahmad Fuadi

Aku sebenarnya termasuk orang yang cendrung tertutup alias introvert, meski ada kalanya, aku juga bisa ekstrovert, tapi kalau aku pribadi merasa lebih ke introvert. Karena aku tidak benar-benar bisa terbuka dalam masalah tertentu kecuali dengan orang-orang yang memang aku kenal baik dan dekat denganku, itu pun hanya masalah-masalah yang memang menurutku bisa kuceritakan. Kadang, ada teman yang memang kukenal sejak lama, tapi aku menutupi diri darinya. Karena ada kalanya, semua yang kurasakan atau kualami, tidak bisa mudah begitu saja kubagi dengan orang lain sampai benar-benar merasa diriku siap berbagi cerita dengannya.

Jika di saat aku tidak bisa berbagi cerita pada siapa pun, termasuk teman dekat sekali pun, maka aku akan menuliskannya. Entah itu lewat buku harianku atau tulisanku di media sosial yang sebagian besar adalah isi perasaanku.Seperti yang sekarang kulakukan di blog ini. Sebagian besar tulisanku adalah ungkapan yang kadang tidak benar-benar bisa kubagi kepada orang lain, tapi ketika aku sudah menuliskannya dan mempublikasikan itu berarti aku memang sudah siap orang lain mengetahuinya.

Kalau memang aku tidak ingin orang lain tahu, kemungkinan besar aku akan menulisnya di buku harian yang memang kutulis untuk mengungkapkan segala isi hati dan pikiranku, tanpa perlu orang lain akan tahu. Kebiasaan menulis buku harian ini aku lakukan di saat tidak ada orang yang memang belum bisa kubagi kisahnya. Ada kalanya, aku hanya menyimpan cerita itu untuk diriku sendiri entah sampai kapan.

Intinya, aku menulis selain karena suka, aku juga merasa menulis memberikan manfaat untuk diriku sendiri saat ini, selain bisa berbagi manfaat atau menginspirasi orang lain. Kalau soal manfaat menulis dan menginspirasi orang lain, aku juga sebenarnya belum tahu apakah orang lain yang membaca tulisan-tulisanku dapat merasakan manfaatnya atau tidak, tapi kuharap siapa pun pembaca tulisanku ia bisa merasakan manfaat itu. Karena tujuanku menulis salah satunya adalah memberikan manfaat untuk orang lain.

Tips Menulis dan Menerbitkan Buku

Menulis itu bisa dilatih dan dipelajari, jadi bukan hanya soal punya bakat atau tidak. Semua tergantung pada diri masing-masing, apakah mau melatih atau tidak kemapuan menulis itu. Semakin sering menulis, tulisan semakin baik. Kalau tidak menulis, bagaimana menghasilkan tulisan yang bagus, bukan?

Seperti yang dikatakan Bagng Fuadi tentang menulis, bahwa sebelum memulai menulis, ada baiknya kita perlu menemukan "why" alasan kenapa kita harus menulis. Setiap orang memiliki alasan yang berbeda-beda, semakin dalam alasan yang dimiliki maka tulisan yang dihasilkan memiliki dampak yang berbeda pada pembacanya. Jadi, menentukan alasan mengapa menulis itu perlu.

Kalau aku? Seperti yang sudah kukatakan sebelumnya, awalnya aku menulis karena suka, tapi aku rasa suka saja tidak cukup. Jadi, aku memiliki alasan selain itu. Sebelumnya, aku sempat merasa bingung menemukan alasan menulis karena kukira suka menulis saja itu sudah jadi alasan yang baik. Tapi, ternyata tidak. Aku perlu memiliki alasan yang lebih dari sekadar suka karena ini juga dapat menjadi energi kita saat menulis dan mempengaruhi hasil karya kita nantinya.

Setelah berhasil menemukan alasan yang jelas, maka kita bisa menentukan apa yang akan kita tulis. Seperti yang Bang Fuadi katakan dalam diskusi kali itu, bahwa kita harus menulis sesuatu yang kita suka dan menggetarkan hati kita saat menulisnya. Jika kita tidak tahu apa yang kita suka, kita bisa bertanya pada orang-orang sekitar, apa yang sering kita bicarakan, yang membuat kita senang membicarakannya berapa lama pun itu. Jika sudah menemukannya, maka tulisalah sesuatu itu.

Kalau sudah mendapatkan apa yang ingin kita tulis, maka tahap selanjutnya adalah mulai menulis, menulis, dan menulis. Lalu, setelah itu mengedit tulisan sendiri sampai tulisan itu bisa menjadi naskah yang siap dikirim ke penerbit.

Setelah naskah selesai ditulis pun, kita perlu menentukan mana penerbit yang sesuai dengan naskah yang kita miliki. Jika sudah menemukan, kita bisa mengirimkannya dan tentu saja tidak langsung bisa terbit begitu saja. Pihak penerbit pun masih harus menyeleksi naskah yang masuk, dan itu tidak hanya naskah kita saja, tapi juga para calon penulis lainnya. Sehingga, di sini kita perlu kesabaran dalam menunggu dan perlu juga menyiapkan hati kita, jika nantinya ternyata tulisan kita tidak diterima penerbit.

Aku sebelumnya pernah mengirimkan tulisanku kepada penerbit untuk diikut sertakan dalam lomba yang nantinya jika menang, maka bukunya dapat diterbitkan di penerbit tersebut. Tapi, ya, aku belum berhasil. Aku gagal. Mungkin belum saatnya dan aku masih perlu menulis lebih baik lagi.

Karena aku senang membaca novel, aku punya mimpi punya novel sendiri, yang ceritanya memang aku inginkan. Aku sudah mencoba menulis beberapa naskah novelku, tapi dipertengahan jalan selalu ada rintangan yang mengalangiku. Entah itu kebuntuan cerita sehingga bingung melanjutkan ceritanya, tergoda dengan ide cerita baru, atau tertunda karena alasan kesibukanku yang pada akhirnya membuatku mengabaikan tulisanku itu, sekali pun aku berhasil menulisnya. Aku merasa cerita itu tidak sesuai dengan yang kunginkan. Aku merasa masih kurang dan itulah yang terjadi padaku. Meski begitu, aku akan terus mencoba menulis, mengirim, sampai bisa menerbitkan buku. Tapi, yang lebih penting dari itu, aku harus memiliki alasan kuat mengapa menuliskan buku itu. Setidaknya, itu yang aku pikirkan saat ini.

Mungkin sebelumnya, aku merasa hanya ingin menerbitkan buku, ada namaku di sampul depan buku dan bukuku bisa mejeng di rak buku. Kalau tujuanku menerbitkan buku hanya sekadar itu, kurasa masih kurang. Aku berpikir, bahwa aku harus memiliki alasan yang lebih besar dari pada itu. Maka dari itu, aku saat ini mencoba menemukan alasan baru dari alasan sebelumnya. Yang mampu membuatku tetap menulis. Meski memang, seperti yang kukatakan bahwa aku menulis ingin membawa manfaat lewat tulisan. Tapi, manfaat apa yang kuharapkan dari seseorang yang akan membaca buku itu yang mesti kutemukan. Atau setidaknya, ada manfaat yang bisa kupelajari dan kuambil juga dari tulisan yang kutulis.

Lalu, apa yang terjadi jika naskah kita terbit?

Jalan penulis tidak hanya sekadar menulis buku dan menyerahkan naskahnya pada penerbit begitu saja, seperti yang dikatakan Bang Fuadi, penulis juga perlu ikut terjun langsung dalam memasarkan buku-bukunya. Tidak menyerahkan begitu saja pada penerbit. Sehingga, dalam hal ini perlu peran penulis.

Hal ini bisa dilakukan lewat media sosial, seperti yang kita tahu bahwa saat ini media sosial memberikan kemudahan dalam menyebarkan berbagai informasi, orang-orang dapat lebih cepat mengetahui. Kalau penulis aktif mempromosikan bukunya, hal ini juga dapat mempengaruhi penjualan bukunya, bukan?

Berdasarkan pengamatanku juga, beberapa penulis yang kuikuti media sosialnya, seperti halnya Bang Fuadi ini, ia sangat aktif mempromosikan buku-bukunya lewat akun pribadi di media sosial. Dan, kelihatannya cara ini sangat efektif menarik lebih banyak pembaca untuk membeli buku. Apa lagi, jika ada penawaran menarik, entah itu karena diskon atau hadiah setiap pembelian buku.

Ya, itulah tips dan pembahasan mengenai kepenulisan dan cara menerbitkan buku yang disampaikan Bang Fuadi saat acara Kompasian Blogshop. Meski belum bisa menuliskan semuanya, kuharap tulisan ini dapat bermanfaat, terutama buat kalian yang ingin menerbitkan buku. Mohon doanya juga, ya, semoga aku juga bisa meraih impianku, begitu juga dengan kalian. Terima kasih sudah membaca tulisanku yang bisa dikatakan banyak diselipi curhatanku pribadi, tapi aku merasa perlu menuliskannya.


Setiap peserta yang hadir memperoleh kartu Anak Rantau yang berisi kutipan novelnya.

Gelang Anak Rantau. Terdapat dua pilihan, hitam dan merah. Aku memilih warna hitam

Oya, diakhir acara usai tanya jawab dengan para peserta. Kami yang hadir hari itu mendapat hadiah berupa kartu Anak Rantau dan Gelang yang hanya ada saat kita mengikuti PO buku Anak Rantau. Karena aku tidak ikut PO buku ini, aku senang bisa mendapatkan kartu dan gelangnya. Jadi, tinggal beli bukunya saja. Semoga aku bisa segera membaca novel ini.

Kalau ada yang ingin ditanyakan bisa comment atau hubungi aku lewat instagramku @senjaandbooks hehe. Semangat membaca dan menulis!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Novel Si Bungsu “Amelia” karya Tere Liye

Tentang Kamu, Novel Biografi Sri Ningsih karya Tere Liye