Keseruan Menulis Kisah dalam Sajak bersama M. Aan Mansyur

Aan Manyur membacakan puisinya dari buku Melihat Api Bekerja dalam acara Beranda Sastra

Selain senang membaca buku, menulis blog seperti ini, atau sekadar jalan-jalan ke toko buku atau perpustakaan, hal lain yang sangat senang kulakukan adalah mendatangi acara-acara yang berkaitan dengan literasi. Entah itu pelatihan menulis, bedah buku sekaligus diskusi buku, atau datang ke festival buku.

Sejak punya kesenangan tersendiri terhadap buku-buku, bisa dikatakan aku senang menghadiri berbagai acara literasi. Di bulan Juli hingga awal Agustus, ada beberapa acara yang aku hadiri bersama temanku. Di tulisan kali ini, aku akan bercerita pengalamanku mengikuti Beranda Sastra : Kelas Kreatif bersama Aan Mansyur di Bentara Budaya Jakarta.

Aku bersyukur bisa tinggal di Jakarta karena memudahkanku menghadiri acara seperti ini. Jadi, selama masih tinggal di Jakarta, sebisa mungkin aku bakal datang karena tidak semua orang bisa merasakannya. Selain itu acara-acara seperti ini belum tentu ada di semua tempat.

Tapi, tenang saja, aku bakal berbagi pengalamanku di tulisan kali ini agar kalian yang nggak bisa datang ke acaranya karena terkendala di lokasi atau waktu, bisa ikut merasakan keseruannya dan semoga suatu saat bisa datang ke acara seperti ini di tempat kalian berada.

Bentara Budaya Jakarta kerap menggadakan berbagai acara setiap bulannya, mulai dari pemaran, bedah buku, sampai pelatihan menulis seperti yang kudatangi pada 8 Juli 2017 di Bentara Budaya Jakarta (BBJ). Ini pertama kali, aku datang ke BBJ. Sebelumnya aku sudah sering berencana datang ke BBJ untuk menghadiri beberapa acara yang berkaitan dengan buku, sastra, dan budaya. Tapi, keseringan rencana itu gagal karena jam atau tanggalnya berbenturan dengan kegiatan lain yang nggak bisa kutinggal.

Semester empat lalu, aku ikut organisasi di kampus dan sering mengadakan berbagai kegiatan, belum lagi tugas semester empat yang cukup menyita waktu buat sekadar pergi main. Aku kuliah di jurnalistik dan matakuliah jurnalistik di semester itu membutuhkan perhatian lebih. Tapi, sesibuk apa pun kuliah dan kegiatan organisasiku, aku masih berusaha menyempatkan waktu untuk pergi. Meski, jarang-jarang. Karena harus melihat kondisiku saat itu, apakah memungkinkan atau tidak waktunya.

Kadang, waktu liburku semester empat hanya ada di hari Selasa dan Minggu. Saat libur di hari itu, biasa aku pakai untuk mengurus pekerjaan rumah yang dihari-hari biasa nggak bisa aku lakukan karena keseringan pergi pagi dan pulang malam banget. Bahkan pernah sampai rumah jam satu malam. Biasanya kalau pulang malam seperti itu karena ada rapat sampai malam. Belum lagi jarak tempuh dari kampus ke rumah sangat jauh. Aku juga setiap pulang pergi selalu naik kendaraan umum, makanya waktuku banyak terbuang di perjalanan.

Aku paling senang kalau udah libur. Libur itu rasanya sangat berharga banget. Karena di saat libur, aku bisa menyelesaikan tugas kuliah, dan kadang aku pakai nulis atau puas-puasin membaca buku sepanjang hari di rumah karena di hari biasa waktu membacaku terganggu dengan kegiatan lainnya. Di saat ada waktu libur, aku bakal meluangkan waktu untuk kegiatan seperti itu atau pergi ke acara tertentu, baik pergi sendiri atau bersama teman kalau lagi malas jalan sendirian.


Aku, buku puisi, dan sang penyair di Bentara Budaya Jakarta

Untuk acara Beranda Sastra ini, aku tahu informasinya melalui akun instagramnya di @bentarabudaya.jakarta. Diantara media sosial lain yang kupunya, belakangan ini aku lebih aktif bermain instagram di akun @senjaandbooks. Lewat instagram yang kukhususkan membahas buku ini aku jadi lebih tahu informasi acara-acara yang berkaitan dengan literasi dan buku-buku, seperti halnya acara Beranda Sastra yang mengadakan Kelas Kreatif : Menulis Kisah dalam Sajak bersama M. Aan Mansyur ini. Selain di instagram, kalian juga bisa kunjungi situs web-nya Bentara Budaya Jakarta. Di situ, banyak terdapat infromasi mengenai acara-acara yang akan dilaksanakan di BBJ.

Bagiku, pergi ke acara seperti ini, selain menghilangkan penat karena aktivitas perkuliahan dan organisasi, acara ini juga mendatangkan ilmu dan pengalaman baru. Tak hanya itu, kalian juga bisa dapat kenalan atau bertemu orang-orang baru. Saat di acara Beranda Sastra lalu, aku sempat berkenalan dengan seorang ibu yang aku lupa namanya. Maaf banget, aku memang pelupaan sama orang-orang yang baru sekali bertemu. Semoga suatu saat nanti kami bisa bertemu lagi. Ibu tersebut tinggal di Yogyakarta dan sengaja datang ke Jakarta hanya untuk menghadiri acara ini. Hebat banget, kan?

Segitu sukanya sampai rela menempuh perjalanan jauh dalam sehari. Sementara yang ada di Jakarta pun, nggak seantusias ibu satu ini. Di acara itu, Ibu yang kutaksir usianya sekitar 45-an ini datang sendirian dan diantara peserta yang rata-rata berisi kaum muda itu, Ibu ini satu-satunya peserta paling tua diantara kami.

Aku sempat berbincang dengan ibu ini saat mengantre tanda tangan Aan, ia berdiri tepat di belakangku dan kami pun ngobrol mengenai puisi-puisi Aan sambil menunggu giliran kami. Antrean malam itu, cukup mengular dan lama. Selain bisa mendapat tanda tangan, peserta yang hadiri juga bisa berfoto bersama Aan. Meski agak lama, tapi anteran kali itu terasa menyenangkan karena ada teman ngobrolnya, apa lagi mendengar cerita ibu itu. Aku cukup menikmati, apa lagi ibunya sangat ramah. Hari itu, aku datang bersama Diah. Tapi, Diah memilih duduk sambil menungguku mengantre. Terima kasih Diah sudah mau menemaniku datang ke acara ini. Semoga nggak kapok pergi bareng aku, ya.

Aan Mansyur menandatangani buku-buku puisi milikku
Sejak membaca buku puisinya yang berjudul Melihat Api Bekerja, aku jatuh cinta dengan puisi-puisi Aan. Aku suka gaya berpuisinya yang berbentuk narasi. Lebih mudah dipahami atau beberapa puisinya memiliki makna yang mendalam di hatiku yang nggak bisa aku ungkapkan, tapi lewat puisi semua itu bisa lebih tersampaikan.

Kesukaanku pada puis-puisi Aan terus berlanjut, aku mulai mencoba membaca puisnya yang lain, seperti Sebelum Sendiri, Perjalanan Lain Menuju Bulan, dan Cinta yang Marah. Meski belum membaca semua buku puisinya, ya, bisa dibilang aku sangat menyukai penyair yang satu ini. Makanya, saat ada acara Beranda Sastra yang dihadiri Aan Mansyur aku segera mendaftar dan waktunya pun bertepatan sedang libur kuliah. Jadi, ya, waktunya tepat banget. Aku nggak datang sendirian ke acara itu karena ditemani sahabatku, Diah, yang juga menyukai puisi, meski belum menyukai puisi-puisi Aan saat itu.

Diacara tersebut, Aan banyak menjelaskan tentang puisi tentunya, mulai dari kebiasaan mengirim puisi kepada Ibunya, arti puisi itu sendiri menurut pandangan Aan, dan sedikit tips menulis puisi darinya, lalu di akhir acara berkat salah satu peserta yang hadiri dan meminta Aan membacakan puisinya. Akhirnya, di penghujung acara Aan pun menutup acara tersebut dengan membacakan puisi dari buku puisi Melihat Api Bekerja dan Tidak Ada New York Hari ini.

Semua yang hadir langsung tertuju pada Aan yang membacakan puisi, bak seorang artis. Banyak mata kamera yang menangkap dan mengabadikan momen itu. Termasuk aku dan Diah. Aku meminta Diah merekam videonya, sementara aku mengambil gambarnya, sambil menikmati suasana keseruaan saat itu. Di tengah-tengah penikmat puisi lainnya.

Aku masih ingat kata-kata Aan yang dia katakan saat acara itu tentang menulis puisi. Mungkin, kata-kata ini bisa menjadi penyemangat atau membuka kesadaran kalian tentang menulis puisi, "Menulis puisi itu bukan sekadar menulis kata-kata indah. Menulis puisi adalah seni berpikir. Dan puisi itu, lebih simpel daripada cara berpikir manusia itu sendiri."

Mungkin, sebagian besar dari kita beranggapan bahwa puisi itu yang penting kata-katanya indah, puitis, mendayu-dayu, enak didengar, iramanya berpola a-b-a-b dan lain sebagainya. Tapi, mendengar kata-kata Aan, aku jadi berpikir ulang tentang pemahamanku terhadap puisi.

Meski aku menyukai dan menikmati puisi, tapi kadang aku masih kesulitan untuk menulis puisi. Entah karena alasan apa, rasanya belum bisa. Tapi, bukan berarti nggak bisa. Karena balik lagi seperti yang dikatakan Aan, bahwa puisi bukan sekadar kata-katanya yang indah, tapi bagaimana cara berpikir atau seni berpikir yang diungkapkan lewat puisi.

Aku dan Diah berswafoto di Transjakarta karena belum foto sama sekali di BBJ

Karena belum  pernah datang sebelumnya ke BBJ, satu hari sebelum acara tersebut, aku iseng jalan-jalan sendirian mencari lokasi keberadaan BBJ. Berbekal tanya sana-sini akhirnya aku berhasil menemukan lokasinya.

Untuk kalian yang tinggal di Jakarta dan ingin datang ke BBJ, berikut ini cara mencapai lokasi tersebut, berdasarkan pengalamanku ke sana yang naik Transjakarta. Pertama, kalian bisa naik Transjakarta dari halte Tosari ICBC yang berada di koridor satu tujuan Blok M - Kota menuju halte Palmerah. Bis arah Palmerah ini datangnya lama banget, jadi kalau mau datang ke acara seperti ini. Usahakan, datang lebih awal dan jangan mepet, yang ada bakal panik kalau orangnya suka panikan sepertiku saat datang telat.

Kalau kalian biasa datang telat dan nggak panikan, sih, beda ceritanya, ya. Kalian bisa datang sesuai keinginan kalian kalau memang malas datang tepat waktu. Aku sih lebih baik datang lebih awal dan menunggu daripada datang terlambat ke suatu acara yang memang kusukai.

Setelah tiba di halte Palmerah, kalian masih harus berjalan ke arah kiri melewati rel kereta api sampai bertemu Gedung Kompas Gramedia karena BBJ tepat berada di depan Gedung Kompas. Kalau masih bingung, ya, coba tanya-tanya sama orang yang ada di sana lokasi BBJ atau Gedung Kompas karena kemungkinan besar orang di sekitar situ tahu persis lokasinya. Selamat mencoba, ya, semoga berhasil menemukan  tempatnya.

Bagi kalian yang naik kereta, kalian bisa turun di Stasiun Palmerah dan arah jalannya, masih sama seperti turun dari bis Transjakarta. Buat kalian yang nggak mau ribet naik turun kendaraan umum, mungkin bisa naik ojek online agar mempermudah perjalanan kalian atau bawa kendaraan pribadi. Karena aku belum bisa mengendarai motor sendiri karena sempat mengalami trauma, pernah melihat kecelakan motor secara langsung dan saat latihan belajar motor aku pernah nabrak juga, jadinya aku agak malas belajar motor lagi dan merasa lebih nyaman ke mana-mana naik kendaraan umum.

Selama ada ojek online, bis Transjakarta, atau kereta ke mana pun nggak jadi masalah buatku berpergian. Aku juga nggak begitu tahu jalanan Ibu Kota. Jadi, lebih aman dan praktis naik kendaraan umum sambil menikmati kemacetan haha. Semoga petunjuk jalanku bisa membantu kalian, kalau pun engga, harap maklum, ya.

Terima kasih buat pembaca tulisanku di blog ini. Meski aku nggak tahu siapa kalian. Kuharap ada yang bisa diambil dari tulisan ini. Maaf kalau tulisanku masih kurang baik. Semoga tulisanku kali ini bisa bermanfaat, terutama buat kalian yang ingin ke BBJ. Nantikan tulisanku selanjutnya tentang kunjunganku ke acara peluncuran buku puisi Buku Latihan Tidur karya Joko Pinurbo dan ASEAN Literary Festival.

Jangan lupa membaca dan selamat menikmati akhir pekan! 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Novel Si Bungsu “Amelia” karya Tere Liye

Tentang Kamu, Novel Biografi Sri Ningsih karya Tere Liye

7 Hal yang Bisa Kamu Renungkan dari Buku "Jika Kita Tak Pernah Jatuh Cinta"