Berbagi Cerita : Alasan Memilih Kuliah Jurnalistik bagian 1



Setiap kali melihat buku Negeri 5 Menara di rak buku, aku kembali teringat kenangan di tahun 2014. Saat itu aku masih duduk di bangku kelas dua SMK, jurusan akuntansi. Di masa sebelum mengenal buku Bang Fuadi itu, aku merasa belum memiliki mimpi yang benar-benar aku inginkan. Atau lebih tepatnya, aku belum tahu tujuanku akan ke mana setelah SMK.  Jujur saja, masa-masa itu aku masih mencari jati diriku. Aku belum tahu apa yang sebenarnya aku inginkan atau hal apa yang kusuka dan membuatku begitu senang melakukannya.

Seperti mendapat pencerahan atau jalan terang dari semua permasalahanku. Tiba-tiba saja, aku berkeinginan melanjutkan kuliah selepas SMK. Padahal, niat awalku sekolah kejuruan karena aku ikut-ikut kemauan orangtuaku dan beberapa temanku. Saat itu, aku merasa belum mau melanjutkan sekolah di SMA dan tidak ada niat untuk kuliah juga.

Pikiranku sudah membayangkan kalau SMK sepertinya lebih asyik. Bisa langsung kerja setelah lulus. Apa lagi, yang membedakan SMA dan SMK karena ada praktik yang mengharuskan siswanya magang alias terjun langsung ke lapangan. Tujuannya, supaya bisa tahu kehidupan di dunia kerja seperti apa. Jadi, setelah lulus sudah punya bekal dan gambaran tentang dunia kerja sesuai jurusan yang dipilih. Ya, intinya begitu.

Aku sama sekali belum ada pikiran untuk kuliah juga. Kalau SMA biasanya harus melanjutkan kuliah, kalau pun kerja tidak semudah SMK. Tapi, sebenarnya itu hanya soal pandanganku yang masih tertutup saat itu. Kuliah itu nggak mesti harus SMA. Sekarang, aku SMK pun bisa kuliah. Teman-temanku yang SMK lumayan banyak yang melanjutkan kuliah di jurusan yang berbeda. Begitu juga yang mau kerja tapi masuk SMA. Masih bisa tetap mendapatkan kerjaan. Buktinya, temanku yang sekolah di SMA, bisa kerja. Ya, walau akhirnya, dia memutuskan untuk kuliah sambil kerja juga.

Jadi, semua itu tergantung dan balik lagi sama diri kita sendiri. Nggak ada yang bisa menentukan pasti, kalau anak SMK nggak bisa kuliah seperti anak-anak yang sekolah di SMA atau anak yang sekolah di SMA nggak bisa kerja seperti anak SMK yang sudah punya pengalaman kerja saat di sekolahnya dulu. 

Kalau masih ada yang berpikir seperti itu, coba buat terbuka dan jangan menutupi diri dengan pikiran-pikiran buruk yang kita buat sendiri atau pengaruh dari lingkungan sekitar yang belum tentu benar. Kalau diantara kalian, yang masih ragu buat kuliah atau kerja karena asal sekolah kalian. Jangan kubur keinginan kalian hanya karena omongan orang lain. Kalian harus yakin sama apa yang memang kalian inginkan. Jauhi orang-orang yang memberi pengaruh buruk tentang anggapan anak SMK nggak bisa kuliah atau anak SMA nggak bisa kerja dan hal lainnya. Pokoknya, yakin aja sama pilihan yang memang menurut kalian itu terbaik untuk kalian.

Awal masuk SMK, aku mau masuk perbankan. Menurutku, itu jurusan yang jarang ada di SMK. Apa lagi, jurusan perbankan yang ada di SMK-ku dulu itu berlabel "perbankan syariah", di saat menjamurnya bank-bank konvensional. Kehadiran bank syariah memberi ruang tersendiri. Meski, sebenarnya, aku juga belum ada niatan untuk bekerja di bank. Yang jelas selain karena ikut-ikut kemauan orang lain untuk sekolah di SMK. Aku juga memiliki keinginan tersendiri bisa masuk di jurusan perbankan.

Niat awal masuk SMK supaya bisa masuk jurusan perbankan, tapi malah terdampar di jurusan akuntansi? Kok, bisa? Ya, bisa, lah. Mungkin ini memang takdirku. Jadi, gini ceritanya. Awal pendaftaran, aku sudah memilih jurusan perbankan. Hanya satu jurusan itu. Karena hanya itu satu-satunya jurusan yang kumau. Meski alasan memilih jurusan itu lebih ke rasa penasaranku. Di luar jurusan itu, aku sama sekali nggak mau. 

Akuntansi? jurusan yang paling aku hindari. Aku nggak mau berurusan dengan angka-angka. Meski sebenarnya, perbankan, juga iya, kan? Nggak jauh beda sama akuntansi. Tapi, menurutku saat itu nggak separah akuntansi dalam hal hitung-hitungan. Namanya juga masa-masa masih remaja labil. Padahal belum tahu apa-apa soal kedua jurusan itu. Semua pikiran itu aku dapat dari perkataan orang tentang jurusan itu, serta pikiranku yang mudah terpengaruh. Padahal nggak separah yang kubayangkan.

Ya, meski selama tiga tahun aku sekolah akuntansi, aku tidak benar-benar bisa menikmati sekolah di jurusan itu. Bukan soal teman-temannya, bukan soal sekolah dan segala peraturannya, bukan soal kegiatan yang kuikuti selama sekolah, atau guru-gurunya. Ini hanya masalah belajarku, yang masih belum bisa menerima dengan segenap hati belajar di jurusan itu. Di luar itu, aku senang dengan segala yang ada di sekolah. Justru, kehadiran teman-temanku, guru-guruku, dan segala kegiatan yang aku ikuti seperti kebahagiaan tersendiri yang bisa kudapatkan dan terkadang mampu melupakan penyesalan yang kubuat.

Kadang, aku berpikir, kalau aku nggak masuk akuntansi. Mungkin aku nggak ada di tempatku berada saat ini. Aku juga nggak akan bertemu sahabat-sahabat terbaik yang kumiliki saat ini. Atau, guru-guru yang hebat di jurusanku. Setidaknya, aku memiliki mereka saat itu. Mereka yang ada dan membantuku keluar dari penyesalanku. Sampai, pada tahun-tahun terakhirku di sekolah. Aku mulai belajar menerima.

Aku nggak bisa selamanya menyesalinya setelah apa yang aku dapat saat itu. Aku mulai berdamai dengan rasa penyesalanku. Lalu, belajar sebaik mungkin di jurusanku saat itu. Meski, agak terlambat menyadarinya. Tapi, aku nggak mau karena penyesalanku saat itu membuatku kalah dengan diriku sendiri. Aku harus membuktikan pada diriku sendiri bahwa aku bisa berhasil meski berada di tempat yang tidak pernah kuinginkan sebelumnya. Hanya karena aku nggak suka akuntansi, bukan berarti aku nggak bisa mengikuti pelajarannya.

Aku belajar mulai menyukai pelajaran ini. Karena itu tahun terakhirku, aku nggak mau lulus dengan nilai yang buruk, terutama di pelajaran kejuruanku. Diantara pelajaran UN yang paling aku takuti atau membuatku khawatir adalah pelajaran akuntansi. Aku takut gagal dan tambah menyesali diri sendiri. Karena nggak mau hal itu terjadi, aku mulai belajar sendiri dan dibantu teman-temanku yang paham jauh lebih baik di jurusan itu. Terima kasih untuk teman-temanku, yang banyak membantuku saat itu. Tanpa bantuan kalian, mungkin aku nggak akan bisa meraih nilai memuaskan dalam UN akuntansi.

Percaya nggak percaya, diantara empat pelajaran yang ada dalam UN. UN akuntansiku yang paling tinggi nilainya. Aku mendapat nilai 9,6 dan itu di luar target nilaiku. Padahal, aku mengharapkan nilai bahasa Indonesia yang paling tinggi. Aku senang karena usahaku tidak sia-sia. Aku nggak perlu merasa menyesal lagi pernah masuk di jurusan akuntansi. Dan, aku bangga bisa membuktikan rasa takut dan penyesalan itu pada diriku sendiri.

Oya, aku belum cerita soal kenapa tiba-tiba aku bisa ada di jurusan akuntansi. Awalnya, aku mendaftar untuk jurusan perbankan. Tapi, saat proses pendaftaran. Ada satu guru di sekolah itu, yang nggak bisa kusebut namanya di sini. Dia menyarankan aku untuk mengganti jurusanku. Dia mengatakan, nilai matematikaku bagus. Sayang juga, kalau masuk di perbankan. Bisa di bilang, jurusan akuntansi di sekolah itu jurusan favorit dan anak-anak yang memilih masuk jurusan itu memiliki nilai yang lebih tinggi dibandingkan keempat jurusan lain. Karena, kata guru itu, jurusan akutansi lumayan saingannya. Jadi, aku diminta buat coba dulu, kalau misalnya nggak masuk, ya, bisa ke lempar di jurusan kedua, jurusan yang kupilih sebelumnya.

Karena terpengaruh omongan guru itu, aku kembali daftar ulang dan memilih jurusan akuntansi baru perbankan. Aku harus berterima kasih atau enggak, ya? Karena berkat dia aku akhirnya mengubah pilihanku dan di awal-awal sekolah aku menyesali keputusan itu. 

Aku mengira, nilaiku nggak akan bisa masuk di jurusan itu sehingga aku bisa terlempar dan masuk di jurusan yang kumau. Tapi, aku nggak berpikir kemungkinan yang lain kalau aku masuk di jurusan itu. Setelah mengetahui namaku berada di posisi 60 sekian dari 64 siswa akuntansi yang ada. Bukannya senang karena masuk jurusan favorit, aku malah nangis dan menyesali keputusanku itu.

Berhari-hari aku menangis. Menyalahkan diri sendiri. Sampai suatu ketika, Mamaku menasehatiku, bahwa aku nggak perlu takut nggak bisa berada di jurusan itu. Semua yang masuk di jurusan itu juga belum pernah belajar akuntansi sebelumnya. Sama seperti aku. Buat apa aku takut nggak bisa mengikuti pelajarannya hanya karena aku nggak menginginkannya.

Setelah dinasehati seperti itu, aku udah nggak nangis lagi dan mulai menerima. Meski belum sepenuhnya menerima dengan lapang. Tapi, omongan Mamaku ada benarnya saat itu. Kita yang masuk jurusan akuntansi juga baru bakal belajar dan bukan orang-orang yang sebelumnya udah pernah belajar akuntansi/.

Tapi, yang Mamaku nggak tahu adalah bukan karena kami semua belum pernah belajar akuntansi. Melainkan pilihan yang kami tentukan untuk masuk di jurusan itu. Saat pelajaran BK, setiap anak di kelasku yaitu, Akuntansi 2. Ditanya alasan mengapa memilih jurusan itu, sebagian besar adalah karena keingan mereka sendiri. Bukan seperti aku yang harus terpaksa menerima penyesalan yang kubuat sendiri. Dan, di saat itulah aku merasa omongan mamaku tidak sepenuhnya benar.

Ya, di tulisan kali ini, aku bakal cerita sampai sini dulu. Nanti, akan aku lanjut ke tulisan bagian ke duanya. Aku rasa ini udah terlalu panjang banget. Aku juga nggak sadar udah nulis sepanjang ini. Padahal belum membahas alasan memilih kuliah di jurusan jurnalistik. Jurusan yang membuatku belajar untuk nggak mengulangi kesalahan sebelumnya. Dari kejadian yang pernah terjadi saat SMK, saat memilih jurusan. Aku bertekad setelah lulus SMK dan kuliah, aku mau kuliah di jurusan yang memang aku inginkan. Bukan karena pilihan orang lain atau ikut-ikutan lagi. Karena aku sadar, kuliah empat tahun ini yang akan menentukan aku nantinya akan pergi ke jalan yang mana. Ini juga soal masa depanku. Aku nggak mau main-main lagi. Aku harus bisa menikmati masa-masa belajar di jurusan yang memang aku pilih dan inginkan sebelumnya.

Terima kasih sudah membaca tulisanku. Siapa pun, kalian. Semoga tulisan ini dapat membantu kalian, yang mungkin masih bingung menentukan pilihan. Entah itu, pilihan untuk masuk SMA/SMK. Atau memilih jurusan kuliah. Aku bakal bahas soal pilihan kuliah di jurnalistik dan mungkin bakal menulis keseruan dan apa saja yang udah aku dapatkan atau pelajari selama kuliah di jurusan jurnalistik ini. Yang pasti, aku senang dan dapat menikmati semua proses yang kujalani saat ini.

Selamat malam dan sampai jumpa ditulisanku selanjutnya! Kalau ada yang mau tanya-tanya soal kuliah di jurnalistik, bisa komentar di kolom komentar atau hubungi aku di Instagram : @senjaandbooks atau Twitter : @Septirhyuuu
  


Komentar

  1. Assalamualaikum hai Septi salam kenal ya. Aku followers akun IG kamu loh, karena sama suka buku Hehe. Btw kamu kuliah dimana? Sudah semester brp? Hehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wa'alaikumsalam. Hai juga. Salam Kenal, ya, Irli. Wah, makasih sudah follow aku. Coba kamu DM aja, nanti aku bisa tahu dan follow back juga hehe. Aku kuliah di Jakarta. Univ Swasta. Aku baru selesai semester 4 dan baru mau ke semester 5 hehe

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

7 Hal yang Bisa Kamu Renungkan dari Buku "Jika Kita Tak Pernah Jatuh Cinta"

Tentang Kamu, Novel Biografi Sri Ningsih karya Tere Liye

Novel Si Bungsu “Amelia” karya Tere Liye