[Self Remainder] Membuka Lembar Selanjutnya



Hai. Selamat datang bulan Agustus.

Tak terasa waktu bergulir cepat.

Di tulisan kali ini, aku nggak akan mengulas buku seperti tulisan sebelumnya. Maaf sebulan yang lalu aku kurang produktif menulis blog. Padahal sudah banyak draft tulisan yang kubuat untuk di-posting. Tapi, aku malah nggak menyelesaikannya. Ya, meski begitu aku tetap bakal berusaha buat menyelesaikan tulisanku itu. Aku harus menyelesaikan apa yang sudah kumulai. Sekali pun, perlu waktu lama.

Aku ingin berbagi pengalamanku kali ini. Pengalaman apa? Aku nggak tahu ini bakal menarik atau engga, tapi aku merasa perlu menuliskannya. Setidaknya, agar aku selalu ingat tenang momen yang pernah terjadi dalam hidupku. Saat aku membacanya kembali, setidaknya aku bisa merasakan kembali.

Pertama, aku ingin bersyukur atas hidupku saat ini kepada Sang Pencipta-ku, Allah SWT, yang sampai saat ini masih memberiku banyak kenikmatan. Kenikmatan yang tak bisa kusebut satu persatu. Baik itu nikmat yang membahagiakan atau menyedihkan, apa pun itu aku syukuri. Setidaknya, aku masih bisa merasakannya. Bukankah kesedihan juga, merupakan sebuah nikmat? Sangat disayangkan, kalau kita hanya bersyukur atas nikmat kebahagiaan, tapi tidak bisa mensyukuri nikmat sedih yang kita rasakan. Kalau kita sedih, itu berarti hati kita masih berfungsi dengan baik. Masih punya perasaan.

Oke, balik lagi ke pengalaman. Lebih tepatnya ke pengalaman yang kudapat di semester empat. Sebentar lagi aku bakal masuk ke semester lima. Saat ini lagi liburan, tapi liburan kali ini aku pakai untuk magang. Alhamdulillah, aku bersyukur bisa magang sesuai dengan target yang kutetapkan sebelumnya. Dan, ini hari pertamaku magang. Lebih tepatnya, aku akan mulai magang nanti sore, kemarin aku sudah menghubungi bagian redaktur di tempatku magang nanti yaitu, Harian Nasional.

Aku akan magang di sana selama dua bulan. Satu bulan liburan untuk magang dan sisanya sambil kuliah. Semoga aku bisa menjalaninya dengan sebaik mungkin. Nggak banyak yang kupersiapkan, tapi aku lebih berusaha menyiapkan diri agar siap menghadapi segala tantangan yang ada.

Aku kuliah di jurusan jurnalistik. Jurusan yang nggak pernah terpikirkan sebelumnya. Tapi, ya, di jurusan ini aku berada. Inilah pilihanku dua tahun yang lalu, setelah sempat bingung mau masuk di jurusan apa. Kalau soal kuliah di mana, itu nggak jadi masalah buatku lagi. Karena kalau tempat kuliahnya kita suka, tapi jurusan yang kita pilih nggak sesuai dengan keinginan kita, rasa-rasanya kuliah jadi tidak menyenangkan.

Apa pun yang sudah kulalui selama empat semester ini, aku sangat bersyukur. Aku banyak mendapatkan hal-hal baru dari sebelumnya. Aku lebih berani dari diriku yang sebelumnya. Aku bisa menikmati kehidupan kuliahku. Meski, kuliah itu nggak sama seperti saat SMA/K. Tapi, satu hal yang kusyukuri adalah aku bisa benar-benar menikmati belajar di jurusanku, dibandingkan saat aku SMK. Saat itu, aku merasa belajar itu kurang bisa dinikmati khususnya untuk pelajaran kejuruanku. Di luar itu aku merasa baik-baik saja dan menyenangkan. Berbeda dengan saat ini. Pelajaran-pelajaran baru yang kudapat bisa membuatku dapat menjalaninya dengan lebih bersemangat.

Bagiku, semester empat adalah masa yang cukup berat sampai sejauh ini. Tapi, hal itu menjadi tantangan tersendiri bagiku dan tentunya pelajaran. Dari semua yang telah kulalui selama masa-masa itu, aku banyak belajar. Belajar untuk tidak menyerah, meski pernah ada keinginan untuk menyerah. Belajar untuk lebih bertanggung jawab dengan tugas atau kepercayaan yang kudapatkan. Belajar untuk mempertahankan semangatku agar tidak terpuruk dan menyerah begitu saja.

Aku termasuk orang yang bisa dibilang, senang menyemangati diri sendiri dibanding senang disemangati orang lain. Tapi, bukan berarti aku nggak suka kalau orang lain menyemangatiku. Aku tetap menyukainya. Hanya saja, pengaruh semangat yang diberikan orang lain untuk diriku tidak lebih besar dari semangat yang datang dari diriku sendiri.

Jadi, kalau orang lain menyemangatiku, aku mesti menyemangati diriku terlebih dulu untuk benar-benar bisa bangkit lagi. Sekeras apa pun, orang lain menyemangatiku tapi kalau aku tidak mampu menyemangati diri sendiri aku tetap tidak dapat bisa bangkit. Dan, kadang aku merasa aku perlu waktu untuk bisa mengembalikan semangatku itu. Apa pun caranya, meski terbilang lama. Tapi, itulah cara agar aku bisa semangat lagi.

Semester empat, pertama kali aku ambil 24 SKS dari 9 matakuliah. Aku sempat berpikir, mungkin aku terlalu memaksakan diri. Kalau saja aku nggak ambil 24 SKS, mungkin aku nggak akan merasa terlalu terbebani. Tapi, seharusnya, aku nggak berpikir seperti itu karena kuliah di jurusan ini pun sudah pilihanku. Jadi, apa pun yang sudah kupilih seharusnya bisa kujalani. Bukan malah menyerah begitu saja.

Sampai saat aku menuliskan tulisan ini, aku masih nggak menyangka karena bisa melewati masa-masa itu. Masa-masa aku ingin menyerah, aku merasa malas dan tak bersemangat untuk menjalaninya. Tapi, aku berusaha bangkit lagi. Karena ini adalah jalan yang sudah kupilih. Apa pun yang akan terjadi ke depannya, aku akan berusaha untuk menjalaninya dengan penuh semangat. 

Mulai saat ini, aku akan kembali membuka halaman baru dan kembali membaca apa pun yang akan terjadi dalam cerita kehidupanku nantinya. Seperti membaca buku, aku harus menyelesaikan bacaanku. Jangan karena ada kisah yang tidak kita sukai, lalu kita lantas berhenti dan tidak menyelesaikan buku yang kita baca. Meski, entah sampai kapan buku kehidupan kita akan sampai di halaman akhir. Apa pun yang terjadi, tetaplah membaca hingga akhir. Walau akhir kehidupan itu kita tidak pernah tahu, apakah akan berakhir bahagia atau tidak. 

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi siapa pun yang membaca, yang merasa atau pernah atau ingin menyerah pada kehidupan yang dijalani saat ini. Jangan menyera dan tetap semangat. Sampai bertemu di tulisan selanjutnya, dan tentunya aku bakal bahas tentang buku lagi hehe

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Novel Si Bungsu “Amelia” karya Tere Liye

Tentang Kamu, Novel Biografi Sri Ningsih karya Tere Liye