#NGOBROLINBUKU Keseruan Novel Pukat "Si Anak Cerdas" Dalam Serial Anak-anak Mamak


Novel Pukat Serial Anak-anak Mamak di Museum Nasional (Dok. Septi)

Setelah sekian lama tidak menulis ulasan buku, kali ini aku mau membahas satu buku, tepatnya novel karangan penulis Indonesia. Yang mungkin namanya sudah tidak asing. Apa lagi setiap lihat buku-bukunya yang sering mejeng di rak buku bagian best seller di toko buku.

Siapa lagi, kalau bukan Tere Liye. Ya, penulis yang cukup produktif ini, memilik novel bertema keluarga dalam serial Anak-anak Mamak. Sebenarnya, novel ini sudah lama terbit sejak tahun 2010 oleh penerbit Republika.

Namun, sudah 12 kali cetak ulang pada September 2016. Waw. Betapa kerennya, novel Tere Liye. Selalu dicetak ulang. Jadi, meski pun buku terbitan lama, tapi nggak ada salahnya buat baca novel yang satu ini. Sebelumnya, aku sudah pernah membaca buku pertama dari serial ini. Judulnya Amelia. Novel ini, sudah aku ulas juga di blog. Buat kalian yang mau membaca ulasannya, bisa klik link ini.

Aku sempat mengira novel Amelia adalah novel keempat dari serial Anak-anak Mamak, tapi ternyata aku salah. Meski sempat sebelumnya, aku yakin kalau novel ini adalah buku keempat.

Kenapa aku mengira Amelia buku keempat?

Karena aku mengira urutan buku ini berdasarkan urutan anak dalam serial Anak-anak Mamak. Mulai dari Eliana, Pukat, Burlian, dan Amelia. Ternyata, aku salah. urutan buku ini bukan di mulai dari urutan anak sulung hingga ke bungsu. Melainkan, dari Amelia si bungsu sampai Eliana si sulung sebagai penutup dari serial anak-anak Mamak.

Meski buku ini buku serial, tapi kalian tidak mesti harus membaca buku ini secara urutan. Karena aku sendiri membaca buku Pukat setelah membaca buku Amelia. Kalau mau membaca secara urut, seharusnya aku membaca Burlian. Buku kedua setelah serial Amelia. Tapi, aku malah lompat, langsung membaca buku ketiganya. 

Ya, maklum, novel ini aku pinjam dari teman kampusku, Anang. Yang mulai ketagihan membaca buku Tere Liye serial anak-anak Mamak usai membaca Amelia. Setelah Anang selesai membaca novel ini, aku langsung meminjamnya karena penasaran dan tentu saja menyukai cerita-cerita bertema keluarga seperti ini.

Berbeda dari novel Amelia yang cenderung menguras air mataku sejak di bab awal, lalu pertengahan, dan tentu di akhir. Sampai terkadang, aku perlu jeda sebentar untuk menangis saat membaca novel ini. Karena saat itu, aku menangis agak berlebihan. Sampai nangisnya, tuh, terisak-isak. Makanya, sebelum lanjut membaca novel ini, aku harus memberi waktu untuk menenangkan diriku sendiri. Sampai perasaanku siap untuk lanjut membaca.

Kedengarannya sedikit berlebihan. Tapi, itulah yang kurasakan saat membaca novel ini. Aku penasaran juga, bagaimana perasaanku kalau membaca ulang novel Amelia lagi. Apakah aku akan menangis seperti saat pertama kali membacanya atau tidak?

Sejak membaca novel itu, aku jadi menyukai novel serial Anak-anak Mamak, terutama Amelia. Karena sejauh ini, baru dua novel serial Anak-anak Mamak yang kubaca, makanya aku masih tetap beranggapan novel Amelia yang paling bagus diantara keduanya. Selain itu, tidak hanya aku saja yang beranggapan novel ini cukup memancing emosi untuk menangis. Anang dan Ade yang juga membaca novel ini, mengaku sedih juga.

Berbeda dengan novel Pukat. Hal itu nggak aku rasakan. Maksudku, meski tetap ada bagian yang membuatku merasa sedih juga, tapi bagian sedih itu nggak membuatku sampai menangis berlebihan seperti di novel Amelia. Secara keseluruhan, novel Pukat lebih terasa menyenangkan, asyik dan seru. Mungkin hal ini karena sifat dan tingkah laku Pukat sendiri yang mencerminkan sikap anak-anak. Tidak seperti Amelia yang justru terlihat lebih dewasa daripada usianya di novel Amelia. Kalau di novel Pukat, perwatakannya terlihat natural layaknya anak-anak seusianya.

Selain itu, cerita di setiap babnya selalu memiliki cerita baru, sehingga tidak ada pengulangan adegan, kecuali kata-kata Mamak kepada Pukat yang serupa dengan Amelia. Maka dari itu, kalian bisa bebas membaca novel ini dari serial yang mana saja. Karena tidak ada cerita yang memiliki keterkaitan satu sama lain secara terikat. Novel-novel ini bisa berdiri sendiri. Sehingga, kalian nggak akan menemukan cerita-cerita yang diulang lagi di novel sebelumnya.

Keseruan Cerita Pukat

Cerita di novel Pukat dimulai dari petualangannya bersama Burlian dan Bapak pergi ke kota untuk menemui Ko Achan. Mereka pergi dengan naik kereta. Perjalanan di kereta terasa menyenangkan, apa lagi itu pengalaman pertama bagi Pukat dan Burlian naik kereta. Saat di kereta, ada kejadian lucu soal Burilian. Dan, aku ketawa-ketawa melihat tingkahnya di bagian bab awal. Kalau mau tahu, mending baca novelnya. Aku nggak mau spoiler, ya. Karena di-spoiler-in itu nggak enak. Bikin nggak mau baca bukunya.

Nah, selain tingkah lucu Burlian, saat perjalanan mereka sempat mendapat masalah. Sekelompok perampok melakukan aksinya saat kereta melewati terowongan yang cukup panjang dan gelap. Namun, berkat kecerdasan Pukat, perampok itu dapat diketahui dan ditangkap.

Hal yang seperti itu yang membuat Pukat dianggap anak cerdas. Setiap anak memiliki julukan masing-masing. Dan, julukan Pukat ini adalah si anak cerdas. Itu hanya salah satu bagian yang memperlihatkan kecerdasan Pukat.

Selain petualangan seru yang ada di novel Pukat. Ada juga bagian yang bikin senyum-senyum geli gitu. Apa lagi, kalau bukan tentang cinta, Tapi, kisah cinta di sini, lebih kepada cinta monyet. Makanya, sempat membuatku senyum-senyum dan geli sendiri.

Di novel Pukat ini, banyak sekali pelajaran yang bisa kalian ambil, selain hal yang menyenangkan seperti bagaimana menghargai suatu hasil tanpa melupakan usaha, kejujuran dalam bersikap, tanggungjawab, tentang perilaku yang senang bergunjing, kasih sayang orangtua, terutama Mamak pada anak-anaknya, nilai kebersamaan, dan melepas kepergian.

Sementara untuk alur cerita di novel ini, Tere Liye menggunakan dua alur. Di dalam novel ini, terdapat satu bab yang mengisahkan kehidupan Pukat setelah dewasa, dan di saat itulah teka-teki yang selama ini belum terpecahkan, akhirnya bisa ia ketahui. Mau tahu apa teka-tekinya? Baca selengkapnya di novel Pukat serial Anak-anak Mamak.

Membaca buku ini disela-sela kegiatan dan rutinitas sehari-hari sangat menyenangkan. Dan, aku rekomendasi untuk membaca tidak hanya serial ini saja. Tapi, serial yang lainnya. Kalau sekarang, aku tinggal baca dua serial lainnya. Burlian dan Eliana. Untuk Eliana sendiri, kemungkinan aku bakal pinjam bukunya sama temanku, Anang.

Setelah mendapat kabar dari Anang tentang novel Eliana, aku jadi penasaran. Dia bilang, novel Eliana menjadi kisah penutup yang paling bagus diantara novel lainnya. Mari kita buktikan. Sebagus apakah serial terakhir Anak-anak Mamak ini.

Kalau nanti sudah selesai membaca novel Eliana, aku akan buat juga ulasannya. Jadi, tunggu saja, ya. Dan, harap bersabar menunggu karena sampai sekarang TBR-ku masih menggunung dan setelah sempat terkena reading slump, aku jadi agak malas membaca. 

Hal ini, memang wajar dan sering terjadi di kalangan para kutu buku, pecinta buku, atau sebutan lainnya. Jadi, jangan kira, kami para kutu buku nggak punya masa-masa di mana kami malas membaca. Tapi, kalau masa itu terlewati, bisa-bisa buku yang dibaca nggak nanggung-nanggung dilahap dalam sekali duduk.

Ya, selamat menikmati hari libur dan jangan lupa membaca! 

Membaca Pukat di bis Transjakarta, melupakan kemacetan (Dok. Septi)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Novel Si Bungsu “Amelia” karya Tere Liye

Tentang Kamu, Novel Biografi Sri Ningsih karya Tere Liye

7 Hal yang Bisa Kamu Renungkan dari Buku "Jika Kita Tak Pernah Jatuh Cinta"