Berburu Buku di Islamic Book Fair 2017

Wisata Literasi Islamic Book Fair 2017 di JCC, Senayan, pada Selasa, (2/5)

Berkunjung ke Islamic Book Fair (IBF) merupakan agenda rutin yang mesti kudatangi setiap tahunnya. Sejak mengunjungi Islamic Book Fair tahun 2014 hingga 2017 ini, aku selalu menjadikan IBF sebagai momen untuk berwisata literasi dengan membeli banyak buku yang kuinginkan dan bertemu penulis-penulis kesukaanku.

Selain itu, harga yang ditawarkan relatif lebih murah daripada di toko buku karena banyak diskon yang diberikan setiap penerbit. Untuk ukuran mahasiswa sepertiku, yang belum memiliki penghasilan sendiri. Kesempatan ini sangat berharga dan sayang untuk dilewatkan begitu saja. Karena di acara seperti ini, aku bisa membeli lebih banyak buku dari biasanya. Dan, itu merupakan kebahagiaan tersendiri bagiku. Sampai-sampai aku rela datang tiga kali ke IBF 2017, yang berlangsung mulai tanggal 2-7 Mei 2017, di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta. 

Ada Yang Berbeda di  IBF 2017

Para pengunjung berbaris sambil menunjukan tiket yang sudah mereka beli sebelum masuk ke IBF


Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, yang kerap diadakan di Istora Senayan. IBF kali ini diselenggarakan di JCC karena Istora Senayan sedang direnovasi, guna mempersiapkan Asia Games 2018. Kalau dari segi tempat, IBF 2017 ini bisa dikatakan lebih nyaman dan luas karena  memang tempatnya cocok untuk acara-acara pameran semacam ini. Menurutku, sudah sebaiknya IBF diadakan di JCC seperti acara Indonesia International Book Fair (IIBF) yang tahun lalu juga diadakan di JCC, Senayan.

Selain tempatnya yang nyaman dan luas, IBF yang diadakan di JCC ini terlihat lebih teratur dari segi penempatan standnya. Karena IBF sendiri, tidak hanya menjual buku-buku, tapi juga ada yang menjual baju, tas, dan kebutuhan lainnya. Sehingga untuk penempatan stand buku dan kebutuhan di luar buku memiliki tempat yang berbeda. Hal ini memudahkan pengunjung yang hendak berbelanja dan tentuk tidak membingungkan layaknya IBF di Istora Senayan. 

Meski pun, baru pertama kali diselenggarakan di JCC, tapi aku sudah dapat dengan mudah mengetahui setiap stand yang ada di sana. Kecuali, satu stand  penerbit yang sulit kutemukan dan aku baru bisa menemukan stand itu di hari terakhir. Padahal aku sudah sering melewatinya, tapi tidak menyadari kalau itu adalah stand dari penerbit yang kucari di hari Sabtu, saat pergi bersama temanku. 

Selain tempat, yang menjadikan IBF 2017 ini berbeda dari IBF sebelumnya adalah penggunaan tiket. Jika biasanya IBF terbuka untuk umum dan gratis. Tahun ini, setiap pengunjung dikenakan biaya lima ribu rupiah untuk setiap orang. Meski pun, dikenakan biaya, tapi tiket yang dibeli dapat berlaku selama IBF berlangsung. Jadi, selama tiket yang kita beli tidak hilang, kita bisa datang ke IBF tanpa perlu mengantre tiket masuk lagi.

Selama IBF berlangsung, aku sudah mengunjungi sebanyak tiga kali dan dua kali beli tiket. Yang pertama aku datang di hari pembukaan IBF usai pulang kuliah. Niat awalnya datang ke IBF untuk membuat tulisan yang akan kujadikan sebagai bahan membuat tugas feature. Tapi, ternyata malah keasyikan belanja buku dan sempat terkena musibah. Dompet beserta isinya hilang.

Aku sempat panik dan bingung karena semua barang berhargaku ada di dalamnya. Mulai dari KTP (sangat berharga), ATM, KTM, tiga kartu perpustakaan, dua kartu perpustakaan punyaku dan satu punya temanku, kartu member yang nggak begitu penting, serta uang sejumlah sekitar tiga ratus ribuan. Kebetulan, saat itu semua uang ada di dompet dan di tasku tidak ada uang sepeser pun.

Aku bingung sekali, kalau tidak ada kartu transjakarta dan ponselku, mungkin aku tidak bisa pulang untuk memesan Gojek dan naik transjakarta. Saat itu, aku pergi sendirian, biasanya juga aku suka pergi sendiri kalau datang ke acara semacam itu. Karena sudah terlanjur panik dan bingung, aku tidak sempat memikirkan soal melakukan pengamatan di sana dan melakukan wawancara di hari pertama.

Kunjungan Hari Kedua ke IBF

Setelah mengunjungi IBF di hari pertama, aku datang lagi di hari Sabtu bersama teman kampusku, Anang. Yang saat itu, baru pertama kali datang ke IBF 2017 karena Anang ini anak rantau dari Lampung. Jadi wajar kalau belum pernah datang ke IBF. Yang nggak wajar, kalau tinggal di Jakarta dan sekitarnya, tapi belum pernah datang ke IBF. Semoga yang belum berkesempatan datang, tahun depan bisa datang ke sini, ya.

Awalnya, kami berniat datang di hari Minggu, lantaran Anang masih ada tugas UTS yang mesti dia kerjakan, makanya dia memintaku untuk pergi di hari Sabtu. Sebenarnya, mau pergi Sabtu atau Minggu, aku bisa saja. Sejak awal, aku memang berniat datang di dua hari itu karena dua penulis favoritku akan datang untuk peluncuran buku baru, sekaligus bedah buku.

Para pengunjung mengantre untuk membeli tiket masuk IBF 2017 di hari Sabtu, (6/5). Antrean cukup panjang dan ramai dibandingkan hari pertama pembukaan IBF 2017

Berbeda dengan kunjungan hari pertamaku ke IBF. Di hari kedua terakhir acara, IBF dibanjir lebih banyak pengunjung. Hal ini bisa dilihat dari awal pintu masuk dan panjangnya antrean tiket. Karena aku malas mengantre, akhirnya aku meminta Anang untuk membeli tiga tiket untuk kami. Ketika di dekat pintu masuk IBF, aku dan Anang bertemu Ricko, teman kampus dan satu organisasi denganku.

Daripada Ricko jalan sendirian, kami memutuskan pergi bersama mencari buku. Meski pada akhirnya, kami kehilangan jejak Ricko ketika di dalam. Mungkin karena aku berjalan di depan, sibuk mencari buku yang kuinginkan, sementara mereka mengikuti di belakangku, dan Anang juga tidak begitu menyadari keberadaan Ricko yang tertinggal di belakang.

Di hari itu, pengunjung sangat ramai dan berdesak-desakan, berbeda jauh dengan hari pertama ketika aku datang ke sana sendiri. Aku bisa dengan puas berjalan dan mencari buku. Tapi, ketika kemarin datang ke sana, aku benar-benar harus bersabar dan waspada berjalan-jalan di tempat seperti itu. Karena takut, pengalaman di hari pertama terulang kembali.

Tiga tiket masuk seharga 5 ribu yang bisa digunakan selama acara berlangsung sejak tanggal 2 - 7 Mei 2017

Esok hari, saat di kampus, aku sempat bertanya soal menghilangnya Ricko yang tiba-tiba tanpa kabar itu. Ternyata, dia memang memutuskan pulang setelah mengaku bingung berada di tempat semacam itu untuk mencari buku. Tidak heran kalau Ricko memutuskan pulang. Kalau aku ada di posisinya, aku akan melakukan hal yang sama. Tapi, karena aku datang untuk mencari buku incaranku, akhirnya aku tetap memilih bertahan dan berjuang mencari buku-buku yang tidak sempat kubeli di hari pertama.


Stand Penerbit Republika yang ada di IBF 2017. Banyak diskon yang ditawarkan untuk setiap buku di sana. Termasuk buku-buku terbaru karangan Tere Liye dan Habiburrahman El Shirazy

Di hari kedua kedatanganku di IBF, aku sempat merasa kecewa. Lantaran, buku yang aku inginkan sejak lama tidak ada. Setelah berkeliling beberapa jam di sana. Entah itu karena stoknya habis atau memang tidak tersedia alias kurang lengkap atau apa, aku juga kurang tahu. Tapi, yang jelas aku merasa koleksi buku-buku dari penerbit di sana kurang banyak dan lengkap jika dibandingkan dengan IBF sebelumnya.

Sehingga, di hari kedua, aku hanya mendapat empat buku, satu dari empat buku adalah pesanan temanku, Ade Noviyanti. Dia memintaku membelikan buku tentang sejarah dan aku merekomendasikan buku Muhammad Al-Fatih 1453 karya Ustad Felix Y. Siauw untuknya karena buku itu juga merupakan salah satu wishlistku. Tapi, aku malah tidak membeli buku itu di IBF kemarin. Dan, sekarang aku agak menyesal tidak membeli buku itu juga. Semoga di IBF tahun depan atau IIBF (jika ada) aku bakal beli buku itu.

Setelah mengelilingi IBF dan buku yang sangat kuinginkan tidak kudapatkan juga. Akhirnya, aku memutuskan untuk membeli buku lain, yang tidak begitu ingin kubeli. Tapi tetap kubeli juga karena sayang kalau ke sana pulang tanpa membawa hasil. Rasanya, cuma buang-buang waktu saja. Meski pun, tidak masuk ke dalam daftar buku yang aku inginkan sekali, tapi buku-buku yang kudapat tetap menarik untuk kubaca nantinya.

Bertemu Penulis 

Sesi book signing bersama Kang Abik di stand Penerbit Republika

Di hari Sabtu (6/5), aku hendak mengikuti acara bedah buku terbarunya Habiburrahman El Shirazy alias Kang Abik yang berjudul Bidadari Bermata Bening. Meski buku Ayat-ayat Cinta 2, belum selesai kutamatkan. Aku malah membeli bukunya lagi. Berhubung penulisnya datang juga dan buku yang kuinginkan belum dapat, yaudah, aku beli saja bukunya. Selain itu juga aku memang menyukai cerita-cerita yang ditulis Kang Abik sejak membaca bukunya saat masih duduk di bangku SMK. Dan terakhir kali membaca bukunya yang berjudul Api Tauhid, aku sampa sampai menangis di akhir cerita.

Buku Bidadari Bermata Bening ini, merupakan buku keempat beliau yang kupunya di luar buku yang sudah kubaca. Karena buku Api Tauhid sudah ditanda tangani dan masih dipinjam sama teman kuliahku, Dian. Bisa dibilang, hampir satu tahun buku itu belum kembali, lantaran dia belum selesai membacanya. Entah bagaimana dia membacanya, sampai bisa selama itu. Padahal buku itu mau dipinjam temanku yang lain, tapi karena dia belum selesai membacanya. Aku jadi belum bisa memintanya kembali. Meski sebenarnya bisa saja, karena, toh, itu buku milikku juga. Tapi, selama buku itu baik-baik saja, aku tidak mempermasalahkannya.

Bersama buku Ayat-ayat Cinta, buku Bidadari Bermata Bening, dan Kang Abik.

Dua buku yang mendapat tanda tangan penulisnya langsung adalah novel Ayat-ayat Cinta, yang memang sengaja kubawa dari rumah. Buku itu kubeli saat di Big Bad Wolf bulan April 2017 dan tentu saja buku terbarunya, Bidadari Bermata Bening. Tahun lalu, aku juga sempat ikut acara bedah buku beliau yang berjudul Ayat-ayat Cinta 2 dan sempat ikut book signing juga seperti tahun ini. Tapi, acara bedah bukunya yang sekarang, aku tidak ikut karena aku sudah tidak mood, lantaran tidak kebagian tempat, kelaparan, lelah, dan sebal buku yang kudapat di hari itu tidak ada. Aku malah membawa pulang, buku-buku di luar wishlistku.

Daripada lama-lama di sana, akhirnya aku memutuskan pulang dan mencari makan. Kasihan juga sama Anang karena dia terlihat kelelahan dan kelaparan karena terus mengikuti mencari buku seharian. Meski dia bilang nggak capek. Tapi, aku bisa melihatnya. Kadang, aku suka nggak tega, kalau jalan sama orang lain. Berbeda ketika aku jalan sendiri. 

Sebenarnya, di IBF sendiri terdapat bazar makanan yang berada di luar gedung JCC, tempatnya dekat parkiran, persis di dekat pintu masuk JCC. Setelah berkeliling mencari makanan di sana, kami memutuskan untuk tidak membeli makan di sana dan pergi ke Blok M untuk mencari makan yang lebih murah dikantong mahasiswa seperti kami, sekaligus mengajak Anang keliling Blok M. Meski pun, pada akhirnya kami terdapar di toko buku Gramedia setelah selesai makan untuk sekadar lihat dan baca buku di sana. 

Anang tengah asyik membaca buku di toko buku

Meski pun, sempat kecewa di hari kedua lantaran buku yang sangat aku inginkan tidak berhasil kubawa pulang. Tapi, aku cukup menikmati perjalanan ke IBF kali ini karena ditemani Anang, temanku yang orangnya sangat menyenangkan dan seru diajak diskusi soal apa pun. Termasuk soal buku. Ya, kami juga bercerita tentang buku, meski pun, sebenarnya aku yang lebih banyak cerita soal buku dibandingkan dia yang bisa dibilang, tidak begitu maniak buku sepertiku.

Tapi, terima kasih, ya, Anang, karena dengan sabar mendengarku mengoceh soal buku. Maklum, teman-temanku jarang sekali yang suka buku. Jadi, aku jarang membahas soal buku di sekitar teman-temanku di kampus. Karena mereka pasti tidak paham, hanya segelintir orang yang tahu dan bisa diajak diskusi soal buku. Semoga kamu, tidak menyesal pergi membeli buku denganku hehehe.

Bedah Buku Tere Liye "Tentang Kamu" 

Bedah buku terbaru Tere Liye "Tentang Kamu"

Selain memiliki kebiasaan datang di hari pertama IBF, aku juga suka datang di hari terakhir IBF karena biasanya, penulis atau pembicara yang datang sangat menarik. Mungkin karena itu hari weekand dan pengunjung biasanya lebih banyak berdatangan. Makanya, terkadang acara dan pengisinya lebih menarik dibanding hari biasa. Hal ini berdasarkan pengamatanku sejak mengikuti IBF sebelum-sebelumnya.

Di hari terakhir IBF, salah satu penulis favoritku datang. Setiap tahunnya, Tere Liye memang selalu datang ke IBF untuk bedah buku, termasuk tahun ini. Awalnya aku agak malas untuk pergi. Berhubung tidak ada teman yang bisa diajak pergi ke sana. Beberapa teman dekatku yang kuajak, mereka tidak bisa karena ada urusan penting lainnya. Termasuk Anang, yang niat awalnya datang ke IBF di hari Minggu karena ingin melihat Tere Liye secara langsung. Setelah dia mulai menyukai tulisan Tere Liye karena buku Amelia yang kurekomendasikan untuk dia baca.

Ya, meski pun sendirian dan sempat malas datang, akhirnya aku datang juga ke sana karena penasaran sama buku terbarunya yang berjudul "Tentang Kamu". Sebelum acara bedah buku ini, aku sudah terlebih dulu memesan bukunya secara online. Niat awalnya, aku mau membaca buku itu sebelum ikut bedah bukunya. Tapi, kan, kalau aku sudah membaca bukunya, ngapain juga datang ke bedah bukunya. Justru ikut bedah bukunya itu karena belum baca dan ingin tahu soal buku tersebut. Karena alasan itu, makanya aku semangat datang.

Dan, karena tiap tahun datang ke IBF aku suka ikut bedah buku Tere Liye juga. Makanya sayang, kalau tahun ini nggak ikut. Karena cuma di acara seperti itu, aku bisa bertemu dan berinteraksi langsung dengan penulisnya, ikut bedah buku sekaligus book signing. Sejak mengikuti bedah bukunya yang berjudul Rindu tahun 2015, setiap tahun, kalau ada Tere Liye, pasti aku bakal datang. Kalau tahun depan Tere Liye mengeluarkan buku baru lagi dan ada bedah bukunya, semoga aku bisa berkesempatan datang lagi.

Meski sudah ketiga kalinya, tapi keseruan acara bedah buku bersama Bang Tere selalu menyenangkan dan menghibur. Selalu ada hal-hal yang menarik di setiap acara bedah buku. Seperti ketika Bang Tere menceritakan soal kisah buku Hafalan Surat Delisa yang sempat dianggap buku bid'ah lantaran diletakkan di bagian buku tentang shalat. Para penggemar Tere Liye yang datang setiap tahunnya pun selalu ramai. Sampai-sampai banyak yang rela duduk di bawah panggung dan berdiri di belakang karena tidak kebagian tempat duduk di dekat Panggung Utama IBF. Saat sesi book signing pun, antreannya cukup panjang melebihi antrean beli tiket masuk IBF hehehe.

Bang Tere Liye ini, kalau kuperhatikan sangat prouktif. Buku Tentang Kamu sendiri merupakan buku keduapuluh enam yang terbit, dan nanti juga bakal terbit lagi buku terbarunya yang rencana akan diterbitkan tahun 2017. Antara senang dan sedih juga, soalnya Bang Tere ini bikin iri. Sampai sekarang saja, aku belum kunjung menyelesaikan satu buku atau bisa menerbitkan buku sebanyak dirinya. Tapi, semoga saja, suatu hari nanti aku bisa ketularan seperti Bang Tere yang produktif dalam berkarya. Amin.

Aku bersyukur tinggal di Jakarta, pergi ke mana pun mudah, selama ada aplikasi ojek online, Transjakarta, dan kereta, pergi ke mana pun tinggal jalan saja. Meski sendirian. tidak menjadi masalah. Karena memang terbiasa pergi sendirian. Selain melatih kemandirian, rasanya seru saja kalau sesekali pergi dan jalan sendiri. 

Oya, di tahun 2017 ini, masih ada satu acara wisata literasi semacam ini juga, yang diadakan di Jakarta, yaitu Indonesia International Book Fair dan rencananya akan diadakan di JCC juga, pada bulan September. Yeay, bertepatan dengan bulan kelahiranku.

Semoga aku bisa datang ke sana karena IIBF juga merupakan salah satu acara yang rutin setiap tahun aku datangi. Siap-siap menabung untuk IIBF dari sekarang. Dan, puasa beli buku juga untuk meminimalisir jumlah TBR (to be read) yang semakin menumpuk. Semangat, kamu pasti bisa, Septi!

Selamat membaca!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Novel Si Bungsu “Amelia” karya Tere Liye

Tentang Kamu, Novel Biografi Sri Ningsih karya Tere Liye