Resolusi Buku 2017

Resolusi Buku 2017
Setiap orang memiliki berbagai macam cara untuk menyambut datangnya tahun baru, begitu juga dengan diriku. Bagiku, tidak ada perayaan khusus untuk menyambut tahun 2017 tadi malam. Ketika yang lain sibuk berpesta. Kumpul bersama keluarga, teman, atau bahkan pacar untuk merayakan malam pergantian tahun. Melewati momen pergantian tahun dengan menyaksikan kemeriahan kembang api bersama, yang membuat langit tadi malam lebih meriah dari biasanya. Suara terompet pun tak henti-hentinya ditiupkan di sana-sini hanya demi menyambut datangnya tahun 2017 tadi malam.

Sementara aku, semalam justru memilih tidur lebih awal dari biasanya. Setelah Isya aku sudah terlelap. Tidak biasanya aku tidur lebih cepat tadi malam. Mungkin karena kelelahan selepas seharian kemarin aku berkeliling menyusuri TMII.

Mengingat liburan ini aku tidak pergi ke mana-mana, hanya menghabiskan waktu mengerjakan tugas kuliah, membaca buku, menulis, dan mengerjakan hal lainnya yang tidak bisa kukerjakan ketika kuliah berlangsung. Maka, aku sengaja pergi berlibur untuk mengambil foto-foto buku di berbagai penjuru TMII. Meskipun, foto-foto yang aku ambil akhirnya lenyap karena tiba-tiba saja memori ponselku keformat. Sungguh menyebalkan, padahal sudah banyak foto yang kuambil di sana. Fotonya pun, menurutku bagus karena didukung latar tempat yang bagus. Eh, justru malah hilang begitu saja. Tanpa tersisa.

Oke, kita kembali lagi ke pembahasan pergantian tahun baru. Bagiku, pergantian tahun itu tidak melulu harus diisi dengan melakukan tradisi semacam itu (pesta, bakar-bakar, meniup terompet, menyalakan kembang api, dsb). Yang menurutku kerap tidak memberi banyak manfaat. Meski begitu, aku tetap memiliki satu tradisi yang tiap tahun tak pernah terlewatkan sejak tahun 2014. Tradisi itu adalah membuat resolusi.

Membuat resolusi baru untuk mengisi lembaran baru di tahun 2017. Daripada kegiatan kita diisi dengan hal-hal seperti itu, lebih baik digunakan untuk mengevaluasi diri di tahun sebelumnya, sehingga ketika menyambut tahun baru, kita sudah siap untuk memulai kembali lembaran baru dalam hidup ini.

Resolusi yang kita buat dapat membantu kita dalam menjalankan kehidupan di sepanjang 2017 mendatang. Membuat resolusi berarti kita menetapkan tujuan. Menurutku, resolusi itu seperti target yang kita buat dan hendak kita capai dalam jangka waktu yang telah ditetapkan sebelumnya. Dalam membuat resolusi kita bisa bebas memasang target apa pun, asalkan target yang dibuat spesifik. Yang dimaskud di sini adalah jelas dan rinci, misalnya seperti membaca 36 buku selama satu tahun. Itu jelas spesifik jika dibandingkan membaca banyak buku, tanpa memberi rincian berapa banyak buku yang dimaksud.

Pada tulisan kali ini, aku sengaja menuliskan resolusi buku karena aku ingin mencapai target-targetku yang berkenaan dengan buku. Sebenarnya, ada banyak resolusi yang bisa dibuat seperti resolusi tentang kuliah, tentang menulis, tentang meningkatkan kualitas diri, dan sebagainya yang bisa kita buat. Tapi, pada tulisan kali ini aku hanya akan membagikan resolusiku tentang buku. Dan, berikut ini empat resolusi tentang buku yang kubuat.

1. Membaca 36 buku fiksi dan nonfiksi


Membaca buku fiksi dan nonfiksi


Di tahun 2016 lalu, aku tidak tahu sudah membaca berapa banyak buku karena aku tidak menghitung jumlah buku yang sudah kubaca. Aku juga tidak bisa mengingat semua buku apa saja yang sudah kubaca selain yang ada di rumah. Tidak hanya buku, ada pula ebook yang aku baca di tahun 2016. Tapi, nasibnya sama. Aku benar-benar tidak bisa mengingat semua ebook yang sudah kuselesaikan, hanya beberapa yang bisa kuingat.

Namun, di tahun 2017 ini, aku membuat resolusi membaca 36 buku. Baik buku fiksi atau buku nonfiksi selama satu tahun. Meskipun aku tidak langsung menetapkan target dalam jumlah besar karena aku mencoba sedikit demi sedikit menantang diriku. Sebelum akhirnya bisa membaca banyak buku melebihi 36 buku.

Bukankah segala sesuatu itu dicapai perlu ada tahapannya? Dan, pada tahun ini, aku mencoba 36 buku dulu. Jika nanti aku bisa berhasil atau melebihi targetku, maka hal itu tidak menjadi masalah karena target dibuat untuk dicapai dan menjadi acuan untuk terus bergerak mencapai tujuan. Jika nantinya hal ini tidak berhasil, itu pertanda aku harus mengevaluasi kembali diriku sebelum akhirnya kembali membuat resolusi lagi.

Nantinya, aku akan membuat buku khusus mencatat buku-buku yang sudah kubaca supaya aku tidak lupa dan bisa mengetahui jumlah buku yang sudah kubaca selama 2017 ini. Jika aku memasang target membaca 36 buku selama setahun. Itu berarti dalam satu bulan aku mesti membaca minimal 3 buku. Ya, semoga saja aku bisa memenuhi targetku kali ini.

Lalu, bagaimana dengan kalian? Sudah menentukan berapa banyak buku yang ingin kalian baca selama 2017 ini?

2. Keluar dari Zona Nyaman


Setiap orang mempunyai kesukaan yang berbeda-beda dalam hal membaca buku. Hal ini juga terjadi padaku. Jika ditanya jenis buku apa yang kusuka, maka aku menjawab jenis romance jika buku fiksi dan jenis pengembangan diri atau motivasi untuk buku nonfiksi. Entah mengapa, aku menyukainya saja karena kedua jenis buku itu membuatku merasa terhibur dan termotivasi ketika aku tengah mengalami demotivasi atau penurunan motivasi.

Dalam hidup, tentunya motivasi kerap naik turun, salah satu cara untuk aku mengatasinya bisa dengan membaca buku-buku yang berisi motivasi sekaligus menginspirasi. Sebenarnya, motivasi terbesar yang ada pada diriku lebih banyak bersumber dari dalam diriku sendiri. Aku lebih suka memotivasi diriku sendiri, makanya motivasi terbesar ku ada di dalam diriku.

Terkadang, ketika orang lain memotivasiku, apa yang mereka motivasikan tidak melulu berpengaruh dalam meningkatkan motivasiku. Karena aku lebih suka mencari sumber motivasiku dari diriku dan hal-hal yang kusuka seperti misalnya membaca buku. Entah mengapa, hal itu jauh lebih bisa kuterima daripada hanya sekadar motivasi dari orang lain. Padahal, buku juga ditulis orang lain. Namun, cara penyampaiannya saja yang berbeda.

Di 2017 ini, aku ingin membaca berbagai macam jenis buku yang tidak begitu sering kubaca atau belum pernah kubaca sebelumnya. Aku ingin keluar dari zona nyamanku yang lebih suka membaca dua jenis itu. Misalnya, membaca buku sejarah atau novel yang nilai sejarahnya kuat, aku tertarik membaca novel seperti itu.

Setelah sebelumnya pernah membaca novel bertema sejarah atau mengandung nilai sejarah, seperti The Chronicles of Ghazi dan Api Tauhid, aku merasa suka dan tertarik, sekalipun aku tidak pernah membaca novel yang bertema sejarah sebelumnya. Dari situ, aku jadi ingin membaca novel-novel bertema sejarah lainnya. Karena mengetahui sejarah yang bersifat nofiksi, termyata lebih seru ketika dibawakan lewat novel. Tidak ada rasa bosan dan mengantuk seperti membaca buku sejarah zaman sekolah dulu. Tidak ada rasa bosan, yang ada justru ketagihan haha.

Karena novel bertema sejarah memiliki alur, tokoh, dan hal lainnya yang tidak bisa ditemukan di buku sejarah. Karena hal itulah sejarah lebih asyik jika disampaikan lewat novel, dibanding membaca buku sejarah zaman sekolah dulu. Tapi, jauh lebih bagus, jika bisa membaca buku sejarahnya secara utuh. Semua itu tergantung pada pilihan masing-masing.

Tidak hanya itu, aku juga tertarik membaca novel filsafat, Dunia Sophie. Buku yang sudah sekitar dua bulan aku beli, tapi belum aku baca samasekali. Sampai sekarang novel itu masih terbungkus plastik dan label harganya pun belum aku lepas.

Ketika kuliah semester dua, aku sempat mendapat mata kuliah filsafat. Pada mata kuliah tersebut, terdapat penjelasan tentang apa itu ontologi, epistimlogi, dan aksiologi, serta belajar logika berpikir. Yang menurutku saat itu, cukup sulit. Tapi, aku bersyukur karena bisa lulus di mata kuliah semester itu.

Meski sudah lulus sekali pun, aku sebenarnya masih penasaran dengan filsafat, sekalipun mata kuliah itu sempat bikin aku pusing. Tapi, ketika aku menemukan novel filsafat karangan Jostein Gaarder, aku senang sekaligus penasaran. Bagimana filsafat dibawakan di sebuah novel?

Sebelumnya, aku pernah membaca tulisan Jostein Gaarder di novel The Magic Library yang ditulis bersama Klaus Hagerup. Aku suka novel itu, karena selain bercerita tentang perpustakaan, novel itu juga unik. Hanya terdiri dari dua bab saja. Penuh teka-teki, sehingga kerap mengundang rasa penasaran saat memabacanya.

Jadi, ketika tahu Jostein Gaarder menulis novel filsafat, tanpa ragu aku membelinya, meski belum aku baca. Tapi, di tahun ini, aku akan segera memabacanya setelah aku menyelesaikan beberapa buku yang masih aku baca sekarang ini.

Sementara untuk buku nonfiksi, aku ingin membaca buku-buku yang bertema jurnalistik atau buku komunukasi dan buku tentang kepenulisan karena buku-buku seperti itu dapat membantuku yang saat ini tengah mengambil jurusan jurnalistik untuk meningkatkan kemampuan dan pengetahuanku dalam hal bidang itu. Karena jurnalistik merupakan hal yang sangat baru dan masih banyak hal yang belum aku ketahui. Aku jadi merasa tertantang untuk membaca buku nonfiksi bertema seperti itu.

Itulah beberapa genre novel yang ingin aku baca, tapi tetap tidak menutup kemungkinan untuk aku mencoba membaca buku dengan tema yang berbeda seperti novel psikologi, novel politik, dan sebagainya.

Membaca buku dengan genre baru itu seru dan membuatku tertantang. Apakah aku suka tema ini? atau apakah tema ini cocok untukku?

3. Menyelesaikan Timbunan Buku
Timbunan buku


Banyak sekali buku yang belum selesai kubaca di tahun 2016, misalnya buku 1Q84 jilid dua dan tiga yang sampai saat ini belum selesai kubaca. Karena ceritanya yang berat membuatku cukup lama menghabiskan waktu untuk membacanya. Selain itu, pengaruh buku yang lebih menarik untuk dibaca kerap membuatku menunda membaca bukunya. Tapi, aku akan berusaha menyelesaikan buku itu. Meski tema bukunya berat sekali pun. Apakabar Aomame dan Tango di 1Q84, ya?

Salah satu kebiasaan burukku yaitu, mudah tergoda ketika melihat buku yang jauh lebih menarik ceritanya ketika masih membaca buku. Biasanya, aku suka membaca satu atau dua bab buku yang baru kubeli atau kupinjam. Jika, menurtku satu bab atau dua bab buku itu menarik, aku akan membacanya, meskipun saat itu buku yang tengah kubaca belum usai.

Tidak hanya itu, kebiasaan membaca berbagai macam buku yang berbeda setiap harinya membuatku lama dalam menyelesaikan buku-bukuku. Meski hanya membaca satu bab atau dua bab, hal ini menyebabkan buku-buku yang ada tidak bisa langsung selesai begitu saja. Karena tidak ada yang benar-benar bisa aku baca satu buku sampai selesai. Entah ini kebiasaan buruk atau tidak. Tapi, aku senang jika dalam satu hari bisa membaca lebih dari satu jenis buku.

Mungkin, karena keinginan membacaku yang tengah meningkat, membuatku ingin membaca banyak buku, sementara aku tidak bisa membaca semua jenis buku itu. Hal ini lah yang menimbulkan kebiasaanku membaca dua atau tiga buku yang berbeda dalam satu hari mengakibatkan buku yang kubaca tak kunjung selesai dibaca.

Lalu, kebiasaan membeli buku yang terkadang sulit dikendalikan, membuat timbunan bukuku semakin tinggi. Apakah kalian pernah mengalami hal yang seperti itu?

4. Membaca Ulang Buku Favorit


Membaca ulang buku favorit

Buku favorit selalu meninggalkan rasa rindu. Ada beberapa buku terfavorit diantara buku-buku favorit lainnya. Dan, aku mau tahun ini membaca ulang buku yang menurutku terfavorit diantara yang favorit itu.

Hal yang membuatku ingin membacanya lagi karena aku rindu akan cerita di buku itu. Untuk di tahun 2017 ini, buku terfavoritku yang mau kubaca lagi adalah trilogi Negeri 5 Menara karya penulis favoritku Ahmad Fuadi. Buku yang kubaca tahun 2014 ini telah banyak meninggalkan kesan dan pengaruh di dalam kehidupanku saat itu.

Aku rindu kisah Alif dan teman-temannya di Pesantren Gontor, perjuangan Alif dalam meraih mimpinya untuk kuliah, lalu perjalanan Alif ketika kuliah, hingga setelah kuliah dan mendapatkan pekerjaan. Membaca buku itu membuatku hanyut di dalamnya dan aku mau merasakan hal itu lagi. Sungguh, aku rindu kisah Alif.

Buku Negeri 5 Menara bisa dibilang cukup tebal karena setiap bukunya terdapat sekitar 500an halaman. Meski begitu, aku pernah menyelesaikan buku itu hanya dalam hitungan hari. Dan yang paling mengejutkan buatku, aku pernah membaca buku Rantau 1 Muara hanya dalam satu hari. Bagiku, hal itu sungguh luar biasa karena kekuatan membacaku saat itu cukup besar. Tapi, ketika nanti aku membaca ulang buku itu. Aku tidak mau terburu-buru membacanya, aku ingin menikmati benar-benar setiap lembar kisah Alif di buku itu. Aaaa, sungguh tidak sabar untuk membaca ulang buku itu.

Ya, itulah keempat resolusi buku yang kubuat untuk tahun 2017 ini. Semoga apa yang aku targetkan dapat tercapai atau justru bisa lebih dari itu. Lalu, kalau kalian gimana?

Apa membuat resolusi juga di tahun ini? Jika iya, semoga apa yang sudah ditargetkan dapat tercapai dan menjadikan kita bersemangat dalam mencapai setiap resolusi yang sudah di tetapkan. Amin.

Jika belum buat, yuk buat sekarang juga! Tentukan hal-hal yang mau kalian capai di tahun ini karena hal itu sungguh menyenangkan, loh. Jika hidup tanpa memiliki target, hidup seakan hampa dan terombang-ambing. Tidak jelas apa yang mau dicapai.

Selamat sore dan jangan lupa baca buku!

Komentar

  1. Terimakasih, sangat menginspirasi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama Kiki :) Terima kasih juga telah membaca tulisanku

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Novel Si Bungsu “Amelia” karya Tere Liye

Tentang Kamu, Novel Biografi Sri Ningsih karya Tere Liye

7 Hal yang Bisa Kamu Renungkan dari Buku "Jika Kita Tak Pernah Jatuh Cinta"