Minggu, 29 Januari 2017

 Rumah Kertas karya Carlos Maria Dominguez
Halo, para pembaca...

Kali ini, aku ingin kembali mengulas buku setelah hampir dua minggu lebih tidak mengunggah tulisan di blog. (Meski sudah membuat tiga draft tulisan di blog sekali pun).

Maaf sekali. Semoga kedepannya bisa lebih konsisten lagi.

Buku yang aku ulas kali ini berjudul Rumah Kertas. Sebuah novel yang sejak tahun 2016 ingin sekali aku baca, tapi baru dua hari yang lalu selesai kubaca. Setelah mendapat kiriman dari Dema Buku (toko buku online). Malam itu juga aku langsung membacanya. Saking nggak sabar dan penasarannya. Dan, aku cukup puas setelah membacanya.

Yuk, langsung saja simak ulasanku berikut ini.

Judul : Rumah Kertas
Penulis : Carlos Maria Dominguez
Penerjemah : Ronny Agustinus
Penerbit : Marjin Kiri
Cetakan : I, September 2016
Tebal : 76 hlm, 12x 19cm
ISBN : 978-979-1260-62-6
Harga : Rp. 33.000 (Beli di @demabuku )

Kegilaan di Rumah Keras

Rumah Kertas merupakan novel karya Carlos Maria Dominguez, penulis Argentina, yang pertama kali kubaca. Usai membaca novel setebal 76 halaman ini, aku langsung teringat pada kisah Bibbi Bokken di novel The Magic Library (Perpustakaan Ajiab Bibbi Bokken) karya Jostein Gaarder dan Klaus Hagerup. Novel yang bercerita tentang petualangan Berit dan Nils menemukan perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken. Buku ini merupakan buku pertama yang kubaca, yang bercerita tentang sejarah buku, perpustakaan, penerbitan dan hal-hal yang berkaitan dengan dunia perbukuan.

Menurutku, novel Rumah Kertas ini memiliki kesamaan seperti novel The Magic Library (Perpustakaan Ajiab Bibbi Bokken) yang memiliki tokoh-tokoh yang menyukai buku-buku. Bukan sekadar menyukai buku saja. Tapi, lebih dari suka. Mungkin, bisa dikatakan gila karena sampai membuatku merinding saat membaca kisahnya. Baik novel The Magic Library maupun Rumah Kertas.

Aku takjub. Ternyata ada tokoh-tokoh yang begitu menggilai buku-buku. Terutama kegilaan di novel Rumah Kertas, ketika tokoh Carlos Brauer dan Delgado yang merupakan bibliofil atau pecinta buku ini memenuhi rumahnya dengan buku-buku. Brauer memiliki dua puluh ribu buku yang tersimpan dalam rak-rak buku besar dari lantai sampai plafon rumahnya. 

Tidak hanya di rak buku, buku-buku itu juga mengisi setiap sudut rumah mulai dari dapur, kamar tidur, anak tangga menuju loteng, hingga kamar mandinya. Bisa bayangkan seberapa gilanya ia terhadap buku-buku, sampai di kamar mandi saja terdapat buku-buku. Tempat yang menurutku paling berisiko merusak buku jika terkena air. Hal yang paling mengerikan yang tidak diinginkan bagi para bibliofil. Tapi, justru ia melakukannya dan rela mandi air dingin, sekali pun itu di musim dingin hanya agar bukunya tidak basah (lebih baik nggak usah menyimpan buku di kamar mandi kalau memang nggak mau basah, tapi namanya juga cerita).

"Kamar mandinya berisi buku di tiap dindingnya, kecuali di dinding tempat pancuran air, dan buku-bukunya tak sampai rusak hanya karena ia berhenti mandi air hangat buat mencegah uap. Mau musim panas atau musim dingin, ia selalu mandi air dingin." 

Bukahkah ini gila?

Tapi, ada hal yang lebih gila daripada itu, yaitu ketika Brauer sukarela memberikan mobilnya hanya demi bisa menampung buku-bukunya di garasi mobil. Mungkin, sampai tidak ada tempat lagi untuk menampung buku-buku itu, sampai ia harus merelakan mobilnya demi bisa menampung buku-bukunya.

Cerita Rumah Kertas

Rumah kertas ini bercerita tentang perjalanan sosok "Aku" yang mendapati sebuah buku aneh yang dikirim ke alamat rekannya, Bluma, seorang profesor sastra di Universitas Cambridge, Inggris, yang tewas ditabrak mobil saat sedang membaca buku. Sejak kematian Bluma, sosok "Aku" ini menggantikan Bluma di jurusan Sastra Amerika Latin, memakai kantornya, dan mengajarkan mata kuliahnya, sekali pun ia tidak terkesan oleh adu pendapat soal kematian Bluma. Pendapat ini bertentangan, ada yang berpendapat bahwa "Bluma membaktikan hidupnya pada sastra, tanpa pernah membayangkan bahwa sastralah yang akan merenggutnya dari dunia ini."

Ada pula yang berpendapat bahwa, "Bluma mati gara-gara mobil, bukan gara-gara puisi."

Tapi, dibalik perdebatan itu, adahal lain yang lebih menarik perhatian yaitu, soal buku karya Joseph Conrad yang dikirim untuk Bluma sebelum sempat dibacanya. Buku itu dipenuhi serpihan-serpihan semen kering dan dikirim dengan cap pos Uruguay. Lalu, sosok "Aku" ini pun mulai penasaran dan menyelidiki asal usul buku itu. Penyelidikan ini membawanya memasuki dunia para pecinta buku, dengan berbagai ragam dan keunikan dan kegilaannya.

Aku tidak bisa banyak bercerita soal kisah ini, aku tidak mau spoiler. Lebih baik kalian membacanya sendiri dan rasakan kegilaan membaca Rumah Kertas ini. Dan, aku merasa novel ini juga sangat cocok dibaca bagi para pecinta buku atau yang memiliki kegemaran membaca dan mengoleksi buku.

Aku cukup puas dan senang membaca novel ini. Selain karena kisahnya yang unik dan terjemahan Ronny Agustinus yang mengalir. Melalui novel ini, aku dapat merasakan atmosfer yang mungkin bisa dirasakan para bibliofil. Karena novel ini, mengisahkan bagaimana para biliofil seperti Brauer dan Delgado memperlakukan buku-buku melebihi apa pun. Mereka rela mengorbankan hal-hal yang berharga demi buku-bukunya. Selain itu, kita bisa menemukan kisah tentang kebiasaan-kebiasaan para bibliofil yang biasa dan tak bisa soal buku-buku. Kisah yang benar-benar unik dan menarik. Ya, meski sayang kisah yang memikat ini terlalu singkat untuk dinikmati.

Dan dari cerita ini juga aku merasa belum ada apa-apanya, belum segila Brauer dan Delgado. Ya, meski pun aku tidak mau juga berlebihan seperti mereka (Brauer dan Delgado). Cukup menjadi pecinta buku, yang senang membaca berbagai macam buku dan mengoleksi buku-buku yang memang layak dikoleksi sekadarnya saja.  

Di cerita Rumah Kertas, terdapat pembagian golongan untuk pecinta buku, diantaranya :

"Orang-orang ini (bibliofil) ada dua golongan....pertama, kolektor, yang bertekad mengumpulkan edisi-edisi langka.....edisi pertama buku-buku Borges sekalitus artikel-artikel di majalah-majalah; buku-buku yang dicetak oleh Colombo, disunting oleh Bonet, sekalipun mereka tak pernah membuka-bukanya selain untuk melihat-lihat halamannya, seperti orang-orang mengagumi sebuah objek indah.

Lainnya, ada para kutu buku, pelahap bacaan yang rakus, seperti Brauer itu, yang sepanjang umurnya membangun koleksi perpustakaan yang penting. Pecinta buku tulen, yang sanggup mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk buku yang akan menyita waktu mereka berjam-jam, tanpa kebutuhan lain kecuali untuk mempelajari dan memahaminya."

Diantara dua golongan tersebut, kira-kira kalian masuk ke golongan yang mana?

Ya, itu ulasan singkatku mengenai novel Rumah Kertas. Aku tidak bisa mengulas panjang lebar berhubung novel ini cuma 76 halaman saja. Semoga kalian suka dan tertarik membacanya. Selama pagi dan jangan lupa membaca, ya!


Senja and Books . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates