"Kemampuan membaca itu sebuah rahmat. Kegemaran membaca itu sebuah kebahagiaan."




Bagi sebagian besar orang, membaca belum menjadi sebuah kegemaran. Hal ini telihat dari tingkat minat baca warga Indonesia yang masih sangat rendah. Berdasarkan data yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik tahun 2012, sebanyak 91,58 persen penduduk Indonesia yang berusia 10 tahun ke atas lebih suka menonton televisi. (Sumber : Kompas.com)

Hal ini tidak bisa dipungkiri karena di sekitar kita saat ini, terutama keluargaku sendiri lebih suka menonton televisi daripada membaca buku. Selain itu, menurut data Wold's Most Literate Nations, yang disusun oleh Central Connecticut State University tahun 2016, peringkat literasi Indonesia berada di posisi kedua terbawah dari 61 negara yang diteliti. Indonesia hanya lebih baik dari Bostwana, negara di kawasan Selatan Afrika. (Sumber : femina.co.idMelihat fakta-fakta tersebut Indonesia begitu memperihatihkan.

Di sisi lain, aku bersyukur karena memiliki kegemaran membaca meski terlahir dari keluarga yang tidak gemar membaca. Aku sendiri sampai detik ini, masih kerap bertanya-tanya, "Mengapa aku begitu sangat menyukai buku dan gemar membaca?"

Dari pertanyaan itu, aku tergerak untuk menulis di sini dan mencoba menjawab pertanyaanku sendiri. Sejak kecil aku memiliki ketertarikan pada buku dan perpustakaan. Mengingat kenangan zaman dulu. Ketika masih duduk di bangku sekolah dasar, aku dan temanku kerap berkunjung ke perpustakaan di Kompleks Mandiri selepas pulang sekolah.

Buku-buku yang tersusun rapi di setiap rak perpustakaan

Ketika berkunjung ke sana, aku begitu takjub ketika melihat isi perpustakaan yang saat itu, bagiku sangat besar jika dibandingkan perpustakaan sekolah. Banyak buku yang tersusun rapi di setiap rak-raknya. Tempatnya pun nyaman.

Aku mulai menjelajahi setiap sudut perpustakaan dan mengambil buku yang menarik. Di sana aku menemukan buku yang membuatku tertarik membacanya yaitu, novel Harry Potter. Karena aku suka film Harry Potter, aku jadi penasaran dan tertarik membaca bukunya, sekalipun bukunya tebal-tebal. Saat itu aku baru bisa membaca buku pertamanya, Harry Potter dan Batu Bertuah. Dari situ, aku mulai merasa membaca itu menyenangkan.


Buku Harry Potter dan Batuh Bertua


Dan sejak saat itu, aku ingin memiliki novel Harry Potter. Aku sempat menabung untuk membeli novel Harry Potter, meski akhirnya gagal karena orangtua sempat melarangku membeli buku dengan harga yang menurut mereka tidak wajar. Pikiran orangtuaku dulu, "Lebih baik membeli yang lain, daripada membeli novel semahal itu." Aku hanya bisa menurut. Dan akhirnya,  sampai sekarang aku belum bisa membelinya. Namun, keinginan untuk memilikinya masih tetap ada. Aku berharap suatu hari nanti, aku bisa memiliki novel Harry Potter, meski hal itu bisa dikatakan terlambat.

Selain itu, aku juga dulu sempat suka membaca majalah Bobo. Di majalah itu terdapat banyak cerita mulai dari cerpen, dongeng, cerita Bobo, Bona dan Rong-rong, Oki dan Nirmala dan masih banyak lagi. Aku suka cerita-cerita seperti itu sebelum akhirnya aku mulai beralih suka membaca novel, yang jumlah halamannya lebih tebal dari cerpen atau dongeng.

Sebelumnya, aku hanya membaca dan meminjam novel di perpustakaan. Tapi setelah duduk di bangku menengah kejuruan, keinginan untuk memiliki buku sendiri tiba-tiba muncul. Aku suka membaca dan aku juga ingin memiliki buku-buku yang kubaca dan menurutku pantas untuk kuwariskan kelak kepada keturunanku (sudah berpikir jauh sekali). Mulai dari situlah aku mulai menyicil untuk mengumpulkan buku, baik buku nonfiksi maupun buku fiksi.

Meski orangtuaku sempat melarangku membeli buku fiksi karena bagi mereka buku fiksi seperti novel itu bukan buku pelajaran. Bagi mereka seharusnya aku lebih banyak membaca buku pelajaran daripada novel. Tapi, berkat membaca novel yang lumayan tebal, keinginanku membaca buku pelajaran yang sempat malas-malasan menjadi lebih bersemangat lagi.
Semangat membaca buku


Aku menyadari walau novel hanya berupa karangan fiksi, tapi dari membaca novel aku bisa mendapatkan suatu pelajaran atau pesan moral yang tidak bisa kudapatkan di buku pelajaran sekolah. Seperti kisah Alif yang kubaca di buku trilogi Negeri 5 Menara yang banyak memberiku inspirasi dan kisahnya masih membakas dalam kehidupanku sampai saat ini.

Itulah jawaban yang menurutku mampu menjawab pertanyaankussendiri tentang "Mengapa Gemar Membaca Buku?"

Semoga kalian yang membaca kisah ini, bisa menemukan alasan kuat untuk gemar membaca. Jika sudah gemar membaca buku seperti yang kurasakan saat ini kalian bisa merasakan sebuah kenikmatan yang kadang bagiku sendiri kenikmatan itu sulit dijelaskan. Lalu, jika dalam sehari tiba-tiba kalian tidak membaca, maka kalian pun bisa merasa ada yang kurang atau hidup kalian terasa hampa.

Yuk, membaca buku! Jangan lupa baca buku, ya.